Dari Yogyakarta Menuju Solo dengan Kereta Api Prameks

Kalau bukan karena gagal mencicipi sarapan lebih pagi yang disebabkan oleh rombongan tamu hotel, mungkin aku tak perlu kesiangan tiba di Solo. Aku melirik jam di pergelangan tangan kananku. Tiga puluh menit lagi menjelang pukul tujuh pagi. Gelisah rasanya menanti giliran untuk menikmati sarapan di hotel. Entah mengapa hari ini Lime Restaurant dipadati oleh rombongan sejak pukul enam. Hingga tak tersisa lagi kursi untuk duduk.

Stasiun Yogyakarta

Baca juga : [Review] favehotel Malioboro Yogyakarta: Budget Hotel dengan Lokasi yang Strategis

Alih-alih menggerutu, aku coba sabar menunggu. Enggan kalau harus mencari sarapan lagi di luar. Beruntung tak lama kemudian rombongan tadi satu-persatu mulai meninggalkan tempat. Kini aku bisa makan dengan tenang.

Sadar hari mulai siang, usai sarapan aku bergegas menuju stasiun Tugu dengan menumpang taksi online. Semoga masih bisa mendapatkan tiket lebih cepat. Estimasiku dengan jarak tempuh yang dekat, dapat dipastikan dalam 10 menit aku akan tiba di sana.

Bila hendak menuju Solo, tiket kereta api tersedia di sisi stasiun Tugu yang melewati jalan Pasar Kembang. Ternyata sudah berubah, ya. Dahulu calon penumpang bisa membelinya di sisi depan dari stasiun. Begitu yang kuingat saat beberapa tahun lalu aku dan suami membeli tiket untuk tujuan Solo.

Karena akan berangkat secara go show, aku segera menghampiri loket pembelian tiket reguler kereta api Prameks. Napasku sedikit tersengal karena buru-buru turun dari mobil tadi. Dan apes, tiket untuk keberangkatan pukul 8 sudah ludes terjual! Loket penjualan yang buka 3 jam sebelum waktu keberangkatan menyebabkan tiket cepat habis. Laris manis bak kacang goreng.

Sudah kepalang tanggung, aku pun tetap memutuskan berangkat ke Solo pada hari itu. Dengan sisa kesabaran yang ada, aku berdiri mengantri di depan loket sampai memeroleh tiket.

Kereta api Prambanan Ekspres yang lebih dikenal dengan Prameks adalah layanan transportasi yang menghubungkan Kutoarjo, Yogyakarta, dan Solo Balapan. Dari Yogyakarta sendiri, kereta api tersebut dapat diakses melalui stasiun Tugu dan stasiun Lempuyangan.

Sejak tanggal 13 Juni 2016, tiketnya dapat dipesan mulai dari H-7 hari keberangkatan. Hal ini tentu memudahkan calon penumpang untuk merencanakan perjalanannya. Ia cukup memesan lewat loket reservasi pada jam layanan tertentu yakni mulai pukul 09.00 – 16.00 Wib. Caranya juga mudah, tinggal mengisi form pemesanan. Dan setiap pengantri dibatasi hanya boleh memesan maksimal 4 tiket saja.

Tiket kereta api Prameks

Kegelisahanku perlahan berkurang usai mengantongi tiket kereta api. Lega setelah tadi hampir senewen. Sembari menunggu waktu keberangkatan yang masih cukup lama, aku memilih untuk duduk dekat anak tangga.

Aku memerhatikan sekeliling. Walau bukan hari libur, stasiun Tugu tak pernah sepi. Ramai orang hilir-mudik sambil menenteng barang bawaan. Bahkan tak jarang aku menyaksikan pengunjung yang menggeret kopernya.

Moda transportasi antar kota yang murah seperti ini tentu menjadi dambaan bagi seluruh calon penumpang. Aku gemar naik kereta api untuk bepergian dari satu kota menuju kota berikutnya. Dahulu sewaktu masih kuliah di Bandung, aku cukup sering ke Yogyakarta maupun Jakarta menggunakan kereta api.

Salah satu alasan mengapa hingga kini kereta api menjadi alat transportasi yang dipilih tentu karena harga tiketnya yang ramah di kantong. Seperti perjalananku menuju Solo menggunakan Prameks ini. Cukup membayar sebesar Rp 8000 saja, aku akan tiba di kota tujuan lebih tepat waktu.

Check-in counter di stasiun Tugu

Jalur masuk menuju stasiun Tugu

Tak perlu terburu-buru untuk masuk ke dalam area tunggu stasiun Tugu. Khusus untuk kereta api Prameks, calon menumpang baru diizinkan masuk bila kereta api sebelumnya telah bertolak.

Kereta api ini hanya menggunakan satu jalur untuk keberangkatan. Dengan adanya peraturan tadi tentu menghindarkan kesalahan calon penumpang naik ke atas kereta yang tidak sesuai dengan jadwal yang sudah dipilih seperti tertera di tiket.

Sisi dalam stasiun kereta api

Menunggu di stasiun Tugu

Rasanya sudah cukup lama aku tidak menggunakan kereta api dalam beberapa waktu belakangan. Aku yang terbilang jarang bepergian ke pulau Jawa merindukan sensasi itu lagi. Perlahan rasa senang mulai merayapiku hingga tak sadar aku senyum-senyum sendiri. Bisa menginjakkan kaki lagi di salah satu stasiun kereta tersibuk di Jawa sudah membahagiakan. Ah, kangen sekali dengan suasana stasiun kereta api seperti ini!

Jalur 1 kereta api stasiun Tugu

Stasiun Tugu di kota Yogyakarta

Menaiki kereta api Prameks ekonomi AC mensyaratkan untuk sigap mencari kursi. Maklum saja, ini adalah kereta api tanpa nomor tempat duduk. Siapa cepat, dia dapat. Aku pun mulai bersiap di samping jalur 1 sambil menanti kereta berhenti dengan sempurna.

Kereta api Prameks menuju Solo

Para calon penumpang tergopoh-gopoh naik ke atas kereta api. Bahkan sebagian saling dorong demi mendapatkan tempat duduk. Mereka yang tak berhasil meraih kursi harus pasrah berdiri sambil bergelantung sepanjang 1 jam lebih perjalanan. Syukurnya, aku sukses menduduki bangku kereta di sisi lorong.

Terdengar aba-aba dan pluit keberangkatan. Kereta api mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun Tugu menuju stasiun Lempuyangan untuk mengambil penumpang. Saat ini saja kereta sudah terlihat penuh. Aku tak bisa membayangkan lagi bagaimana jika kereta api kembali disesaki penumpang dari stasiun berikutnya.

Bepergian antar kota sendirian cukup lama tak kulakoni. Kadang aku merasa ragu meninggalkan suami di Medan hanya untuk berlibur begini. Padahal tak pernah sekalipun ia mencegahku berjalan-jalan selama tujuannya jelas. Mungkin seperti ini rasanya ya, jika punya pasangan yang menanti di rumah. Seperti ada perasaan berat yang sulit dijelaskan.

Tak banyak yang kulakukan sepanjang perjalanan. Kondisi dalam kereta api yang cukup padat membuatku mengurungkan niat untuk memotret. Ribet sekali!

Kaca di samping kursi yang buram karena kotor membuat pandangan ke luar sedikit terhalang. Aku tak leluasa menyaksikan pemandangan dari balik jendela. Dan untuk membunuh waktu, sesekali aku melakukan percakapan lewat Whatsapp dengan seorang teman yang berdomisili di Solo. Sementara penumpang lain yang berada di dekatku tengah tidur nyenyak hingga tak mungkin diajak ngobrol.

Meski hanya kereta api kelas ekonomi, Prameks sudah mengalami peremajaan. Armadanya kini tampak lebih terawat dan baru. Pendingin udaranya bekerja cukup baik, meski tak bisa dibilang sempurna. Jarak antar tempat duduk pun lumayan lega. Setidaknya para penumpang bisa merasakan kenyamanan dengan biaya yang sangat terjangkau.

Memerhatikan tingkah laku para penumpang adalah bagian yang mengasyikkan saat berada dalam sebuah perjalanan. Seorang pria hampir separuh baya terlihat terus menelepon rekannya sejak kereta melewati stasiun Maguwo hingga Klaten. Entah apa yang diperbincangkannya. Ada pula seorang ibu yang tengah memangku anak balitanya sembari menyuapi makan.

Setelah melewati Klaten, aku harus bersiap-siap untuk turun di stasiun berikutnya. Perjalananku kali ini tidak berakhir di stasiun Solo Balapan, melainkan stasiun Purwosari di kota Solo. Penasaran juga penampakannya seperti apa, mengingat aku sudah pernah mampir ke stasiun Solo Balapan sebelumnya.

Tiba di stasiun Purwosari kota Solo

Sekitar pukul 11 siang kereta api berhenti di stasiun Purwosari dan menurunkan setengah dari penumpang. Aku yang masih asing dengan tempat ini mengikuti saja kemana banyak orang berjalan. Hari sudah semakin siang hingga aku seperti dikejar-kejar waktu.

Stasiun Purwosari yang terletak di jalan Slamet Riyadi kelurahan Purwosari, kecamatan Laweyan, merupakan stasiun berkategori kecil. Hanya kereta api tipe ekonomi yang berhenti di sana. Letaknya sangat strategis karena berada di jalan utama kota Solo. Stasiun ini dibangun pada tahun 1875 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan merupakan satu dari empat stasiun kereta api yang dimiliki kota Solo, yakni stasiun Solo Balapan, stasiun Solo Jebres, dan stasiun Solo Kota (Sangkrah).

Karena merupakan stasiun kereta api tertua di Solo, nuansa khas kolonial masih sangat kental walaupun pernah mengalami renovasi. Tiang-tiang kokoh dan beratap semi terbuka membuatnya terasa lega walau tak berukuran besar. Cukup nyaman dijadikan sebagai ruang tunggu saat menanti kedatangan kereta. Bangunan utamanya masih dipertahankan seperti bentuk asli, dimana pintu kayu dan jendela-jendela besar berwarna abu-abu menjadi ciri khas bangunan tempo dulu.

Stasiun Purwosari di Solo

Petunjuk angkutan lanjutan stasiun Purwosari

Berhenti di stasiun Purwosari Solo

Stasiun kereta api dapat menjadi tempat persinggahan maupun tanda berakhirnya sebuah perjalanan. Kenyataannya, sebuah pilihan tujuan telah menantiku. Seandainya saja waktu bisa dipaksa merangkak pelan, mungkin aku tak punya alasan untuk menyudahi perjalanan singkat kali ini.

Welcome to Surakarta!

Stasiun kereta api Purwosari

21 thoughts on “Dari Yogyakarta Menuju Solo dengan Kereta Api Prameks

  1. Duh, belum sempat naik prameks meski 3 bulan sekali ke Yogya. Kalau di Jawa memang kereta api paling nyaman, bebas macet /on time dan hemat. Btw, di Sumatera Utara kan juga ada kereta api ya? , waktu ke Medan (dari Kualanamu naik railink) saya sempat lihat kereta ke Pematang Siantar.

    Liked by 1 person

    • Wah kalau gitu harus coba naik Prameks kapan-kapan😀. Iya di Medan ada kereta api ke beberapa tujuan di Sumatera Utara. Yang terdekat ke Binjai, terjauh sampai ke Rantau Prapat. KA nya juga udah bagus dan nyaman.

      Liked by 1 person

  2. Prameks ini memang andalan para penglaju di kawasan Jogloarjo. Selain Tugu dan Lempuyangan, Prameks juga bisa dinaiki di Maguwo dan Wates. Mujur kamu dapet kereta yang merah, mbak. Kalo kereta kuning, AC-nya nggak sejuk (cuma kayak angin) terus tempat duduknya panjang berhadapan kayak commuter line.

    Kalau kondisi di dalam kereta riweuh, bisa mengambil foto dengan handphone. Lalu kalau aku akan mengambil foto kereta Prameksnya dari berbagai sisi. Misalnya sesaat sebelum naik (memperlihatkan para penumpang yang bersiap masuk) dan sesaat setelah tiba, jadi pas nyampe nggak buru-buru ngeluyur keluar 🙂

    Liked by 2 people

    • Iya kudengar juga ada perbedaan kalau beda warna gerbong, ya. Syukurlah aku dapet yang dingin😀. Aku ada ngambil foto sesaat sebelum naik, pas orang-orang pada antri. Sayang hasil jepretannya shake gitu, karena buru-buru. Yang pas mau keluar kereta memang ngga keburu motret😊.

      Liked by 2 people

  3. Aku yg suaminya org solo, malah blm Pernah ngerasain naik prameks mba :p. Pengeeen, tp biasanya kita naik Mobil kalo mau ke Jogja dr solo. Padahl Murah banget ternyata tiketnya yaaaa… Kalo sdg ga bawa anak, bolehlah aku coba. Tp kalo ada anak, kyknya tidak dulu, takut merekanya malah jd rewel di dalam -_-

    Liked by 1 person

    • Wah iya toh? Kudu coba sesekali, Mba Fan. Seru juga rebutan gitu hahaha😂. Bawa anak juga sebetulnya masih bisa, Mba. Kalau dapat tempat duduk siy aku rasa ngga akan rewel karena keretanya cukup nyaman buat anak. Dan kalau bisa naik dari stasiun Tugu aja. Kalau dari Lempuyangan pasti ngga kebagian kursi di kereta☺.

      Liked by 1 person

  4. aku belum pernah naik kereta api dari Jogja ke Solo, biasanya naik mobil atau naik kereta ( motor kalau di medan ) , tapi PT KAI sekarang sudah berbenah dan bisa diandalkan banget untuk transportasi nyaman dan tepat waktu #SahabatKAI

    Liked by 1 person

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s