Pengalaman Seru Mendaki Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau — Aku terbangun dari tidur yang kurang lelap. Alarm smartphone berdering pelan pukul 2 pagi. Aku melirik ke sebelah kanan dan kiri kasur. Mbak Evi dan Mbak Terry tampak masih terlelap. Setelah bangkit dari kasur, aku berniat membangunkan mereka nanti usai membersihkan diri terlebih dulu.

Menyadari air keran di kamar kecil tak mengalir, aku lantas buru-buru membersihkan diri sekedarnya. Hanya cuci muka dan menyikat gigi memakai air yang tertampung di bak mandi. Khawatir penghuni lain yang masih tidur tak kebagian air.

 

Saat keluar dari kamar kecil aku melihat Mbak Evi sudah bangun. “Mbak, air kerannya ngga nyala. Mendingan buru-buru deh, sebelum rebutan air” ujarku pelan. Lalu aku membangunkan Mbak Terry dan menyampaikan hal yang sama. Mereka berdua kemudian bergegas bangkit dari kasur untuk membersihkan diri.

 

Keran air baru kembali mengucur setelah lama menanti dan sebagian orang bertanya pada panitia. Untung saja aku bangun lebih cepat. Kalau tidak, artinya harus rela mengantri lama. Dalam satu kamar yang berisi 20 orang hanya tersedia 2 buah kamar kecil. Padahal seluruh peserta Tour Krakatau harus serentak meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 4 dini hari.

 

Baca sebelumnya : Pulau Sebesi, Keindahan di Lampung Selatan yang Tersembunyi

Naik Kapal Motor dalam Kegelapan

Langit yang masih pekat dengan penerangan lampu seadanya sedikit menyulitkanku berjalan menuju sebuah warung sederhana. Hampir seluruh peserta berkumpul di sana sebelum memulai perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau.

 

Cahaya yang berasal dari senter panitia menuntun kami berjalan perlahan mendekati kapal motor. Ada kekhawatiran akan terpeleset ketika menjejakkan kaki di atas dermaga kayu. Aku melangkah dengan hati-hati sambil menengok ke bawah. Penglihatan yang payah karena mengenakan kacamata minus (padahal kondisi mata sudah minus campur plus) membuat pergerakanku tak bisa cepat. Biar lambat asal selamat.

 

Berjalan melintasi atap dari beberapa kapal motor samasekali tak mudah. Apalagi dilakukan di tengah gelapnya malam dan minim cahaya. Aku menjulurkan tangan kanan meminta bantuan ketika harus memanjat. Melakoni naik dan turun untuk bisa sampai di kapal motor Batanghari 2 yang bersandar diantara kapal motor lain. Deg-degan tapi seru, sih.

 

Perjuangan belumlah selesai. Walau teman-teman sudah duduk manis, kapal motor tak kunjung bergerak. Mesin sedari tadi sudah menyala. Mungkin masih menunggu para peserta lain yang belum komplit.

 

Kondisi ini membuat kapal terus diayun ombak. Kepalaku mulai sedikit pusing. Walau sebelumnya sempat mengisi lambung dengan roti, rasa mual pelan-pelan muncul. Agar tak masuk angin, aku langsung menarik rapat ritsleting jaket merah yang sudah kukenakan. Lalu berusaha memejamkan mata sambil mengambil posisi setengah berbaring. Aku tak ingin mabok laut!

 

Kapal motor akhirnya berangkat hampir pukul 5 subuh. Untuk menekan rasa mual, aku mengganti posisi menjadi duduk. Setengah berbaring seperti tadi justru membuat mual semakin kuat.

 

Seluruh penumpang memanfaatkan dua jam perjalanan untuk merebahkan diri. Toh tidak ada pemandangan yang dapat dilihat karena hari masih sangat gelap. Apalagi arus yang cukup kuat terus menggoyang kapal berukuran kecil ini. Perutpun terasa seperti diobok-obok.

 

Tingginya gelombang laut tidak menyurutkan semangat. Namun niat untuk menyaksikan indahnya matahari terbit tak kesampaian karena rintik hujan dan langit mendung. Kalau cuaca sedang bagus, saat-saat munculnya mentari pagi akan sangat memesona.

 

Anak Krakatau, Kawasan Konservasi dan Edukasi

Sesaat sebelum kapal motor menyentuh garis pantai, di kejauhan tampak Gunung Rakata. Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah pulau Anak Krakatau. Ketidaktersediaan dermaga di sana membuat seluruh penumpang harus turun langsung ke laut menggunakan tangga kayu yang disandarkan tepat di ujung kapal.

Kapal motor ke Puau Anak Krakatau
Turun dari kapal motor

Air akan membasahi hingga batas lutut jika menjejak pasir. Aku yang awalnya mengenakan sepatu sempat merasa ragu. Beberapa orang terlihat mengenakan sandal hingga akupun memilih untuk mengganti sepatu dengan sandal jepit juga. Semoga itu pilihan yang tepat, pikirku.

 

Anak Krakatau bukanlah kawasan wisata melainkan cagar alam. Kawasan yang terbuka bagi para peneliti dan ilmuwan ini merupakan konservasi dan edukasi untuk perkembangan ilmu pengetahuan serta pendidikan. Di tempat tersebut tidak tersedia fasilitas mewah. Namun para pengawas hutan siap memandu perjalanan menyusuri hutan hingga pendakian.

 

Siapapun yang ingin memasuki kawasan tersebut harus terlebih dahulu mengurus perizinan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di kota Bandarlampung. Pejabat yang berwenang akan memastikan tujuan kedatangan dan kegiatan yang akan dilakukan tidak mengganggu cagar alam sebelum mengeluarkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI).

 

Sejarah Vulkanologi

Pembentukan komplek Gunung Krakatau pada masa prasejarah diawali dengan adanya sebuah gunung api besar yang disebut Krakatau Besar, berbentuk mirip kerucut.

 

Pada ratusan ribu tahun yang lalu terjadi letusan maha dahsyat yang menghancurkan dan menenggelamkan lebih dari 2/3 bagian Krakatau. Akibat letusan tersebut menyisakan 3 pulau kecil yaitu Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung.

 

Pertumbuhan lava yang terjadi di dalam kaldera Rakata membentuk dua pulau vulkanik baru yaitu Danan dan Perbuatan.

 

Pada tanggal 27 Agustus 1883 terjadi letusan besar dan menghancurkan sekitar 60% tubuh Krakatau di bagian tengah sehingga terbentuk lubang kaldera dengan diameter 7 km dan menyisakan tiga pulau kecil yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

 

Kegiatan vulkanik di bawah permukaan laut terus berlangsung dan periode 1927-1929 muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil erupsi. Pertumbuhan ini terus berlangsung membentuk pulau yang disebut Anak Krakatau (Sumber : BKSDA)

 

Pendakian Gunung Anak Krakatau

Pulau Anak Krakatau mempunyai luas sekitar 320 Ha. Pulau tak berpenghuni yang merupakan kawasan Cagar Alam Krakatau tersebut total luasnya adalah 13.605 Ha, dengan gugusan pulau-pulau kecil yaitu Pulau Rakata (1.400 Ha), Pulau Sertung (1.060 Ha), dan Pulau Panjang (320 Ha).

 

Ketika pertama kali aku menapaki kawasan ini, pemandangan pasir berwarna hitam terhampar di sepanjang garis pantai. Lalu diikuti dengan pemandangan Pos Pemantau Krakatau di sisi kanan, sebelum kelak memasuki kawasan hutan tropis di hadapan.

 

Sesuai pengarahan yang diberikan oleh pengawas hutan, seluruh peserta Tour Krakatau dilarang merusak lingkungan cagar alam, tidak boleh meninggalkan sampah, dan tertib mengikuti jalur pendakian normal. Tidak perlu khawatir akan tersesat bila mengikuti petunjuk. Sewaktu akan turun gunung nanti, sebaiknya selalu memilih jalan ke arah kanan karena cukup sering orang terpisah dari kelompoknya.

Kawasan cagar alam Krakatau
Cagar Alam Krakatau

Pendakian dimulai dari memasuki hutan bersama rombongan dengan mengikuti jalan setapak sedikit berpasir. Semakin ke tengah, terlihat tumbuhan yang mengering akibat terpaan abu vulkanik.

Tumbuhan terkena abu vulkanik
Kering akibat abu vulkanik

Selanjutnya pemandangan berubah menjadi lereng pasir berwarna hitam. Jalur menanjak yang cukup curam mendekati kawah vulkanik itu membuat langkahku semakin melambat. Hamparan pasir tampak membentang di hadapan mata. Sesekali aku mendongak untuk mengira-ngira seberapa jauh harus mendaki. Aku mulai tak yakin dengan kemampuan diri sendiri menuju ke atas!

Lereng berpasir
Bersiap mendaki lereng berpasir

Melangkahkan kaki di atas pasir tebal yang menyelimuti permukaan dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat adalah sebuah tantangan tersendiri. Apalagi aku bukan orang yang hobi naik gunung. Berulang kali langkahku harus terhenti sambil mengatur napas. Belum lagi kaki berikut sandal jepitku bolak-balik terbenam dalam lautan pasir. Duh, aku jadi ingat pendakian ke Gunung Bromo tahun 2011 lalu.

 

“Ayo Mbak Molly, pelan-pelan aja. Tiap sepuluh langkah, berhenti” ujar Mbak Terry menyemangati sambil berjalan di depan. Usiaku dengannya mungkin hampir sama, tapi stamina kami sungguhlah berbeda. Hahaha. Mbak Terry yang rutin berolahraga sepeda tak menampakkan wajah kepayahan sama sekali! Sementara aku, ah… sudahlah. Menyebalkan sekali melihat stamina yang kedodoran ini.

 

Mbak Terry yang menyaksikanku mulai ngos-ngosan dan terseok-seok mendaki, menawarkan bantuan untuk menarik tanganku. “Ngga apa-apa, Mbak. Aku masih sanggup. Harus bisa” balasku dengan wajah kelelahan.

Mendaki Gunung Anak Krakatau
Udah ngos-ngosan tapi (sok) pasang wajah ceria

Perlu kehati-hatian saat melakukan pendakian sebab kerikil maupun batu-batu tajam berukuran sedang hingga besar berserakan dimana-mana. Bukan tak mungkin pula akan terjadi longsor secara tiba-tiba. Aku ikuti saja jalur yang pasirnya agak padat untuk lebih memudahkan.

 

Menjejakkan Kaki di Bahu Gunung Anak Krakatau

Udara pagi yang sejuk menjadi penyemangat dalam pendakian ini. Aku tak bisa membayangkan bila harus mendaki tepat di siang hari bolong. Barangkali aku berharap ditandu saja untuk naik. Hahaha.

 

Dalam waktu sekitar 30 menit akhirnya aku sampai juga di atas. Yeay… Alhamdulillah!

Gunung Anak Krakatau
Tiba di bahu Gunung Anak Krakatau
Pagi di Gunung Anak Krakatau
Pemandangan dari atas Gunung Anak Krakatau
Takjub dengan pemandangannya

Gunung Anak Krakatau mempunyai ketinggian 230 mdpl. Sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 mdpl. Tingginya aktifitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan kini pendakian hanya diperbolehkan sampai bahu gunung setinggi 200 meter saja. Tak lagi hingga ke puncaknya. Berjarak sekitar 200 meter berikutnya terdapat sebuah kawah vulkanik yang tentunya berisiko bagi pendakian.

Lahar mengeras membentuk jalur
Sisa lahar yang mengeras

Dari atas bahu gunung tadi, penglihatan akan dimanjakan oleh pemandangan indah. Sejauh mata memandang terlihat hamparan laut luas dengan pulau-pulau di sekeliling. Sungguh luar biasa! Di menit-menit awal aku hanya terdiam takjub menyaksikan kebesaranNya.

Gunung Anak Krakatau
Wefie berlatar belakang Gunung Anak Krakatau (Credit : GenPI Lampung)
Berfoto dengan latar belakang Gunung Anak Krakatauu
Foto bersama dengan teman-teman bloger (Credit : GenPI Lampung)
pemandangan dari Gunung Anak Krakatau
Pemandangan indah dari atas gunung
Travel blogger Indonesia di Gunung Anak Krakatau
Senang bisa foto bareng travel blogger kece ini

Data Dasar Gunung Api Indonesia mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau ‘lahir’ pada 30 Januari 1930, ditandai dengan munculnya batuan basalt di permukaan air pada tanggal 26 Januari 1928 untuk pertama kalinya.

 

Sebagai gunung yang aktif, aktifitas vulkaniknya nyaris tak ada henti. Dan pada 2 September 2012 terjadi letusan yang turut menyemburkan lava pijar. Selain itu, pertumbuhannya juga amat cepat. Gunung ini bertumbuh 3,6 meter setiap tahun dan kini ketinggiannya mencapai lebih dari 315 meter. Dengan magma dominan silika, tampaknya ia memiliki karakter seperti ‘ibunya’, Gunung Krakatau.

cekungan di Gunung Anak Krakatau
Ada cekungan besar di antara puncak dengan bahu gunung

Setelah puas menikmati cantiknya pemandangan di atas, aku dan teman-teman turun melalui jalur berbeda. Kali ini jalur yang dilalui lebih landai dan sedikit memutar. Medannya tak seberat saat pendakian awal.

Jalur turun Gunung Anak Krakatau
Jalur turun yang memutar
Jalur turun gunung Anak Krakatau
Kembali ke arah pantai

Tak memerlukan waktu lama untuk kami tiba kembali dekat pantai. Puas sekali rasanya! Kegiatan pendakian tersebut bukanlah wisata, namun kegembiraan tak berkurang sedikitpun. Sungguh sebuah pengalaman berharga bisa menjejakkan kaki di kawasan legendaris ini.

Naik kapal motor menuju Lampung
Menaiki kapal motor untuk kembali (lupa ini hasil jepretan siapa)
Pemandangan Gunung Rakata dari sisi Gunung Anak Krakatau
Pemandangan Gunung Rakata

 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung

Jl. Z.A.Pagar Alam I B Bandar Lampung

Telp. 0721-703882

Email: bksdalpg@yahoo.com

 

*Foto-foto dengan watermark diambil menggunakan kamera mirrorless Fujifilm X-M1 16-50mm dan smartphone Samsung Galaxy S6 (semua di-resize)

 

 

 

 

 

 

31 thoughts on “Pengalaman Seru Mendaki Gunung Anak Krakatau

  1. kak, bacanya kok jadi aku yang deg-degan ya. Seandainya aku yg disitu udah nangis duluan kali ya. Penuh perjuangan kali perjalanannya. Tapi pas udah sampek atas, cakep ya pemandangannya. ๐Ÿ˜€

    Like

  2. Sebagai anak kampung, aku udh terbiasa mendaki gunung lewatin lembah yang ditakutin kulit gosong kak, hahha..
    Pegunungan atau
    Dataran tinggi rawan bikin kulit gosong.
    Seru kali liatnya…
    Tapi gunung ngga brenti aktifitas dan sering longsor gt bikin jantungan juga ya kak ๐Ÿ˜

    Like

  3. Beberapa kali suami saya mengajak ke gunung anak krakatau tapi saya masih ragu. Khawatir sama mabok lautnya. Padahal kalau lihat yang pada ke sana, termasuk foto-foto suami waktu di sana memang bikin saya pengen banget bisa ke sana ๐Ÿ˜€

    Like

  4. Waaah, pasti pengalaman yang gak bakal terlupakan seumur hidup ya Mb Molly. Mana ternyata kudu ijin dulu kalo kesana. Perjuangan buat kesana juga cukup menguras keringat

    Mb Molly bener-bener beruntung dapat rejeki bisa kesana … Ikut seneng liatnya saya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    Like

    • Gimana kalau membayangkan pas sampai di atas nanti trus bisa foto-foto dan sesudah turun lagi kita bisa makan nasi bungkus enak sepuasnya. Hahahaha๐Ÿ˜‚. Mungkin bisa jadi penambah semangat, Win!

      Like

  5. Halo, Kak. Salam kenal. Keren banget cerita perjalanannya. Bikin mupeng nggak ketulungan, hehehe. Jadi inget terakhir naik gunung sudah 8 tahun yang lalu. Tahun terakhir jadi gadis.hihihi

    Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s