Sabtu siang itu cuaca kota Medan sedang panas terik. Mengingat cuaca cepat berubah, aku bergegas memesan ojek online. Tak ingin terjebak macet jikalau hujan mendadak turun, maka aku langsung menuju The Obonk Steaks yang terletak di Jalan T.Amir Hamzah No.17-49, Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Medan.
Dari sejumlah pilihan tempat yang menawarkan menu makanan jenis steak, kali ini aku berniat mencicipi kembali steak bakar yang mengusung citarasa lokal.
Sebagai anak “lama” dan bagian dari generasi 90-an, nama The Obonk Steaks tentu sudah tak asing lagi di telingaku. Kalau tak salah ingat, dulu aku pernah menikmati steak ini di salah satu outlet mereka. Dan sekarang aku jadi penasaran seperti apa wajah baru The Obonk Steaks tersebut.
Di momen makan siang kali ini aku tidak sendirian karena ada sebagian teman Blogger Medan yang turut hadir. Selain menikmati menu steak bakar, ini jadi kesempatan untuk berkumpul dengan teman-teman.
Sekilas tentang The Obonk Steaks
The Obonk Steaks yang dikenal dengan nama The Obonk Steak & Ribs merupakan tempat makan steak asal Solo yang dirintis di Jogjakarta oleh Sugondo sejak tahun 1997.
Kepemilikan The Obonk Steaks Medan berada pada Jody Broto Suseno selaku anak kandung dari Sugondo, yang juga merupakan pemilik Waroeng Steak & Shake serta Bebek Goreng H.Slamet yang dikelola oleh manajemen Waroeng Group. Kini tempat ini sudah memiliki cabang di Jogjakarta dan Medan.
Mengapa memilih nama Obonk?
Ternyata kata Obonk diambil dari bahasa Jawa yakni “Kobong” yang artinya “terbakar”. Menarik idenya, ya.
Sang pemilik awalnya ingin menyasar konsumen dari kelas ekonomi menengah ke bawah ketika mendirikan tempat ini. Tujuannya agar konsumen dari kelas ekonomi tersebut bisa mengonsumsi steak dengan harga terjangkau.
Ini tentu jadi berita gembira bagi penikmat kuliner ketika steak masih dianggap sebagai menu makanan mewah yang menargetkan konsumen golongan ekonomi menengah ke atas di masa itu.
Dan karena menawarkan steak dengan harga bersahabat bagi kantong, The Obonk Steaks akhirnya dikenal sebagai steak “Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima”.
Seiring berjalannya waktu, kini The Obonk Steaks mulai fokus pada target konsumen dari golongan ekonomi menengah ke atas lewat penambahan menu masakan. Selain menyajikan steak daging lokal, terdapat pilihan steak dengan daging impor berkualitas.
Area Parkir Luas dan Ruang Makan yang Nyaman
Pengunjung tak perlu ragu membawa kendaraan jika ingin ke sini karena tersedia tempat parkir motor dan mobil yang luas. Kendaraan akan terjaga aman karena berada di area yang menyatu dengan restoran.
Selain citarasa masakan, daya tarik lain yang membuat pengunjung bersedia datang dan merasa betah adalah tersedianya area makan yang bersih dan nyaman.
Ketika pertama kali memasuki restoran, kesan bersih dan lega langsung terasa. Pilihan meja dan kursi yang didominasi warna hitam tampil senada dengan konsep resto yang minimalis dan kekinian.
Di salah satu bagian dinding dihiasi lukisan mural yang colorful menyajikan aksen menarik di area makan yang tak begitu luas. Secara umum ruangan ini jadi terlihat modern dan sangat catchy.
Menurutku ini merupakan elemen penting yang menjadi daya pikat saat pengunjung memasuki ruangan. Meski The Obonk Steaks sudah mewarnai dunia perkulineran Indonesia sejak tahun 1997, kini restoran pun tampil lebih stylish dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Area kasir berada di ruang yang sama cukup memudahkan pengunjung untuk melakukan transaksi pembayaran.
Di samping itu tersedia pula fasilitas ruang AC yang nyaman dengan aksen lantai menarik serta tampil lebih berani karena mengusung warna merah menyerupai warna pada logonya sendiri. Terdapat sofa berdesain klasik dengan warna coklat tua yang jadi pilihan tempat duduk super nyaman.
Meski tampil lebih semarak dari sisi warna, namun ruangan tersebut tetap memberikan kesan hangat menurutku. Dan kebetulan kali ini aku dan teman-teman akan bersantap di area ini.
Salah satu kelebihan tempat ini adalah tersedianya Musala (ruang salat) bagi pengunjung Muslim pria dan wanita yang berada di lantai 2. Area ibadah yang bersih sudah dilengkapi pendingin udara agar salat lebih nyaman.
Menengok Area Dapur Restoran
Menu yang nikmat tentu lahir lewat racikan tangan chef dari balik dapur. Beruntung aku berkesempatan menengok area dapur mungil nan bersih untuk menyaksikan aktivitas yang dilakukan para karyawan, mulai dari preparation, proses pembakaran steak, hingga penyajian di atas piring.
Sebagai informasi, daging steak The Obonk dibakar dengan arang pilihan sehingga citarasa dagingnya tetap juicy. Terhirup pula aroma khas yang sungguh menerbitkan selera dari daging yang dibakar tadi. Wah rasanya lambungku ikut meronta karena lapar. Hahaha.
Selain diolah dengan cara dibakar tadi, The Obonk juga mengolah steak dengan teknik Pan-Seared, yaitu teknik memasak yang berkaitan dengan mengontrol suhu dari minyak untuk menambahkan tekstur yang sempurna pada bahan makanan yang dimasak.
Mencicipi Hidangan Steak Bakar Legendaris
Meski menu utama berupa olahan steak, namun The Obonk juga menyajikan pilihan menu lain seperti menu nasi, menu tambahan (side dish), hingga aneka dessert dengan harga terjangkau. Seluruh menu tersebut sama sekali tidak mengorbankan rasa dan kualitas meski harganya ramah di kantong. Maka dari itu, tak perlu ragu mengajak anggota keluarga untuk bersantap di sana.
Aku mencicipi menu Ribs Steak berupa steak iga sapi daging lokal bertulang 150gr, ditambahkan saus spesial BBQ khas Obonk yang masih sama seperti dulu. Ini adalah menu andalan dari The Obonk Steaks! Sebagai pelengkap disertakan pula potato wedges dan mix vegetables.
Daging steak terasa empuk dan juicy dengan tingkat kematangan yang merata sempurna. Pemilihan daging yang baik dengan ketepatan waktu pengolahan membuat hasilnya jauh dari kesan overcooked. Saat memesan pengunjung bisa memilih tingkat kematangan yang diinginkan, ya.
Aku pribadi suka dengan daging steak yang diolah medium-well karena hampir seluruh bagian daging sudah matang dengan sempurna dan berwarna coklat gelap. Hanya sedikit sisi bagian dalam daging yang berwarna merah muda yang tetap lembut (tender) untuk dikunyah.
Tak ada kesulitan saat menyantap potongan daging rib karena mudah dilepas dari tulangnya. Ribs Steak (Rp 68.182) dimarinasi dengan baik sehingga citarasa bumbu meresap ke dalam daging. Singkat kata, aku suka sebab sesuai dengan ekspektasi dan selera!
Untuk minuman, aku mencoba Greentea Milkshake Special (Rp 27.273) yang tersaji dalam gelas berukuran sedang. Dan surprisingly tenyata diberi satu scoop greentea ice cream sebagai pelengkap sehingga rasanya lebih creamy. Tingkat manisnya pas dan tidak bikin eneg. Boleh dicoba!
Teman-teman yang lain mencicipi menu Sirloin Steak Lokal, Tenderloin Steak Lokal, dan Double Ribs, berikut dengan variasi pilihan minuman. Dari ekspresi yang terlihat, sepertinya mereka juga menikmati daging steak yang disajikan.



Ingat Obonk, Ingat Kenangan Dulu
Sejujurnya aku salut dengan The Obonk Steaks karena mampu bertahan hingga kini. Mempertahankan sebuah usaha bukan hal mudah kan? Tentu banyak sekali tantangan yang mereka hadapi, terutama saat pandemi melanda.
Pada akhirnya tempat makan ini berhasil eksis dan sudah mengalami sejumlah penyesuaian. Meski dari sisi tampilan bangunan tidak seperti Obonk yang dulu, namun harga dan rasa masih tetap sama.
Tempat makan steak favorit sejak tahun 90-an hingga 2000-an sudah berevolusi mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan ciri khas rasa, harga, maupun kualitasnya. Wajarlah sejak dahulu hingga kini tempat ini selalu jadi pilihan saat ingin menyantap menu steak bakar klasik.
Bila tetap konsisten dan otentik dari segi rasa, sembari terus memperbaharui kualitas pelayanannya, bukan tak mungkin tempat makan steak rasa bintang lima harga kaki lima tersebut menjadi top of mind bagi pelanggan setianya.
Pokoknya kalau ingat Obonk, ingat kenangan dulu. Setuju?
Nah, kapan kalian mampir ke The Obonk Steaks?
Aku selalu ingat motonya OBONK STEAK. Rasa bintang lima harga kaki lima. Jargon yg nancep banget diingatan. Dan mempertahankan bisnis dari 1997 tuh tentunya butuh profesionalitas yg gak main-main. Keren banget.
Foto-fotonya keren banget Mol. Duuhh subuh-subuh jadi mendadak pengen steak hihihi
LikeLiked by 1 person
Sanggup bertahan di segala kondisi dan masih eksis sampai sekarang tuh udah luar biasa banget ya, Yuk. Karena di bisnis kuliner sendiri kompetisinya lumayan sengit. Btw makasih Yuk Annieš… motoin makanan langsung dari venue penuh tantangan apalagi orangnya rameanš
LikeLike
Saya suka dengan interiornya. Menyenangkan melihat lukisan catchy yang menyenangkan mata.
LikeLike
Betul, interior cantiknya ikut menambah kenyamanan tempat. Yang makan pun jadi hepi yaš.
LikeLike
Belum pernah mampir ke The Obonk, tapi setelah lihat review ini kayaknya top mind steak ku jadi otomatis ke The Obonk. Bikin ngiler!
LikeLike
Karena ini juga steak legendaris, boleh banget langsung dicoba yaš. Rasanya mantap!
LikeLike
Obonk Steak emang gak pernah mengecewakan, rasanya enak dan harganya yang ga bikin deg degan untuk sekelas steak.
LikeLike
Setuju! Makan steak di sana ngga mengecewakan dari sisi rasa dan hargaš
LikeLike
wah ternyata ada juga di MEDAN, Original from Solo dan Jogja nih..dulu waktu awal awal buka cukup sering makan disini, tapi belum pernah kutulis hehehe..
LikeLike
Dulu di Medan pernah buka, lantas tutup, Mas. Lalu tahun lalu buka lagi dan langsung dipegang sama anaknya. Enak siy rasa steaknya, ya. Dan masih sama kayak dulu, ngga berubahš.
LikeLike
Ya ampuuuuun masih ada Yaa obonk? Aku ga pernah liat di daerah rumahku mba. Dulu ada, tapi tutup. Ga tau Yaa kalo daerah Jaksel. Aku jrg kesana.
Ini dulu tempat fav ku juga pas pacaran Ama yg sebelumnya šš. Dulu sering makan di Bintaro. Not bad lah, salut kalo mereka bisa survive di tengah gempuran resto steak kekinian.
Yg di Medan aku juga pernah coba. Tapi udh lama bangettt. Waktu itu ajakin adek2ku makan di sana. Kapan2 kalo mudik lagi, mau deh nyobain obonk š. Kangen juga ama rasanya
LikeLike