Merindu Senja di Bali, Tanah Para Dewa

Senja di Bali“Mol, ayo cepat habiskan minumannya. Sebentar lagi kita jalan kaki ke pantai untuk lihat sunset” ujar suamiku sambil bersiap-siap membayar pesanan kami. Aku lalu membereskan barang-barang yang kubawa satu-persatu dan melangkahkan kaki menyeberangi jalan.

Bali

Sore itu kami berdua sedang duduk santai di sebuah cafe daerah Kuta. Kaki-kaki ini letih sekali usai berjalan seharian. Apalagi cuaca panas di pulau Dewata cukup menguras tenaga. Kami butuh sesuatu yang sanggup mendinginkan tenggorokan dan mengganjal perut lapar.

 

Itu bukanlah kali pertama aku berkunjung ke Bali. Waktu kecil, almarhum papa pernah beberapa kali membawaku berlibur ke sana. Walau tak dapat mengingat secara detil liburan masa kecil tadi, toh aku tetap menyimpan kepingan memori yang terekam.

 

Beberapa waktu lalu aku iseng-iseng membereskan koleksi album foto lama di rumah. Album foto kenangan saat berlibur di Bali masih tersimpan rapi. Mulai dari foto sewaktu liburan bersama kedua orangtua dulu hingga foto perjalanan terakhirku dengan suami.

 

Sebagian lembaran foto masa kecil tersebut nyaris usang dimakan zaman. Warnanya pun sudah mulai kuning pertanda lama disimpan. Tapi kondisinya masih cukup terawat.

 

Kuperhatikan wajah keluargaku yang ada di album. Paras mereka terlihat bahagia. Aku pun senyum-senyum sendiri mengingat beberapa kejadian lucu. Diantara koleksi tadi ada sebuah foto yang begitu menarik perhatian. Foto pemandangan senja di tepi pantai. Tapi aku tidak bisa mengingat persis lokasinya

 

Entah kenapa seketika ada rasa rindu yang menyeruak. Sudah cukup lama aku tidak menyambangi Bali. Kangen juga dengan aroma dupa yang khas, alunan musik gamelan yang menenangkan, pasir pantainya dan masih banyak lagi.

 

Tidak akan pernah pudar dari ingatan saat pertemuanku dengan senja cantik di La Laguna wilayah Canggu, Bali beberapa tahun lalu. Cuaca waktu itu sedang bagus. Langit terlihat biru muda dihiasi awan yang bergerak perlahan. Buih-buih ombak berwarna putih tampak berlomba mencapai garis pantai, meninggalkan lautan di belakangnya.

La Laguna Bali
Senja di La Laguna Bali (hasil jepretan suami)

Aku menanggalkan sepatu dan berdiri mendekat ke arah laut. Kaki perlahan basah disapu oleh air. Telapak kakiku menjejak nyaman di atas pasir pantai yang lembut sambil sesekali aku memerhatikan orang-orang di sekitar.

 

Beberapa orang terlihat lalu-lalang di seputar pantai. Mereka pun ingin menikmati pergantian waktu dari terang ke gelap tersebut. Suasana eksotis menuju temaram kian terasa. Cahaya matahari yang memerah begitu menghangatkan. Warna senja yang sempurna, menurutku.

 

Alih-alih mengabadikan foto, aku memilih menikmati suasana nan ideal tadi. Menyaksikan detik-detik sang surya menghilang di bawah garis cakrawala sebelah Barat. Kadangkala perjumpaan yang mahal tidak selalu wajib diabadikan. Menyimpannya dalam ingatan lebih terasa puas dan membahagiakan.

 

Sejak itu, setiap kali mendengar orang menyebutkan Bali, ingatanku melayang pada momen menyaksikan senja cantik. Pesona matahari terbenam yang sulit dilupakan. Bahkan aku ingin terus mengulangnya.

 

Planet bumi yang kaya membuat kita tak kehabisan pantai untuk dinikmati. Tuhan telah menciptakan pantai-pantai terbaik di Bali. Pantai yang tak hanya indah namun juga menjadi spot paling tepat untuk menyaksikan matahari terbenam.

 

Sebetulnya menyaksikan saat-saat matahari tenggelam bisa dimana saja. Namun menikmatinya di Bali sangatlah berbeda. Seperti sebuah paduan harmoni alam yang sempurna. Matahari, pasir pantai, desir angin, dan semesta nan elok. Hal ini yang membuatnya istimewa dan tak ada di tempat lain.

 

Bali sangat terkenal dengan keindahan pantai-pantainya. Mulai dari pantai Kuta dan Sanur yang ramai hingga beberapa hidden beach yang relatif sepi. Limpahan sinar matahari di sepanjang tahun selalu mampu memikat para turis asing untuk menikmatinya. Ada yang berolahraga pantai dan banyak pula yang hanya sekedar ‘membakar’ kulit dengan berjemur.

 

Melengkapi Bahagia Bersama Teman Perjalanan yang Tepat

Kerinduanku pada Bali tentu tak hanya pada keinginan untuk menikmati keindahan matahari terbenam di pantai. Aku menyimpan rasa penasaran tinggi pada Nusa Penida. Kabarnya, selain dapat memuaskan hasrat dan cita-cita menengok sunset, pulau yang terletak di sebelah Tenggara Bali ini menyimpan kejutan indah lainnya.

 

Memiliki wilayah paling luas dibandingkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Nusa Penida diliputi tebing-tebing kokoh dan perbukitan asri. Batu karang yang terbentuk secara alami niscaya menyajikan pemandangan elok yang sukar untuk diabaikan. Sepertinya tempat itu akan dihujani oleh tekanan shutter kamera yang berulang-ulang.

 

Aku lantas membayangkan seperti apa perjalanan naik speed boat selama kurang lebih 1 jam menuju ke sana. Toh sebelumnya aku sudah mengantongi pengalaman seputar angkutan laut pada perjalanan ke Lampung baru-baru ini. Naik kapal motor kecil sederhana selama hampir 4 jam digoyang tingginya gelombang laut dari Pulau Anak Krakatau menuju Kalianda saja aku gembira, apalagi naik speed boat modern seperti itu, kan?

 

Pada kunjungan sebelumnya ke Bali, biasanya aku datang bersama keluarga atau pasangan. Kemudian muncul ide, kenapa aku tidak ditemani oleh tour lokal terpercaya saja? Karena aku yakin bahwa memilih teman perjalanan yang tepat bisa membuat liburan terasa menyenangkan. Dan mereka akan menjadi teman terbaik untuk bereksplorasi serta mengenalkan seluk-beluk Bali lewat kegiatan yang dikemas apik.

 

Di Nusa Penida ada sebuah pantai bernama Kelingking Beach yang konon memiliki pasir putih dan pemandangan tebing kehijauan seolah menjulur membelah laut yang memukau. Uniknya lagi, di bawah sana ada sekumpulan manta, hingga juga dikenal sebagai Manta Point. Jadi semakin penasaran. Kapan lagi bisa melihat dari atas tebing ikan pari Manta berenang di air jernih!

Kelingking Beach Nusa Penida Bali
Kelingking Beach Nusa Penida (Sumber: Bali Funky)
Cantiknya Kelingking Beach di Bali
Kelingking Beach yang super duper kece! (Sumber: Bali Funky)

Lagi-lagi rasanya tak lengkap bila belum menengok Crystal Bay di Nusa Penida. Istimewanya, para pemburu sunset akan terpuaskan di sana. Aku berharap dapat membawa pulang pengalaman manis beserta foto-foto cantik sebagai kenang-kenangan.

Crystal Beach Nusa Penida Bali
Crystal Beach Nusa Penida (Sumber: Bali Funky)
Crystal Bay Nusa Penida Bali
Bawah laut Crystal Bay yang memukau (Sumber: Bali Funky)

Pemandangan laut yang terhampar hingga potret matahari terbenam tentu sangat memorable. Tempat-tempat menarik di Nusa Penida tak satupun menyandang pesona serupa. Setiap jengkalnya punya cerita dan keistimewaan tersendiri.

 

Aku tidak akan puas hanya membawa kesan dan dokumentasi perjalanan semata. Limpahan foto-foto pun takkan pernah cukup. Merekam semua dalam ingatan untuk dituangkan kembali dalam bentuk kisah perjalanan adalah caraku berbagi kebahagiaan dan ‘merasakan’ petualangan itu lagi.

 

Bagiku menepi sejenak di Bali akan menghalau hiruk-pikuk kehidupan. Merasakan sensasi meleburkan diri dan menyelaraskan raga bersama semesta. Sambil berkegiatan di alam bebas, aku pun bisa bertemu dengan senja idaman. Membuat aku maksimal melepaskan penat, membuang stress, dan mengisi jiwa kembali. Jadi, mana mungkin aku melewatkan Bali, kan?

 

Aku selalu ingin kembali ke Tanah Para Dewa. Mengenang perjalanan terdahulu dengan almarhum papa maupun pasangan. Bernostalgia dengan senja dan panorama alamnya. Untuk menjemput damai yang datang perlahan. Untuk senantiasa merekatkan cinta pada orang tersayang.

 

Semoga Tuhan memberiku kesempatan menyambangi tanah ini. Menuntaskan kerinduan yang memanggil-manggil. Karena kebahagiaan adalah sesederhana menemukan sesuatu yang dirindukan, serta mencicipi pengalaman baru di alam terbuka bersama teman seperjalanan.

Menatap senja di La Laguna
Senja yang menawan hati (hasil jepretan suami)

 

Bali, aku siap menyambut senja dan melengkapi bahagia sambil merangkul petualangan seru!

 

 

 

23 thoughts on “Merindu Senja di Bali, Tanah Para Dewa

  1. Senja di Bali memang sulit untuk dilupakan kak mol, aku dan suami juga sampai sekarang sering saling mengingat momen-momen saat di Bali yang selalu membuat kami ingin kemBali 🙂

    Like

    • Iya ya Tuty, Bali itu kayak punya magnet tersendiri. Rasanya ngga pernah bosan ke sana. Seandainya deket dari Medan mungkin bisa lebih sering mainnya😀.

      Like

  2. Pantai adalah hal pertama yang saya ingat kalau berkunjung ke Bali. Tapi belum pernah menikmati senja di sana. Melihat foto di postingan ini, jadi pengen banget sesekali menikmati senja di Bali 🙂

    Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s