Oleh-oleh Yang Tak Sampai

Oleh-oleh Yang Tak Sampai — “Ma… tolong bikinin sambal teri kacang dan rendang untuk kami bawa ya?”, pintaku ke mama.

Tepat beberapa hari menjelang rencana kepergianku dan suami untuk berlibur ke China, aku minta tolong agar mama membuatkan dua jenis masakan yang bisa kami bawa sebagai bekal persiapan sarapan selama 10 hari. Sejujurnya, saat traveling kemanapun aku tak pernah membawa bekal makanan dari Indonesia, apalagi sampai khusus meminta mama untuk membuatkannya.

Senja di China
Senja di China

Entah kenapa, setelah bolak balik mikir akhirnya aku memutuskan untuk membawa beberapa bahan makanan (beras yang sudah dibungkus dalam plastik kecil-kecil dan 6 cup mie instan mini) plus mini rice cooker (yang biasa dipakai orang untuk traveling). Alasannya sederhana, mengingat di China tak begitu mudah mencari makanan halal maka daripada pagi-pagi harus repot keliling-keliling nyari sarapan halal mendingan siapkan sendiri aja di hotel supaya hemat waktu. Jadi rencananya khusus untuk pagi aku mau masak nasi dan makan dengan lauk yang dibawa dari Medan (rendang dan sambal teri kacang). Kalau makan siang dan malam masih bisa dicari tempatnya.

Selama berada di China, aku dan suami selalu sarapan nasi terlebih dahulu sebelum keluar dari hotel. Mau sedikit repot membawa peralatan dan bahan makanan tadi memang diluar kebiasaanku. Entah apa yang mendorongku untuk meminta mama membuatkannya. Toh mama juga menyanggupinya.

Perjalanan liburan kami berdua ke Beijing dan Xi`an nyaris tanpa kendala yang berarti. Semua terasa sangat menyenangkan. Merancang perjalanan sendiri mulai dari membeli tiket pesawat, memesan kamar hotel hingga menyusun itinerary aku lakukan sendiri atas kesepakatan kami bersama. Walau mungkin tak banyak orang Indonesia yang menjadikannya sebagai negara tujuan wisata favorit seperti halnya Hong Kong, Korea dan Jepang, namun bagi kami berdua China memiliki tantangan tersendiri. Itulah sebabnya aku dan suami memutuskan untuk berangkat secara mandiri alias tidak menggunakan jasa tour and travel.

Usai menikmati liburan selama 10 hari di dua kota itu, kamipun tiba kembali di Medan pada tanggal 22 Oktober 2015 sekitar jam 15.00 Wib. Tak ada yang berbeda, hanya saja selama berada di China aku kerapkali mengirimkan sms atau whatsapp ke papa sekedar memberitahukan kabar maupun rencana perjalanan kami. Bahkan di hari kepulangan kami ke Medan, papa sempat menawarkan diri untuk menjemput kami di bandara Kuala Namu. Namun mengingat barang bawaan kami cukup banyak akhirnya aku menolak secara halus tawaran itu dengan alasan koper-koper itu gak akan muat masuk ke dalam mobil. Biasanya papa, mama dan keponakanku Diqa selalu menjemput kami.

“Jam berapa nanti tiba di Kuala Namu, biar kami jemput?”, papa mengirimkan sms saat aku tiba di Kuala Lumpur.

“Kami gak usah dijemput pa… gak muat mobilnya ada 3 koper. Nanti kami pulang naik taxi aja”, aku membalas smsnya.

“Wah kopernya bertambah ya? Kenapa di mobil gak muat?”, tanya papa lagi.

“Kami naik AA QZ 123 tiba di Kuala Namu jam 3 sore. Gak papa gak usah dijemput pa… payah kali koper besar-besar dan berat bingung mau tarok dimana. Kami pulang sendiri aja langsung ke sei padang”, aku menerangkan lewat sms.

Begitulah akhirnya hingga aku masih sempat mengirimkan sms terakhir sesaat sebelum pesawat take off. Sekitar jam 15.00 Wib kami sudah mendarat di Kuala Namu dan langsung menggunakan mobil sewa Toyota Avanza menuju ke rumah orang tuaku.

Setibanya disana, hanya ada papa dan Diqa di rumah. Menurut papa, mama sedang keluar untuk pergi mengaji. Agak kecewa sebetulnya karena gak ketemu sama mama, tapi besok aku tetap berencana akan ke rumah orang tuaku lagi. Sore itu aku, suami, dan papa duduk di teras depan rumah sambil menceritakan pengalaman kami selama berada di Beijing dan Xi`an.

Papa sangat antusias menanyakan banyak hal. Beliau sudah cukup banyak traveling kemana-mana sejak masih muda. Amerika, Eropa, Jepang, Korea dan beberapa negara lain sudah pernah ia kunjungi. Itulah sebabnya ia selalu antusias bila kami berencana untuk traveling kemanapun. Sementara keponakanku Diqa duduk manis di sampingku sambil melihat beberapa foto perjalanan kami di smartphone-ku.Tak lama kemudian adikku pulang dari kantor, dan saat azan maghrib berkumandang kamipun masuk ke dalam rumah.

Papa mama di Paris
Papa dan mama berlibur ke Paris sewaktu aku masih SMP
Papa mama di Titlis
Honeymoon berdua tanpa membawa kami anak-anaknya

Waktu hampir menunjukkan jam 7 malam, namun mama belum juga pulang. Papa bolak balik menelpon handphone mama tapi tak berhasil dihubungi. Tumben handphone mama sampai lowbatt dan mati tapi mama gak menghubungiku samasekali. Sambil menunggu, aku, suamiku dan papa sempat makan malam bersama di rumah. Kebetulan mama spesial masak ikan tongkol khas Aceh. Usai makan, akupun pamit ke papa.

“Pa… kami pulang dulu ya, besok kami kesini lagi”, ujarku sambil aku melihat ke arah papa yang duduk di dapur dan menonton tv.

“Oh.. ya.. ya…”, papa menjawab singkat.

Keesokan harinya, Jum`at tanggal 23 Oktober 2015 sekitar jam 10.30 pagi mama menelponku. Suaranya terdengar biasa, tidak terlalu ceria tapi juga tidak terdengar sedih. Pembicaraan kami di telpon hanya membicarakan ulah kucing-kucingku yang berjumlah 7 ekor yang aku titipkan di rumah mama saat berangkat ke China.

“Nanti rencananya Icha juga mau datang ke rumah, sekalian makan siang karena Dedi pagi-pagi udah berangkat ke Aceh”, mama menjelaskan di telpon.

“Oh iya ma… kami pasti kesana juga hari ini sekalian mau ngasih oleh-oleh, tapi sehabis sholat Jum`at aja ya… nanggung. Ini abang juga ada di rumah karena masih cuti”, ujarku.

“Oh ya udah… nanti datang aja ya…”, kata mama.

“Iya ma… nanti siang ya… dadaaaaahh “, sambil aku menutup pembicaraan di telpon.

Semua terasa biasa saja. Sekitar jam 13.20 Wib tiba-tiba sebuah panggilan telpon membuat aku dan suami terhenyak ! Adikku menelpon ke handphone suamiku sambil menangis.

“Bang… cepat datang ke Sei Padang, rumah kayaknya dirampok!”, jeritnya panik di telpon.

Kami berdua terkejut sampai tak bisa berkata-kata lagi dan langsung menuju ke rumah papa. Di perjalanan aku masih menduga-duga apa yang terjadi, hingga akhirnya adikku menelpon handphone suamiku kembali dan entah berkata apa hingga suamiku langsung shock dan tangannya bergetar saat menyetir mobil. Ya Allah… ada apa ini???

Jam 2 siang kami tiba disana, orang sudah ramai berkerumun, beberapa orang polisi tampak ada disana. Aku langsung berlari ke arah rumah dan menerobos kerumunan. Di pekarangan depan, adik bungsuku Icha memelukku erat dengan wajah stress.

“Kalau lu gak kuat, gak usah lihat yah”, ia setengah berbisik di telingaku.

“Yaaaa Allah… “, aku menangis panik hingga nyaris terjatuh.

Akhirnya aku dituntun oleh suami dan Icha menuju ke arah dapur. Pemandangan yang tak pernah ada dalam pikiranku kini harus aku saksikan. Kedua orang tuaku tercinta dan keponakanku Diqa yang masih berusia 7 tahun ditemukan sudah terbaring tak bernyawa. Diqa adalah anak satu-satunya dari adikku Erika yang ikut menjadi korban.

“Astaghfirullahaladziiim… ya Allah !!”, tangisku tumpah sejadi-jadinya.

Semua persendianku terasa lemas, aku terjatuh dan sempat ditahan oleh suamiku. Tanganku bergetar dan otakku seketika blank ! Siapa yang begitu tega berbuat ini kepada orang tua dan keponakanku??

Entahlah… hari itu seolah menjadi sebuah mimpi buruk dalam hidupku. Aku tak pernah menyangka bahwa kemarin adalah saat terakhir aku masih melihat papa dan Diqa di rumah ini. Seketika aku merasa sangaaaaatt menyesal tatkala mengingat pesanku agar papa tak usah menjemput kami di bandara. Bukan apa-apa, pagi sebelum peristiwa itu terjadi, mama sempat mengatakan di telpon bahwa sewaktu akhirnya mereka bertiga tak jadi menjemputku di bandara, mama memutuskan untuk pergi mengaji saja sore harinya. Ya Allah… mungkin kalau waktu itu mereka menjemput kami, aku masih sempat bertemu dengan mama terakhir kali !

Ulang tahun mama
Saat merayakan ulang tahun mama ke-65 dua tahun lalu
Ulang tahun papa ke 68
Saat merayakan ulang tahun papa ke 68 dua tahun lalu (Diqa berbaju merah)
Ulang tahun papa ke 69
Ini adalah ulang tahun papa ke-69. Ulang tahun terakhir baginya setahun yang lalu.

Hari demi hari usai peristiwa perampokan berdarah itu masih meninggalkan trauma, kecewa dan duka yang mendalam. Kebahagiaan keluarga kami terasa dicabut oleh orang-orang yang berbuat keji. Tiga orang tercinta harus pergi meninggalkan kami dengan cara yang tak normal.

Hari Minggu kemarin aku, adik-adik dan semua keponakan kembali membersihkan rumah almarhum papa. Kami sengaja berada disana untuk merasakan kembali suasana rumah yang biasanya hangat oleh sambutan papa dan mama. Tak ada lagi tawa dan keceriaan almarhum Diqa keponakanku tercinta. Tak ada lagi sosok papa dan mama ditengah-tengah kami. Semua terasa kosong, seperti kosongnya hati kami yang ditinggalkan.

Buka puasa bareng
Kenangan saat buka puasa bareng papa mama di Fountain Hermes Place bulan Ramadhan lalu
Saat lebaran
Saat Lebaran beberapa bulan lalu (minus adikku Erika, suaminya dan Diqa)
Liburan ke pantai
Berlibur ke Pantai Cemara Kembar sesudah Lebaran

Ada beberapa perilakuku yang tak biasa saat kami berada di China. Menurut suamiku, aku terlalu sering meng-update keberadaan kami via pesan singkat ke papa, hal yang tak pernah aku lakukan selama ini. Bila kami pergi traveling, aku tetap mengabari papa tapi sekedarnya saja. Kali ini aku bolak balik mengirimkan sms untuk papa.

Selain itu, selama di Beijing aku bolak balik bilang ke suamiku bahwa aku harus membeli oleh-oleh untuk papa, mama, adik-adik dan keponakan. Bahkan aku memaksakan diri untuk mencari oleh-oleh ditengah jadwal perjalanan kami yang sangat padat. Biasanya, aku tetap membelikan mereka oleh-oleh namun semuanya dilakukan di hari terakhir perjalanan menjelang pulang. Karena sikapku yang tak biasa tadi, aku dan suami bahkan sempat berdebat panjang soal oleh-oleh hingga aku merasa marah sekali !

“Ya namanya kita berkeluarga… tetap harus beli oleh-oleh untuk mereka semua. Kecuali mereka udah gak ada lagi didunia ini, barulah kita gak perlu sibuk beli apa-apa lagi !”, ujarku dengan nada tinggi bercampur kesal.

Bila aku mengingat kembali, rasanya seperti gak percaya aku mengeluarkan perkataan seperti itu. Aku gak sadar samasekali. Entah ini merupakan satu pertanda bahwa memang aku akan ditinggalkan oleh orang tua dan keponakanku.

Hal aneh lainnya yang terjadi selama perjalanan adalah dimana aku memaksakan diri untuk membeli sebuah handbag berwarna hitam untuk mama di sebuah mall, tepat di hari terakhir kami berada di Xi`an sebelum sorenya bertolak menuju bandara. Oleh-oleh untuk mama dan keluarga lainnya sudah aku persiapkan dan sudah tersusun rapi di dalam koper. Tapi entah mengapa, tiba-tiba aku merasa harus membelikan mama (lagi) sebuah handbag berwarna hitam.

“Bang… Molly pingin belikan mama tas yang ini, kasian mama”, kataku pada suami.

“Loh… tapi kita udah selesai beli-beli untuk oleh-olehnya kemarin?”, tanya suamiku kebingungan.

Akupun merasa galau antara jadi membeli atau tidak. Sibuk memilih-milih tas tapi bingung sendiri. Suamiku bukannya gak mengizinkan aku beli sesuatu lagi tapi ia heran kenapa aku maksa tapi galau sendiri. Akhirnya aku jadi membeli sebuah handbag hitam untuk mamaku.

Saat transit di bandara KLIA 2 Kuala Lumpur, dengan kondisi koper kami langsung berpindah dari pesawat sebelumnya dan backpack yang aku bawa sudah nyaris penuh, aku masih membeli beberapa kotak coklat sebelum boarding.

“Bang… mau beli coklat dulu, kan papa suka makan coklat”, kataku saat melewati gerai coklat.

Suamiku udah pasrah aja dengan kondisi backpack yang kepenuhan dan masih harus dipaksa untuk memasukkan beberapa kotak coklat. Dalam hatiku, aku pingin lihat wajah keluargaku senang saat dibawakan oleh-oleh dari perjalanan panjang kami.

Kini, semua oleh-oleh yang aku siapkan untuk papa, mama dan Diqa tak pernah sampai ke tangan mereka. Hanya beberapa kotak coklat dari dalam backpack-ku yang sempat aku berikan langsung ke papa hari itu. Mama bahkan tak pernah tau apa oleh-oleh istimewa yang aku siapkan untuknya.

“Pa… ma… maafkan Molly ya, tak sempat memberikan oleh-oleh perjalanan kami. Tak sempat juga berbagi kebahagiaan lewat cerita untuk papa dan mama”. Maafin mommy juga ya Diqa, kemarin sore mommy belum sempat bongkar koper dan ngasih oleh-oleh untuk Diqa”, batinku sambil menangis.

Kenangan dengan mama2
Kenangan bersama mama di salah satu restoran di Pantai Cermin
Kenangan dengan mama1
Kenangan bersama mama di Medan Club beberapa bulan lalu
Kenangan dengan Diqa
Kenangan kami berdua bersama keponakanku alm. Diqa saat Idul Fitri lalu

Diqa saat di Medan Club

Beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke China, adikku sempat menceritakan sebuah mimpi yang maknanya kurang baik. Awalnya aku merasa bahwa jangan-jangan kami berdualah yang akan “pergi”, namun hal itu langsung kutepis dan aku berharap semua akan baik-baik saja.

Tak pernah ada yang menduga bahwa Allah SWT memberikan ujian maha berat usai kepulangan kami. Aku bahkan tak sempat bertemu dengan mama ketika tiba kembali di Medan ! Pelukan terakhir dari mama aku rasakan saat berpamitan sehari sebelum kami berangkat ke Beijing, tanggal 11 Oktober 2015 malam.

“Baik-baik disana nanti ya… akur-akur sama abang”, pesan mama malam itu.

Ya Allah… kini aku tak bisa lagi melihat wajah mereka, tak bisa lagi memeluknya saat rindu. Hanya doa yang bisa aku panjatkan kepada mereka. Almarhum papa dan almarhumah mama telah sangat baik merawat kami, bahkan hingga setua ini mama masih sering membuat makanan-makanan enak untuk anak-anak berikut cucu-cucu.

Bersama di Bali
Kenangan liburan bersama di Bali saat aku kecil
Papa dan Mama
Papa dan mama yang masih sehat hingga Tuhan memanggil mereka

Aku benar-benar merindukan kalian saat ini. Kadangkala masih terasa seolah papa mama dan Diqa masih ada. Kami sangat menyayangi kalian, namun Allah punya rencana lain. Sedikit kebahagiaanku adalah melihat papa dan mama tetap bersama-sama hingga ajal menjemput. Tak ada yang saling meninggalkan lebih dulu. Mereka dipersatukan olehNya dan dipanggil kembali menemui Sang Khalik pun tetap bersama. Mudah-mudahan Allah menempatkan mereka di tempat yang sebaik-baiknya… Aamiin.

Aku berusaha ikhlas menerima ujian ini sambil terus menata hidup kembali karena tak mungkin terus-menerus dalam kesedihan. Biarlah kenangan manis bersama orang-orang tercinta tetap ada dalam hati dan ingatan. Aku percaya bahwa Allah telah mempersiapkan rencana baik untuk kami sekeluarga ke depannya. Mudah-mudahan kami kuat menghadapi semuanya.

“Beristirahatlah dengan tenang disana ya pa.. ma.. Diqa, kami akan senantiasa mendoakan kalian”.

 

Terima kasih pada semua pihak yang telah bersimpati, menguatkan, mendoakan dan memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada kami sekeluarga. Semoga kebaikan kalian mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Tulisan ini dibuat bukan untuk tujuan apapun selain untuk mengenang kedua orang tua dan keponakan tercinta yang telah mendahului kami.

135 thoughts on “Oleh-oleh Yang Tak Sampai

    • Peluk erat, Kak😙😙. Sebagian besar orang masih ada yang belum tau kisahnya, dan karena hari ini bertepatan 2 tahun jadi aku share lagi. Sebagai pengingat mereka yang tercinta, yang lebih dulu menghadapNya. Aku betul-betul rapuh dan lemah waktu itu, tapi pilihannya hanya harus kuat dan melanjutkan hidup.

      Like

  1. Mba Mollyyyyy.. Peluuuk, peluuuk.. Nyeeees aku bacanya.. Aku baru tahu.. Pernah baca statusmu mba tapi enggak tahu kalo seperti itu kejadiannya… 😦 Semoga almarhum dan almarhumah diberi tempat terbaik dan keluarga selalu kuat ya mba.. Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, Al Fatihah untuk papa mama Mba Molly dan Diqa juga…

    Liked by 1 person

  2. Mbak Molly…. Pengen banget peluk puk puk mbak Molly… Aku aja ditinggal Ibu udah semacam kehilangan arah.. Apalagi tiga orang yang kita sayang meninggalkan kita diwaktu yg bersamaan..

    Like

    • Pasti tau banget gimana rasanya ya, Erna. Hilang arah dan seperti ngga ada lagi semangat. Tapi hidup jalan terus dan kehilangan orang tercinta jangan sampai bikin langkah kita ikut berhenti. Tetap semangat ya, Allah bersama orang-orang yang kuat. Peluuuuuk😙😙

      Like

  3. Ya Allah, sedih banget ya. Teganya itu perampok, cuma lansia dan anak kecil pun dibunuh. Padahal ambil barang aja tanpa membunuh. Semoga mendapatkan balasan setimpal untuk para perampoknya. Dan orangtua & keponakan Mak Molly mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya ya.

    Like

    • Aamiin… makasih doanya ya, Mba. Kadang kita ngga pernah tau kenapa ada orang yang tega menghabisi nyawa, tapi kenyataannya terjadi di keluarga sendiri. Saat ini kami masih menanti keputusan dari MA atas dakwaan perbuatan keji mereka, Mba.

      Like

  4. Speechless baca sampe titik terakhir.semoga Allah selalu melindungi keluarga mbak.Molly… Menjaga alm ortu dan adik Surga di surga. Memang tidak ada yang kekal di dunia ini, Selalu kirim doa2 terbaik ya mbak, al Fatihah

    Like

  5. Jujur aku agak sulit mendeskripsikan perasaanku saat membaca tulisanmu ini. Sedih dan juga merinding membayangkannya, apalagi setelah aku berusaha mencari tau detail kisahnya di media online. Apapun itu, aku berharap dirimu dan keluarga akan sanggup melalui ini semua dengan sebaik-baiknya. Gak bisa aku kasih saran macam-macam, karena hal ini pasti berat sekali. Cuma doa terbaik untukmu sekeluarga. Yang tabah yaaa ….

    Liked by 1 person

    • Betul Mas, sampai sekarang beritanya masih bisa ditelusuri lewat media online. Bahkan banyak sekali. Pihak TV One juga khusus mewawancarai dan masuk dalam tayangan acara mereka selama 30 menit di TV nasional waktu itu. Ya, sudah berlalu dua tahun tapi kenangannya belum hilang, Mas🙁. Insya Allah kami tabah dan bisa terus menjalani hari-hari ke depan. Terima kasih banyak untuk dukungannya😍

      Liked by 1 person

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s