Tentang Perempuan yang Aku Panggil Mama

Hari ini aku mendapati seluruh linimasa media sosial dipenuhi oleh foto teman-teman bersama ibu mereka. Aku tersadar, ternyata ini adalah Hari Ibu. Tanggal 22 Desember memang selalu menjadi hari dimana semua anak mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa seorang ibu.

Tentang Perempuan yang Aku Panggil Mama

Kebahagiaan tersebut menjalar pada diriku. Aku senang melihat masih banyak diantara kita yang mengingat pengorbanan besar ibu mereka. Ekspresi yang tergambar dari setiap foto terasa begitu menyejukkan. Aku berujar dalam hati, betapa bahagianya jika Mama masih ada.

 

Mama bukanlah sembarang wanita. Di mataku ia adalah sosok yang sabar, telaten, dan selalu ingin membahagiakan keluarga. Pengorbanannya sudah tak terhitung lagi. Melahirkan ketiga anak perempuannya, mengasuh, merawat, membesarkan hingga mendidik agar menjadi manusia berbudi dan berakhlak.

“Kamu harus jadi contoh untuk adik-adik ya, Nak”.

 

Begitu selalu Mama berpesan. Sebagai anak sulung, aku tentu tak keberatan memenuhi permintaan itu. Sebuah tanggung jawab yang tak ringan memang. Tapi aku merasa tertantang untuk melakukan hal sulit tadi. Menjadi panutan untuk kedua adik perempuanku.

 

Ingatanku melayang saat Mama pertama kali mengantarkanku sekolah. Aku yakin pasti Mama sangat bangga waktu itu. Ia bahkan rela menunggui di luar kelas. Memastikan  aku tak merasa canggung dan kehilangan.

 

Momen itu sudah lama sekali berlalu. Tapi memory di kepala tak serta merta menghapus bagian yang indah tersebut.

 

Kata Mama, waktu kecil aku lincah bukan main. Aktif bergerak terus-menerus. Mama sampai kewalahan kalau sudah menyuruhku untuk makan. Soal itu, aku memang pemilih. Hanya beberapa jenis saja yang membuatku berselera.

“Mama sampai beli sepuluh kue jajanan pasar saking puyengnya. Biar aja kamu yang milih sendiri mau makan yang mana” ujarnya ketika kami duduk ngobrol berdua.

 

Aku tertawa lebar. Sambil membayangkan betapa merepotkannya aku. Dan Mama tak kenal lelah mengupayakan agar aku tetap makan.

 

Obrolan tadi juga sudah lama terjadi. Kalau sedang senggang, Mama tak pernah absen menceritakan ulahku yang bermacam-macam. Kebanyakan sih mengesalkannya. Hahaha… maaf ya, Ma.

Bersama Papa Mama

Salah satu kenangan yang sulit aku lupakan adalah bagaimana Mama dengan setia mengantarkanku mengikuti Lomba Karya Tulis Tingkat Sekolah Dasar. Ia senantiasa mendampingi saat aku berjuang. Mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Kotamadya. Mama bahkan ikut menemani saat aku harus mencari bahan tulisan di Perpustakaan Kota Medan.

 

Walaupun aku gagal melaju hingga tingkat nasional mewakili sekolah, Mama tetap menyemangati. Kalau saja waktu itu Mama mengomel, tidak bisa kubayangkan betapa terpuruknya aku. Ya, saat masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar aku sudah mengalami kegagalan yang pertama.

 

Semangat berkompetisi tidak pudar. Sepanjang tahun aku masih mengikuti beberapa perlombaan di sekolah. Dari mulai lomba memasak sampai cerdas cermat agama. Lagi-lagi Mama selalu ada memberikan dukungan.

 

Satu hal yang selalu membuatku bangga padanya adalah kemampuan bahasa Inggris Mama yang cukup baik. Ia mengajari dan membimbing kami semua. Tidak sekalipun aku pernah merasa kewalahan menyelesaikan tugas sekolah dalam bahasa Inggris. Orang tua lain belum tentu seperti itu. Setidaknya pada masaku dulu, orang tak banyak yang fasih berbahasa Inggris.

 

Mama memang seorang ibu rumah tangga. Waktu dan tenaga hanya didedikasikan untuk keluarga. Namun Mama tetap aktif berkegiatan di luar rumah dengan seizin Papa. Berorganisasi, mengikuti kegiatan sosial, juga beberapa perkumpulan arisan serta pengajian.

 

Ia bahkan pernah menjadi Ketua Women’s International Club Medan. Sebuah komunitas bergengsi yang menaungi para wanita dari berbagai suku bangsa. Hal itu membuat Mama tidak canggung berinteraksi dengan teman-temannya warga negara asing.

 

Di tengah kesibukan tadi, Mama tetap memperhatikan kami anak-anaknya. Selama puluhan tahun harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan keluarga. Siang dan malam hari pun makanan lezat sudah tersedia di atas meja makan.

 

Kadang-kadang aku berpikir, bagaimana caranya Mama bisa setangguh itu. Pertanyaan itu akhirnya terjawab sendiri ketika aku mulai beranjak dewasa. Apapun yang dilakukan, selama kita ikhlas pasti akan terasa lebih ringan. Dan Mama melakukan semua tadi dengan penuh cinta.

Bersama Mama

Masa-masa sulit pernah kualami ketika aku harus masuk ruang operasi sewaktu kuliah di Bandung. Teman-teman kost yang baik hati mengantarkan aku ke Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Kata dokter, usus buntu itu harus segera dioperasi. Aku bingung sebab Mama tinggal jauh di Medan. Akhirnya lewat panggilan telepon, izin untuk melakukan operasi diperoleh dari Mama nun jauh di sana. Aku pasrah.

 

Setelah operasi selesai dan efek bius mulai hilang perlahan, aku baru tau kalau Mama memutuskan untuk langsung terbang ke Jakarta. Waktu itu belum ada penerbangan langsung ke Bandung. Mama berangkat seorang diri, lalu dari Jakarta menuju ke Bogor untuk sekaligus mengajak adikku yang tengah kuliah di sana supaya ikut bersama-sama ke Bandung. Dengan menumpang mobil sewa minivan mereka tiba di rumah sakit hampir tengah malam!

 

Kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali. Beberapa tahun kemudian aku kembali masuk rumah sakit karena terserang thypus. Mama lagi-lagi datang sendirian ke Bandung untuk menjagaku di rumah sakit. Memasakkan makanan khusus agar aku lekas pulih sewaktu tiba di rumah kost.

***

Ya Allah, Engkau sudah mengirimkan seorang ibu terbaik untuk hidupku. Perempuan yang aku panggil Mama. Orang yang seolah kuat namun terkadang juga rapuh. Sangat manusiawi. Sebab ia tetaplah manusia biasa.

 

Aku bahagia karena Mama tetap ada untuk kami hingga ketiga anak perempuannya memasuki jenjang pernikahan. Cucu-cucu lucu yang lahir ke dunia turut mewarnai kehidupannya. Membuat Mama merasa senantiasa dibutuhkan.

 

Kini usiaku sudah lebih dari empat puluh tahun. Tak terhitung lagi sudah berapa banyak hal-hal indah yang kami lewati bersama. Pasang-surut hubungan antara ibu dan anak sudah aku rasakan. Kadang kesal, kadang marah, tapi tetap cinta.

 

Di saat orang lain menghujani linimasa dengan ungkapan sayang mereka, aku terduduk di dekat jendela kamarku. Rasa ingin memeluk sesuatu yang sudah tak berwujud lagi. Mama cantikku telah menghadap Sang Kuasa pada tanggal 23 Oktober 2015 silam. Meninggalkan kenangan manis di dalam hati.

 

Aku terisak. Rinduku membuncah. Sosok Mama tidak lagi bisa kudekap nyata. Andai saja waktu masih memberikan kesempatan, aku pasti akan berupaya lebih untuk membahagiakannya. Memohon maaf dari lubuk hati terdalam. Walau aku tau Mama pasti sudah memaafkan segala khilaf yang pernah aku lakukan.

 

Selamat Hari Ibu untuk Mama, perempuan terhebatku. Terima kasih untuk kasih sayang tulusmu. Aku tentu tak mampu membalasnya sampai kapan pun. Semoga doa yang kami panjatkan bisa menyejukkan dan meringankan langkahmu kelak.

 

Aku menyeka air mata yang jatuh mengalir. Biarlah aku menikmati kerinduan ini seraya bernostalgia dengan semua kenangan yang mampir di kepala. Al Fatihah untuk Mama.

Happy Mother`s Day

 

33 thoughts on “Tentang Perempuan yang Aku Panggil Mama

  1. Gak mau komen sedih-sedih ah aku haha. Mbak Molly, aku salfok dengan bonekanya. Mirip punya kakakku dulu, dan aku takut banget ngeliatnya. Serasa matanya ikut bergerak memandang ke arahku hahaha

    Like

    • Hehehe… hayuk ah, jangan sedih-sedihan😊. Itu boneka kesayanganku, Kak Yan. Model kayak gitu sepertinya memang hits di zamannya, ya. Hahahaha😂. Buktinya beberapa temen juga punya, termasuk kalian, kan😉.

      Like

    • Waktu Mama muda barangkali mirip ya, Mba April. Soalnya lama-lama adikku yang bungsu malah lebih mirip sama beliau😀. Huaaaa kita berarti anak TK yang selalu ditungguin Mama, ya. Toss!😀

      Like

  2. Wahhh dari kecil tingkat SD saja dirimu sudah ikutan lomba nulis mbak. Duhhh emang ya bakat terpendam yang juga terasah karena sosok mama. Semoga sehat terus ya mbak kita sebagai mama buat anak-anak hehe. Dan almh mamanya diterima amal ibadahnya didoakan saja yang banyak mbak. Karena biar beliau sudah ga ada tapi memory tentang kebaikan dan pengajarannya akan selalu nempel kan ya di benak.

    Like

    • Hihi iya dulu pas kecil aku pernah ikut lomba mengarang😊. Hobi yang berlanjut ternyata sekarang. Aamiin buat doanya ya, Mba. Semua kenangan tentang sosok Mama ngga akan pernah hilang dari ingatan.

      Like

    • Selamat Hari Ibu juga, Mba Lia. Sebagai anak kita pasti banyak mengadopsi hal-hal baik yang Mama kita lakukan dulu. Karena beliau jadi role model pertama kita, ya☺

      Like

  3. Blog keren seperti ini dengan tulisan yang penuh manfaat adalah modal utama dalam berbisnis online, tidak ada salahnya untuk mencoba bu…, sekedar saran setelah baca2 postingan. kunjungan baliknya saya nantikan yes bu 🙂

    Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s