Berinvestasi pada Diri Sendiri untuk Mengembangkan Potensi

Setiap orang pasti pernah merasa bingung menyebutkan alasannya melakukan sesuatu. Aktivitas yang dikerjakan seolah tak jelas mengacu pada hal apa. Alih-alih menemukan tujuan, kita malah mengizinkan orang lain menentukan tujuan hidup kita. Membuat cara pandang kita lebih banyak karena faktor ikut-ikutan dan cenderung menjalankan apa yang teman-teman lakukan.

Berinvestasi pada diri untuk pengembangan potensi

Pertanyaan besarnya, apa memang hal itu yang betul-betul merupakan tujuan? Apakah kita benar-benar menginginkan dan tidak sekadar jadi pengikut?

Melihat orang lain mendulang sukses, seringkali kita langsung meng-copy dan melakukan hal yang sama. Kita mengkamuflasekan diri sendiri dan berakibat kehilangan jati diri. Padahal setiap orang punya jalan sukses yang berbeda-beda.

Kita semestinya mengerti apa yang jadi panggilan hidup, pola hidup, dan memahami perilaku orang lain. Bukan langsung meniru begitu saja, toh?

Apa alasannya?

Sebab tiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Setiap orang punya visi dan mimpinya sendiri. Dan setiap orang adalah individu unik!

Menentukan tujuan sebetulnya bisa memudahkan untuk mengetahui alokasi tenaga dan pikiran mau diarahkan kemana. Kita juga tau cara mencapainya lewat rancangan perjuangan.

Sebelum melangkah lebih jauh, pemahaman kita akan purpose of life menjadi penting untuk menjalani tujuan yang lebih besar.

Misalnya nih, kita mau jadi content creator kredibel yang dikenal lewat konten-konten inspiratif. Atau ingin menjadi public speaker yang andal dan disenangi banyak orang.

Maka dengan lebih dulu mengetahui purpose tadi, kita akan tau tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mencapai impian tersebut. Artinya, apapun bidang yang ditekuni, kita wajib tau tujuan kita mau kemana.

Sejak pandemi Covid-19 merebak dan adanya anjuran untuk tetap berada di rumah, membuat sebagian orang harus beradaptasi dengan aktivitas baru.

Aku memaknai ini sebagai sebuah kesempatan untuk menengok lagi rutinitas lama, menetapkan kebiasaan baru, dan bagaimana aku akan menginvestasikan waktu dan energi di bulan-bulan mendatang.

Caranya adalah dengan berinvestasi pada diri sendiri!

Tahap-tahap Berinvestasi pada Diri Sendiri

1). Mulailah dari “Why”(mengapa)

Pertanyaan itu akan mendasari alasan untuk kita bertindak. Sebab kita akan melakukan hal-hal untuk menjawab kegelisahan atau sesuatu yang ingin diselesaikan.

Saat memulai ngeblog dulu, tujuanku adalah membuat tabungan kenangan digital yang bisa diakses dari mana saja dan tidak tergerus zaman. Aku khawatir bila foto-foto milikku lenyap bila tidak tersimpan baik.

Karena aku tidak mau kehilangan momen berharga dalam perjalanan hidup yang sudah dilalui, maka aku rutin mengisi laman blog dengan hal-hal yang ingin aku kenang. Salah satunya adalah kisah perjalananku bersama pasangan.

Bermula dari keinginan sederhana tadi ternyata ngeblog jadi berkembang dan membuka banyak peluang baik. Maka aku pun mulai merancang rencana lain untuk mencapai tujuan baru yang lebih besar.

Menemukan WHY

Dan seiring waktu aku berharap itu akan makin mendekatkan dengan tujuan utama yang masih aku simpan di kepala. Satu impian yang ngga ingin aku umbar sebelum benar-benar terwujud. Biarlah hal itu aku simpan saja sebagai pengingat diri.

2). Cari tau kekuatan dan kelemahan diri

Cara untuk mengetahui apa kekuatan sekaligus kelemahan diri kita adalah dengan melakukan refleksi diri terhadap apa penyebab keberhasilan ataupun kegagalan.

Terkadang kita enggan mengakui kelemahan sehingga jadi terlalu percaya diri. Atau bahkan terlalu menyepelekan kemampuan diri. Ya, sesuatu yang sifatnya terlalu tentu tidak baik, kan. Maka kita perlu jujur berdialog dengan diri untuk mengenali kelebihan serta kekurangan kita tadi.

Cari tau kelemahan dan kekuatan diri

Aku coba merenungkan setiap bidang kehidupan selama setahun terakhir. Entah itu tentang pekerjaan, sosial, intelektual, spiritual, dan lain-lain. Apa sih yang paling aku banggakan di setiap bidang tadi?

Awalnya memang sulit menemukan poin-poin unggulan itu, tapi lewat cara ini aku jadi menghargai diri sendiri dengan lebih baik. Selanjutnya, aku coba untuk memilah area mana saja yang butuh energi dan perhatian agar aku bisa maksimal bertumbuh. Ini benar-benar disortir supaya aku tidak rakus dan bernafsu mengerjakan semua hal. Nanti kehabisan energi karena fokusnya jadi teralihkan, loh!

3). Putuskan apa yang ingin diubah/diperbaiki

Kita mungkin sering melakukan kebiasaan buruk yang berakibat kurang efektifnya waktu setiap hari. Misalnya terlalu sering scrolling media sosial. Atau tidak membuat prioritas yang membuat kita kewalahan sendiri menyelesaikan beberapa pekerjaan. Akhirnya otak jadi mumet, badan juga lelah. Imbasnya, mood ikut berantakan.

Kadang-kadang aku juga kesulitan menaati jadwal yang sudah kubuat sendiri. Ada saja distraksi yang muncul. Belum lagi sesekali kondisi badan kurang fit sehingga terpaksa menunda sebagian pekerjaan.

Pertama-tama aku coba menuliskan hal apa saja yang mau kuubah, mulai dari mindset sampai dengan kebiasaan, berkaca pada apa yang sudah dilakukan pada periode tertentu (misalnya satu tahun terakhir).

Tulis kekurangan dan kelebihan diri

Lalu aku analisa satu persatu supaya tau dimana letak kekurangannya. Baru sesudahnya membuat rencana baru untuk perbaikan. Evaluasi ini idealnya dilakukan setiap tiga bulan sekali, ya.

4). Belajar sesuatu yang relevan

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Selama kita punya niat dan tekad untuk berkembang, kita bisa memilih bidang mana saja yang relevan untuk dipelajari.

Misalnya ingin menjadi content creator yang keren, maka kita wajib memelajari teknik penulisan konten, copywriting, ketrampilan fotografi, membuat video sederhana, ilmu digital marketing, media sosial, public speaking, personal branding, dan seluk-beluk bisnis dunia kreatif.

Belajar sesuatu yang relevan

Selain harus juga punya keunikan dan nilai tambah (added value), menurutku bidang tersebut jadi amunisi penting untuk melancarkan perjalanan karir sebagai content creator di era digital.

Belajarnya harus sekaligus? Tidak. Tapi bertahap sesuai dengan prioritas mana yang paling berdampak bagi profesi utama kita. Sisanya bisa menyusul dipelajari.

5). Temukan mentor dan berjejaring di lingkungan positif

Berada di kondisi dengan positive vibes akan mendorong kita mengembangkan diri. Sesekali kita perlu melakukan brainstorming dan berjejaring dengan orang-orang yang meng-influence kita. Jangan ragu untuk berdiskusi ringan dengan sosok penting yang kita jadikan mentor tadi.

Lewat mereka barangkali kita bisa menemukan jaringan pertemanan baru. Tapi jangan lupa untuk punya skill dan value terlebih dahulu agar bisa melakukan substitusi tadi. Ibaratnya, kita punya keahlian dan mereka punya penawaran/pasarnya.

Maka kita perlu mendapat environment yang membuka kesempatan kita berjejaring. Dengan begitu cara pandang dan perspektif kita akan lebih luas hingga mendorong peningkatan produktivitas.

Berjejaring untuk meningkatkan produktivitas

Perlu diingat bahwa tak ada orang yang mau mereferensikan atau menawari pekerjaan kalau kita dianggapnya tak cukup kredibel, toh? Selain menjaga sikap profesional, soal attitude juga sangat penting di zaman sekarang. Ini terkait reputasi juga bagi kita yang memahami.

Selama ini aku memegang prinsip bahwa menjalin pertemanan yang tulus adalah kunci dari segalanya. Berteman bukan berharap dapat keuntungan apapun. Kalau niat awal sudah mencari friends with benefit, tentu lama-lama orang akan jaga jarak dengan kita. Sikap begitu biasanya tidak berlaku untuk pertemanan jangka panjang. Dan perjalanan karir kita satu saat akan mentok.

Pernah merasa didekati oleh orang dengan misi friends with benefit, Mol? Pernah banget! Ngga perlu dimusuhi, digibahin aja… eh maksudnya dijauhi pelan-pelan gitu. Hahaha.

***

Menurutku, berinvestasi pada diri sendiri mutlak dilakukan bila kita ingin sukses dan bertahan di tengah persaingan. Jangan lekas puas sebab investasi ilmu penting dilakukan secara berkala. Skill yang kita punya juga hanya bisa scale-up jika lingkungan mendukung untuk bertumbuh, kan?

Maka dari itu tugas kita adalah mencari dan menciptakan iklim agar bisa terus mengasah potensi menjadi sebuah kompetensi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Setelahnya kita bisa melakukan positioning yang tepat lewat value yang kita punya, hasil dari proses belajar dan mengelola kapabilitas tersebut.

Mengapa?

Karena bagaimanapun juga khalayak butuh pembuktian, salah satunya achievement. Oleh karena itu tugas kita adalah memaksimalkan potensi supaya punya legacy sebagai bukti nyata bahwa apa yang kita kerjakan memang baik hasilnya.

Proses panjang memang harus dilalui. Begitu pula aku yang sampai hari ini masih belajar mengasah dan memperbaiki diri.

Ingatlah untuk selalu menyenangi hal-hal yang ditekuni, lakukan dengan ikhlas, sabar menikmati proses, dan tidak lupa berbagi ilmu tanpa syarat.

Yuk kita refleksi kembali apakah yang kita kerjakan saat ini sudah selaras dengan prioritas dan tujuan kita. Berfokus pada kekuatan sambil tak lupa melakukan diversifikasi yang akan menopang kokoh kekuatannya.

Oya, kalau teman-teman punya ide menarik terkait produktivitas, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar, ya. Mudah-mudahan nanti kita bisa diskusi bareng.

Tahap-tahap meningkatkan potensi diri

12 thoughts on “Berinvestasi pada Diri Sendiri untuk Mengembangkan Potensi

    • Bagus tuh, Kyo. Jadi rajin ngeblog lagi kan. Aku juga lagi usahain😄. Btw asiknya yang nyoba-nyoba menu baru. Masih buka open order ngga? Tempo hari mau pesen ngga jadi mulu😊.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s