Oleh-oleh Yang Tak Sampai

Oleh-oleh Yang Tak Sampai — “Ma… tolong bikinin sambal teri kacang dan rendang untuk kami bawa ya?”, pintaku ke mama.

Tepat beberapa hari menjelang rencana kepergianku dan suami untuk berlibur ke China, aku minta tolong agar mama membuatkan dua jenis masakan yang bisa kami bawa sebagai bekal persiapan sarapan selama 10 hari. Sejujurnya, saat traveling kemanapun aku tak pernah membawa bekal makanan dari Indonesia, apalagi sampai khusus meminta mama untuk membuatkannya.

Senja di China
Senja di China

Entah kenapa, setelah bolak balik mikir akhirnya aku memutuskan untuk membawa beberapa bahan makanan (beras yang sudah dibungkus dalam plastik kecil-kecil dan 6 cup mie instan mini) plus mini rice cooker (yang biasa dipakai orang untuk traveling). Alasannya sederhana, mengingat di China tak begitu mudah mencari makanan halal maka daripada pagi-pagi harus repot keliling-keliling nyari sarapan halal mendingan siapkan sendiri aja di hotel supaya hemat waktu. Jadi rencananya khusus untuk pagi aku mau masak nasi dan makan dengan lauk yang dibawa dari Medan (rendang dan sambal teri kacang). Kalau makan siang dan malam masih bisa dicari tempatnya.

Selama berada di China, aku dan suami selalu sarapan nasi terlebih dahulu sebelum keluar dari hotel. Mau sedikit repot membawa peralatan dan bahan makanan tadi memang diluar kebiasaanku. Entah apa yang mendorongku untuk meminta mama membuatkannya. Toh mama juga menyanggupinya.

Perjalanan liburan kami berdua ke Beijing dan Xi`an nyaris tanpa kendala yang berarti. Semua terasa sangat menyenangkan. Merancang perjalanan sendiri mulai dari membeli tiket pesawat, memesan kamar hotel hingga menyusun itinerary aku lakukan sendiri atas kesepakatan kami bersama. Walau mungkin tak banyak orang Indonesia yang menjadikannya sebagai negara tujuan wisata favorit seperti halnya Hong Kong, Korea dan Jepang, namun bagi kami berdua China memiliki tantangan tersendiri. Itulah sebabnya aku dan suami memutuskan untuk berangkat secara mandiri alias tidak menggunakan jasa tour and travel.

Usai menikmati liburan selama 10 hari di dua kota itu, kamipun tiba kembali di Medan pada tanggal 22 Oktober 2015 sekitar jam 15.00 Wib. Tak ada yang berbeda, hanya saja selama berada di China aku kerapkali mengirimkan sms atau whatsapp ke papa sekedar memberitahukan kabar maupun rencana perjalanan kami. Bahkan di hari kepulangan kami ke Medan, papa sempat menawarkan diri untuk menjemput kami di bandara Kuala Namu. Namun mengingat barang bawaan kami cukup banyak akhirnya aku menolak secara halus tawaran itu dengan alasan koper-koper itu gak akan muat masuk ke dalam mobil. Biasanya papa, mama dan keponakanku Diqa selalu menjemput kami.

“Jam berapa nanti tiba di Kuala Namu, biar kami jemput?”, papa mengirimkan sms saat aku tiba di Kuala Lumpur.

“Kami gak usah dijemput pa… gak muat mobilnya ada 3 koper. Nanti kami pulang naik taxi aja”, aku membalas smsnya.

“Wah kopernya bertambah ya? Kenapa di mobil gak muat?”, tanya papa lagi.

“Kami naik AA QZ 123 tiba di Kuala Namu jam 3 sore. Gak papa gak usah dijemput pa… payah kali koper besar-besar dan berat bingung mau tarok dimana. Kami pulang sendiri aja langsung ke sei padang”, aku menerangkan lewat sms.

Begitulah akhirnya hingga aku masih sempat mengirimkan sms terakhir sesaat sebelum pesawat take off. Sekitar jam 15.00 Wib kami sudah mendarat di Kuala Namu dan langsung menggunakan mobil sewa Toyota Avanza menuju ke rumah orang tuaku.

Setibanya disana, hanya ada papa dan Diqa di rumah. Menurut papa, mama sedang keluar untuk pergi mengaji. Agak kecewa sebetulnya karena gak ketemu sama mama, tapi besok aku tetap berencana akan ke rumah orang tuaku lagi. Sore itu aku, suami, dan papa duduk di teras depan rumah sambil menceritakan pengalaman kami selama berada di Beijing dan Xi`an.

Papa sangat antusias menanyakan banyak hal. Beliau sudah cukup banyak traveling kemana-mana sejak masih muda. Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan beberapa negara lain sudah pernah ia kunjungi. Itulah sebabnya ia selalu antusias bila kami berencana untuk traveling kemanapun. Sementara keponakanku Diqa duduk manis di sampingku sambil melihat beberapa foto perjalanan kami di smartphone-ku.Tak lama kemudian adikku pulang dari kantor, dan saat azan maghrib berkumandang kamipun masuk ke dalam rumah.

Papa mama di Paris
Papa dan mama berlibur ke Paris sewaktu aku masih SMP
Papa mama di Titlis
Honeymoon berdua tanpa membawa kami anak-anaknya

Waktu hampir menunjukkan jam 7 malam, namun mama belum juga pulang. Papa bolak balik menelpon handphone mama tapi tak berhasil dihubungi. Tumben handphone mama sampai lowbatt dan mati tapi mama gak menghubungiku samasekali. Sambil menunggu, aku, suamiku dan papa sempat makan malam bersama di rumah. Kebetulan mama spesial masak ikan tongkol khas Aceh. Usai makan, akupun pamit ke papa.

“Pa… kami pulang dulu ya, besok kami kesini lagi”, ujarku sambil aku melihat ke arah papa yang duduk di dapur dan menonton tv.

“Oh.. ya.. ya…”, papa menjawab singkat.

Keesokan harinya, Jum`at tanggal 23 Oktober 2015 sekitar jam 10.30 pagi mama menelponku. Suaranya terdengar biasa, tidak terlalu ceria tapi juga tidak terdengar sedih. Pembicaraan kami di telpon hanya membicarakan ulah kucing-kucingku yang berjumlah 7 ekor yang aku titipkan di rumah mama saat berangkat ke China.

“Nanti rencananya Icha juga mau datang ke rumah, sekalian makan siang karena Dedi pagi-pagi udah berangkat ke Aceh”, mama menjelaskan di telpon.

“Oh iya ma… kami pasti kesana juga hari ini sekalian mau ngasih oleh-oleh, tapi sehabis sholat Jum`at aja ya… nanggung. Ini abang juga ada di rumah karena masih cuti”, ujarku.

“Oh ya udah… nanti datang aja ya…”, kata mama.

“Iya ma… nanti siang ya… dadaaaaahh “, sambil aku menutup pembicaraan di telpon.

Semua terasa biasa saja. Sekitar jam 13.20 Wib tiba-tiba sebuah panggilan telpon membuat aku dan suami terhenyak ! Adikku menelpon ke handphone suamiku sambil menangis.

“Bang… cepat datang ke Sei Padang, rumah kayaknya dirampok!”, jeritnya panik di telpon.

Kami berdua terkejut sampai tak bisa berkata-kata lagi dan langsung menuju ke rumah papa. Di perjalanan aku masih menduga-duga apa yang terjadi, hingga akhirnya adikku menelpon handphone suamiku kembali dan entah berkata apa hingga suamiku langsung shock dan tangannya bergetar saat menyetir mobil. Ya Allah… ada apa ini???

Jam 2 siang kami tiba disana, orang sudah ramai berkerumun, beberapa orang polisi tampak ada disana. Aku langsung berlari ke arah rumah dan menerobos kerumunan. Di pekarangan depan, adik bungsuku Icha memelukku erat dengan wajah stress.

“Kalau lu gak kuat, gak usah lihat yah”, ia setengah berbisik di telingaku.

“Yaaaa Allah… “, aku menangis panik hingga nyaris terjatuh.

Akhirnya aku dituntun oleh suami dan Icha menuju ke arah dapur. Pemandangan yang tak pernah ada dalam pikiranku kini harus aku saksikan. Kedua orang tuaku tercinta dan keponakanku Diqa yang masih berusia 7 tahun ditemukan sudah terbaring tak bernyawa. Diqa adalah anak satu-satunya dari adikku Erika yang ikut menjadi korban.

“Astaghfirullahaladziiim… ya Allah !!”, tangisku tumpah sejadi-jadinya.

Semua persendianku terasa lemas, aku terjatuh dan sempat ditahan oleh suamiku. Tanganku bergetar dan otakku seketika blank ! Siapa yang begitu tega berbuat ini kepada orang tua dan keponakanku??

Entahlah… hari itu seolah menjadi sebuah mimpi buruk dalam hidupku. Aku tak pernah menyangka bahwa kemarin adalah saat terakhir aku masih melihat papa dan Diqa di rumah ini. Seketika aku merasa sangaaaaatt menyesal tatkala mengingat pesanku agar papa tak usah menjemput kami di bandara. Bukan apa-apa, pagi sebelum peristiwa itu terjadi, mama sempat mengatakan di telpon bahwa sewaktu akhirnya mereka bertiga tak jadi menjemputku di bandara, mama memutuskan untuk pergi mengaji saja sore harinya. Ya Allah… mungkin kalau waktu itu mereka menjemput kami, aku masih sempat bertemu dengan mama terakhir kali !

Ulang tahun mama
Saat merayakan ulang tahun mama ke-65 dua tahun lalu
Ulang tahun papa ke 68
Saat merayakan ulang tahun papa ke 68 dua tahun lalu (Diqa berbaju merah)
Ulang tahun papa ke 69
Ini adalah ulang tahun papa ke-69. Ulang tahun terakhir baginya setahun yang lalu.

Hari demi hari usai peristiwa perampokan berdarah itu masih meninggalkan trauma, kecewa dan duka yang mendalam. Kebahagiaan keluarga kami terasa dicabut oleh orang-orang yang berbuat keji. Tiga orang tercinta harus pergi meninggalkan kami dengan cara yang tak normal.

Hari Minggu kemarin aku, adik-adik dan semua keponakan kembali membersihkan rumah almarhum papa. Kami sengaja berada disana untuk merasakan kembali suasana rumah yang biasanya hangat oleh sambutan papa dan mama. Tak ada lagi tawa dan keceriaan almarhum Diqa keponakanku tercinta. Tak ada lagi sosok papa dan mama ditengah-tengah kami. Semua terasa kosong, seperti kosongnya hati kami yang ditinggalkan.

Buka puasa bareng
Kenangan saat buka puasa bareng papa mama di Fountain Hermes Place bulan Ramadhan lalu
Saat lebaran
Saat Lebaran beberapa bulan lalu (minus adikku Erika, suaminya dan Diqa)
Liburan ke pantai
Berlibur ke Pantai Cemara Kembar sesudah Lebaran

Ada beberapa perilakuku yang tak biasa saat kami berada di China. Menurut suamiku, aku terlalu sering meng-update keberadaan kami via pesan singkat ke papa, hal yang tak pernah aku lakukan selama ini. Bila kami pergi traveling, aku tetap mengabari papa tapi sekedarnya saja. Kali ini aku bolak balik mengirimkan sms untuk papa.

Selain itu, selama di Beijing aku bolak balik bilang ke suamiku bahwa aku harus membeli oleh-oleh untuk papa, mama, adik-adik dan keponakan. Bahkan aku memaksakan diri untuk mencari oleh-oleh ditengah jadwal perjalanan kami yang sangat padat. Biasanya, aku tetap membelikan mereka oleh-oleh namun semuanya dilakukan di hari terakhir perjalanan menjelang pulang. Karena sikapku yang tak biasa tadi, aku dan suami bahkan sempat berdebat panjang soal oleh-oleh hingga aku merasa marah sekali !

“Ya namanya kita berkeluarga… tetap harus beli oleh-oleh untuk mereka semua. Kecuali mereka udah gak ada lagi didunia ini, barulah kita gak perlu sibuk beli apa-apa lagi !”, ujarku dengan nada tinggi bercampur kesal.

Bila aku mengingat kembali, rasanya seperti gak percaya aku mengeluarkan perkataan seperti itu. Aku gak sadar samasekali. Entah ini merupakan satu pertanda bahwa memang aku akan ditinggalkan oleh orang tua dan keponakanku.

Hal aneh lainnya yang terjadi selama perjalanan adalah dimana aku memaksakan diri untuk membeli sebuah handbag berwarna hitam untuk mama di sebuah mall, tepat di hari terakhir kami berada di Xi`an sebelum sorenya bertolak menuju bandara. Oleh-oleh untuk mama dan keluarga lainnya sudah aku persiapkan dan sudah tersusun rapi di dalam koper. Tapi entah mengapa, tiba-tiba aku merasa harus membelikan mama (lagi) sebuah handbag berwarna hitam.

“Bang… Molly pingin belikan mama tas yang ini, kasian mama”, kataku pada suami.

“Loh… tapi kita udah selesai beli-beli untuk oleh-olehnya kemarin?”, tanya suamiku kebingungan.

Akupun merasa galau antara jadi membeli atau tidak. Sibuk memilih-milih tas tapi bingung sendiri. Suamiku bukannya gak mengizinkan aku beli sesuatu lagi tapi ia heran kenapa aku maksa tapi galau sendiri. Akhirnya aku jadi membeli sebuah handbag hitam untuk mamaku.

Saat transit di bandara KLIA 2 Kuala Lumpur, dengan kondisi koper kami langsung berpindah dari pesawat sebelumnya dan backpack yang aku bawa sudah nyaris penuh, aku masih membeli beberapa kotak coklat sebelum boarding.

“Bang… mau beli coklat dulu, kan papa suka makan coklat”, kataku saat melewati gerai coklat.

Suamiku udah pasrah aja dengan kondisi backpack yang kepenuhan dan masih harus dipaksa untuk memasukkan beberapa kotak coklat. Dalam hatiku, aku pingin lihat wajah keluargaku senang saat dibawakan oleh-oleh dari perjalanan panjang kami.

Kini, semua oleh-oleh yang aku siapkan untuk papa, mama dan Diqa tak pernah sampai ke tangan mereka. Hanya beberapa kotak coklat dari dalam backpack-ku yang sempat aku berikan langsung ke papa hari itu. Mama bahkan tak pernah tau apa oleh-oleh istimewa yang aku siapkan untuknya.

“Pa… ma… maafkan Molly ya, tak sempat memberikan oleh-oleh perjalanan kami. Tak sempat juga berbagi kebahagiaan lewat cerita untuk papa dan mama”. Maafin mommy juga ya Diqa, kemarin sore mommy belum sempat bongkar koper dan ngasih oleh-oleh untuk Diqa”, batinku sambil menangis.

Kenangan dengan mama2
Kenangan bersama mama di salah satu restoran di Pantai Cermin
Kenangan dengan mama1
Kenangan bersama mama di Medan Club beberapa bulan lalu
Kenangan dengan Diqa
Kenangan kami berdua bersama keponakanku alm. Diqa saat Idul Fitri lalu

Diqa saat di Medan Club

Beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke China, adikku sempat menceritakan sebuah mimpi yang maknanya kurang baik. Awalnya aku merasa bahwa jangan-jangan kami berdualah yang akan “pergi”, namun hal itu langsung kutepis dan aku berharap semua akan baik-baik saja.

Tak pernah ada yang menduga bahwa Allah SWT memberikan ujian maha berat usai kepulangan kami. Aku bahkan tak sempat bertemu dengan mama ketika tiba kembali di Medan ! Pelukan terakhir dari mama aku rasakan saat berpamitan sehari sebelum kami berangkat ke Beijing, tanggal 11 Oktober 2015 malam.

“Baik-baik disana nanti ya… akur-akur sama abang”, pesan mama malam itu.

Ya Allah… kini aku tak bisa lagi melihat wajah mereka, tak bisa lagi memeluknya saat rindu. Hanya doa yang bisa aku panjatkan kepada mereka. Almarhum papa dan almarhumah mama telah sangat baik merawat kami, bahkan hingga setua ini mama masih sering membuat makanan-makanan enak untuk anak-anak berikut cucu-cucu.

Bersama di Bali
Kenangan liburan bersama di Bali saat aku kecil
Papa dan Mama
Papa dan mama yang masih sehat hingga Tuhan memanggil mereka

Aku benar-benar merindukan kalian saat ini. Kadangkala masih terasa seolah papa mama dan Diqa masih ada. Kami sangat menyayangi kalian, namun Allah punya rencana lain. Sedikit kebahagiaanku adalah melihat papa dan mama tetap bersama-sama hingga ajal menjemput. Tak ada yang saling meninggalkan lebih dulu. Mereka dipersatukan olehNya dan dipanggil kembali menemui Sang Khalik pun tetap bersama. Mudah-mudahan Allah menempatkan mereka di tempat yang sebaik-baiknya… Aamiin.

Aku berusaha ikhlas menerima ujian ini sambil terus menata hidup kembali karena tak mungkin terus-menerus dalam kesedihan. Biarlah kenangan manis bersama orang-orang tercinta tetap ada dalam hati dan ingatan. Aku percaya bahwa Allah telah mempersiapkan rencana baik untuk kami sekeluarga ke depannya. Mudah-mudahan kami kuat menghadapi semuanya.

“Beristirahatlah dengan tenang disana ya pa.. ma.. Diqa, kami akan senantiasa mendoakan kalian”.

 

Terima kasih pada semua pihak yang telah bersimpati, menguatkan, mendoakan dan memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada kami sekeluarga. Semoga kebaikan kalian mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Tulisan ini dibuat bukan untuk tujuan apapun selain untuk mengenang kedua orang tua dan keponakan tercinta yang telah mendahului kami.

107 thoughts on “Oleh-oleh Yang Tak Sampai

  1. mbak molllliii T.T
    ikut sedih ya mbak, semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah diterima dan semoga mereka ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah swt. aamiin.

    Like

  2. Sedih bacanya πŸ˜₯
    Be strong kak Molly, insyaAllah ketiganya pergi di hari baik, Jumat. Dalam Hadits, orang2 yg meninggal di hari Jumat akan terbebas dari siksa kubur. Sudah jadi jalan yg baik buat semuanya kak
    Allahummaghfirlahum…

    Like

    • Ambil hikmahnya aja ya buat kita semua… betapa berharganya kalau orang tua kita masih sehat wal afiat ☺. Hehehe.. tar aku mampir ke link tadi lah… mana tau kalap belanja online besok-besok πŸ˜€

      Like

    • Iya mbak… aku juga nulisnya sambil nangis 😒. Makasih banyak doanya ya mbak Ifa πŸ˜™πŸ˜™… mudah-mudahan ada hikmah dari peristiwa ini untuk kita semua… Aamiin.

      Like

  3. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un…..semoga papa, mama dan ponakan mb Molly khusnul khotimah. Sedih bacanya…*ikut mewek, ingat ortu juga
    Semoga Allah ampuni dosa2 beliau dan menempatkan beliau berdua dan Diqa di tempat yang baik. Aamiin…

    Like

  4. bu Mollyyyyyyyyyyyyyyy, sedih kali iza bacanya… g terasa nangis jg dktr ni, mpe ditegur teman. mereka kira iza gi galau. iza lgs teringat alm ayah iza. ujian terberat adalah kehilangan org2 tersayang, apalagi org tua ya Bu…
    peluk hangat buat Bu Molly…

    Like

    • Izaaaaa πŸ˜™πŸ˜™. Ya begitulah kira-kira yang kami rasakan walau ini cuma sedikit yang bisa ditulis. Kehilangan orang tua memang pasti menyedihkan banget ya Za, karena Iza pun pernah ngalaminya 😒. Sekarang tugas kita ya tetap melanjutkan hidup… sambil terus mengirimkan doa untuk orang tua kita yang sudah tiada ☺. Mudah-mudahan kita diberi ketabahan Allah SWT ya Za… peluuuuk πŸ˜™πŸ˜™.

      Like

  5. Turut berduka Kak Molly.
    Semoga Tuhan memberikan tempat yang terang, lapang dan sejuk untuk Almarhum dan Almarhumah.
    Semoga keluarga kak Molly dilimpahi kelapangan hati, kekuatan dan kesabaran.

    Like

    • Makasih banyak ya Dit… mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT… Aamiin. Dan mudah-mudahan orang tua Adit diberi umur panjang & kesehatan yah…

      Like

  6. Hai kak molly. Sy temennya icha di bank niaga dulu. gak tau mau bilang apa, tapi sy turut merasakan kesedihan yg mendalam. Dulu pernah bbrp kali main ke rumah kk, selalu ingat dengan tante yg ramah, selalu senyum dan ingat masakannya yg enak, icha sering bawa ke niaga janda. Om, tante dan diqa sudah bahagia di surga kak.

    Like

    • Hai Mia… makasih banyak ya πŸ˜™. Alm mama memang sering masak untuk temen-temen anaknya ☺… itu juga yang bakal kami rindukan. Mudah-mudahan alm dan almh tenang disana…

      Like

  7. turut berduka, kak Molly. semoga papa dan mama kak Molly serta Diqa khusnul khatimah. semoga Allah menempatkan ketiganya di tempat terbaik di sisi Allah SWT. *kirim al fatihah*

    semoga kak Molly dan anggota keluarga lainnya selalu diberikan kekuatan pasca kejadian traumatis ini

    Like

  8. Kak…. iyah ga tau sebenarnya mau berkata apa. Ga pernah ada dalam bayangan kita semua orang yg kita cintai harus berpisah dengan cara yang begitu….
    setiap temen2 di kampus cerita soal ini karena heboh juga di kampus dan nunjukin foto yg tersebar di internet iyah cuma bisa marah dan kesel…
    Semoga dibalik semua ini ada sesuatu yabg di siapkan Allah kak… amin..

    Like

    • Kejadian ini menyadarkan kita semua bahwa begitu mudahnya Allah mengambil yang kita cintai bila Ia berkehendak. Padahal papa dan mamaku dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Kehilangan ini selain ninggalkan duka juga bikin aku paranoid Yah 😒. Ternyata kita harus waspada dengan orang-orang yang justru kita kenal 😣. Mudah-mudahan Allah punya rencana baik untuk kami ya Yah… Aamiin. Makasih Iyah sayang πŸ˜™ *peluk

      Like

  9. Kak…. iyah ga tau sebenarnya mau berkata apa. Ga pernah ada dalam bayangan kita semua orang yg kita cintai harus berpisah dengan cara yang begitu….
    setiap temen2 di kampus cerita soal ini karena heboh juga di kampus dan nunjukin foto yg tersebar di internet iyah cuma bisa marah dan kesel…
    Semoga dibalik semua ini ada sesuatu yabg di siapkan Allah kak… amin..

    Like

    • Iya Nisa… semua terjadi karena takdir Allah. Kami sekeluarga mencoba ikhlas walo rasanya beraaat 😒. Mudah-mudahan ada hikmah dibalik kejadian ini, supaya kita lebih menghargai arti orang-orang yang kita cintai selagi mereka masih hidup. Makasih banyak ya Nisa πŸ˜™ *peluk

      Like

  10. Kembali, saya ga bisa menahan air mata lagi setelah membaca cerita ini, semoga mama papa dan diqa husnul khotimah, ditempatkan ditempat yang mulia disisi Allah…mba molly dan keluarga diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian Allah yang sangat berat ini…aamiin allahumma aamiin, peluk mba molly…😘😘

    Like

    • Aamiin Ya Rabb… mba ku sayang makasih untuk dukungan & doanya ya πŸ˜™. Semuanya ini menguatkan kami. Tulisan ini hanya untuk melepaskan emosi, kesedihan & kerinduanku sama alm dan almh 😒. Mudah-mudahan jangan ada lagi yg mengalami hal serupa kami ya mba…

      Like

  11. Innalillahi… Mbak, turut berduka cita ya. Semoga mereka diampuni segala dosa dan dilepaskan segala ikatan duniawinya yang mungkin belum selesai saat kepergian mereka. Semoga mereka sekarang berada di tempat terindah di sisi Alloh SWT. Semoga Mbak dan keluarga selalu selalu selalu diberikan penghiburan sebesar dan sekecil apapun. Semua doa yang terbaik buat almarhum, almarhumah, Mbak, dan keluarga Mbak yang lain…

    Like

  12. astaghfirullahal’adzim… ya Allah sampe speechless dan masih mikir: BENERAN ADA ORANG KAYAK GITU??

    insyaAllah khusnul khatimah, dan keluarga diberi kekuatan oleh Yang Mahakuasa.

    insyaAllah, aamiin ya Rabbal ‘alamiin…

    Like

    • Aamiin Ya Rabb… makasih doanya ya mba πŸ˜™. Kami sekeluarga juga gak habis pikir kenapa ada orang sekejam itu? Zaman sekarang nyawa nyaris gak ada harganya lagi 😒. Besar harapan kami agar 3 orang pelakunya yang udah tertangkap mendapat hukuman seberat-beratnya 😣.

      Like

    • Aamiin… makasih banyak mas Ariev 😒. Semoga kami masih diberi Allah kekuatan & harapan kami 3 orang pelakunya yang udah tertangkap mendapat hukuman seberat-beratnya 😣.

      Like

  13. ya Allah … ampunilah dosa keduanya ketiganya, lapangkan kuburnya, terangi jalannya. Amiiiin. sedih … sampe ga sanggup bilang apa2 lagi 😭

    Like

  14. Innalilahi wainna ilaihi rajiun…. turut berduka ya mak. Ga kebayang gimana perasaan mak Molly. Semoga Allah menempatkan kedua org tua mak Molly dan diqa ditempat yg sevaik2nya..diampuni dosa2nya….
    Yg tabah ya mak #hugs

    Like

    • Aamiin Ya Rabb… makasih doanya ya mba πŸ˜™. Kejadian ini memang membuat kami semua terpukul & berduka mba… mudah-mudahan aku masih diberikan Allah semangat untuk melanjutkan hidup…

      Like

    • Aamiin Ya Rabb.. makasih doanya Davi. Mudah-mudahan Allah masih memberikan kami sekeluarga kekuatan. Ini bagian ujian dariNya untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi ☺.. Aamiin.

      Like

    • Aamiin Ya Rabb… makasih doanya Anggik ☺. Ini ujian terberat untuk kami sekeluarga tapi kami harus ikhlas 😒. Mudah-mudahan aku bisa tetap semangat yah…

      Like

  15. Sedihhhh bgt bacanya sampe nangis….smoga almarhum pp dan mm serta ponakan ditemptkn yg layak disisiNYA…aaamiin…tabah dan iklas ya kak sayank….mmmuachh

    Like

    • Aamiin Ya Rabb… makasih doanya ya Vi πŸ˜™ *peluk. Yang baca aja bisa ikut merasakan kesedihan, apalagi kami sekeluarga yang ngalamin langsung 😒… mudah-mudahan kami tabah & ikhlas..

      Like

  16. Mbak Molly..saya baru baca blog post yang ini biasanya sering baca blog post tentang traveling karena suka dengan foto karya mbak..aku speechless mbakk…nangis bacanya :'(…Semoga Mbak dan keluarga selalu dikuatkan dan ditabahkan. Semoga almarhum Ibu, Ayah dan keponakan Mbak sudah tenang di sisi-Nya..turut berduka mbak Molly..*pelukk πŸ˜₯

    Liked by 1 person

    • Hai mba, makasih ya udah berkunjung ke blog ini :). Di balik semua cerita indah traveling, ternyata kami harus melewati episode berat itu. Mudah-mudahan kami tetap kuat ya, berkat doa dari teman-teman semua :). Terima kasih untuk simpati dan doanya ya, mba πŸ™‚ *peluk

      Like

    • Aamiin Ya Rabb. Makasih ya SilviπŸ˜™. Kejadian setahun yang lalu ini memang masih menyisakan duka di hati kami. Apalagi pas liat berita yang di Pulomas itu, bener-bener shock! Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT ya, Sil☺.

      Like

    • Makasih doanya ya, mba sayangπŸ˜™πŸ˜™ *peluk. Semoga kejadian begini ngga menimpa keluarga yang lain. Karena waktu dengar kasus Pulomas lalu rasanya seperti dejavu, mba😒.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s