Jalan-jalan ke Tanah Karo, Sumatera Utara

Pada hari Sabtu pagi yang lalu aku dan suami siap-siap untuk berwisata ke Tanah Karo. Tak ada persiapan khusus sebab kami tak merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Walau cuaca pada pagi itu sedikit mendung namun tak menyurutkan semangat kami untuk menuju ke Brastagi, Tanah Karo. Tepat pukul 7 pagi mobilpun meluncur setelah kami sempat menikmati sarapan pagi.

Pemandangan dari Penatapan

Setelah melewati gapura Selamat Datang di Tanah Karo, tibalah kami di Penatapan. Terlihat deretan warung disepanjang jalan, rata-rata menjual jagung rebus/bakar, mie rebus/goreng serta teh dan kopi untuk sekedar menghangatkan tubuh di tengah udara yang mulai terasa dingin sambil duduk-duduk menikmati pemandangan alam yang indah di tengah kabut tipis yang menyelimuti. Di kejauhan sesekali terlihat kera yang bergelantungan di pohon.

Tampak seekor kera sedang duduk diatas pohon

Dari Penatapan ini kita bisa menyaksikan pemandangan Bukit Barisan yang membentang hijau. Apabila cuaca sedang cerah, pemandangan kota Medan pun bisa terlihat dari sini. 

Walaupun dari Medan kami sudah sarapan, di tengah udara yang sejuk seperti ini perutpun mulai terasa lapar. Aku memesan sepiring mie goreng dan segelas teh manis panas. Suamiku memesan segelas kopi beserta jagung rebus.  Tak lama setelah menikmati makanan tadi, kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Brastagi. Di tengah perjalanan, Rudi Hartoyo teman blogger-ku mengingatkan via media sosial untuk mengunjungi air terjun Sikulikap yang terletak tak jauh dari gapura tadi. Namun karena mengingat kami akan mampir lagi di beberapa tempat, membuat kami tak bisa menuju ke lokasi air terjun tersebut pada kesempatan kali ini. 

“Makasih infonya ya Rud, moga-moga lain waktu bisa mampir kesana”.

Deretan jagung bakar
Mie Goreng dan Teh Manis Panas

Setelah sampai di Brastagi, terlihat rumah makan disisi kanan jalan. Tempat ini menjadi tempat persinggahan orang sambil menikmati makanan ringan yang tersedia. Wajik disini cukup terkenal, bahkan tak jarang wisatawan membawa pulang wajik sebagai oleh-oleh. Akupun lantas memesannya dalam porsi kecil beserta kue-kue lainnya, berikut dengan jus markisa yang segar. Usai menikmati makanan tadi, kamipun kembali melanjutkan perjalanan.

Wajik, kue-kue dan jus markisa

Memasuki pusat kota, kali ini kami tak singgah di pasar buah seperti biasanya, namun mobil terus melaju ke Taman Alam Lumbini yang terletak di Desa Tongkoh, Brastagi. Sebagai patokan, tepat di simpang Tongkoh terdapat tugu buah jeruk di pertigaan jalan disertai tanda petunjuk menuju lokasi yang cukup dekat dari pertigaan tadi. Sepanjang jalan menuju lokasi kita pun akan menemui beberapa kebun strowberi.

Taman Alam Lumbini memiliki pagoda berwarna emas yang merupakan pagoda tertinggi di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia). Berada di kompleks seluas 3 (tiga) hektar, pagoda ini merupakan replika dari pagoda Shwedagon yang ada di Myanmar. Dikelilingi oleh taman yang indah dan terawat, membuat tempat ini terlihat asri. Pengunjung yang tidak melakukan peribadahan juga diizinkan masuk kedalam asalkan mengikuti tata tertib yang berlaku.

Taman yang mengelilingi area pagoda

Pengunjung sedang beribadah

Setelah puas melihat-lihat Taman Alam Lumbini, aku dan suami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju kecamatan Merek. Awan gelap menyelimuti langit sepanjang perjalanan, pasti sebentar lagi akan turun hujan. Kami menyempatkan berhenti di tepi jalan sambil memotret kebun tomat yang kebetulan dilewati.

Kebun tomat
Buah tomat

Sesaat sebelum memasuki gapura di kecamatan Merek kabupaten Karo, kami juga menyempatkan memotret panorama Danau Toba dari tempat ini. Hujan mulai turun rintik-rintik membuat kami tak berlama-lama berada di sana. Seandainya saja cuaca saat itu cerah, tentunya hasil foto-foto disana akan lebih indah.

Danau Toba

Setelah melewati gapura di Merek dan membayar tanda masuk, mobilpun menyusuri jalan kecil berkelok-kelok menuruni bukit hingga tiba di desaTongging. Saat itulah hujan turun dengan cukup deras, kamipun mampir di salah satu restoran di Tongging untuk menikmati makan siang. Desa Tongging yang terletak sekitar 42 km dari kota Brastagi ini dikenal karena keindahan panorama kawasan Danau Toba.

Desa Tongging di kejauhan
Jalan berliku menuju Tongging
Restoran yang terletak di tepi Danau Toba

Usai menyantap makan siang di desa Tongging, kamipun kembali menyusuri jalan kecil tadi menuju ke atas bukit hingga sampai di lokasi Air Terjun Sipiso-Piso yang berada tak jauh dari tepi Danau Toba bagian Utara dengan ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi bukit hutan pinus. Ketinggian air terjun ini berkisar 120 meter dan merupakan air terjun tertinggi di Indonesia. Dinamai Sipiso-Piso karena bentuknya menyerupai pisau yang sangat tajam. Terlihat juga ratusan anak tangga kecil yang memang disediakan untuk mendekati air terjun tersebut. Namun diperlukan stamina yang sangat baik untuk dapat menuruni anak tangga tersebut sekaligus kembali lagi ke atas.

Air Terjun Sipiso-Piso
Full color gara-gara hujan !

Untuk menghangatkan badan, kami berdua duduk-duduk di kedai kopi yang berada di lokasi. Sambil menikmati hujan, teh hangat dan cake pisang cukuplah menemani di sore itu. Sekitar pukul 5 sore kami beranjak dari sana dan kembali ke Medan. Sepanjang perjalanan hujan nyaris tak berhenti walaupun tak terlalu deras. Usai sudah jalan-jalan hari ini, hati tetap senang meskipun cuaca sedang tak bersahabat.

Perjalanan kembali ke Medan

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s