Akhirnya Aku Tahu Bagaimana Cara Menikmati Perjalanan di China!

Perjalanan di China — Sebagian orang berpendapat bahwa Jepang atau Korea adalah negara yang menarik untuk dikunjungi. Aku setuju akan hal itu. Banyak penikmat jalan-jalan yang tidak melewatkan kunjungannya ke negara tersebut. Tapi aku ingin sesuatu yang lain.

Pagi di Beijing

Selanjutnya yang menjadi pemikiran adalah bagaimana bepergian ke sebuah negara sambil menantang diri sendiri. Dengan menyesuaikan budget yang ada waktu itu, aku dan suami mempertimbangkan kira-kira negara Asia mana yang akan memberikan pengalaman berbeda.

 

Sejak awal menikah, kami telah beberapa kali melakukan perjalanan berdua. Bermula dari sekedar perjalanan di akhir minggu hingga perjalanan yang membutuhkan perencanaan matang.

 

Sebagai pasangan yang sama-sama gemar memotret, kami nyaris tak pernah menemui kesulitan dalam menentukan tempat yang ingin dikunjungi. Bagi kami, semua tempat punya daya tarik! Bidikan kamera ke arah manapun pasti indah. Bahkan aku tak keberatan jika harus mendatangi lokasi yang sama lebih dari sekali.

 

Menjelang akhir tahun 2015 lalu sebuah ide tiba-tiba muncul. “Mol, kayaknya seru juga pergi ke China untuk liburan tahun ini “ usul suamiku. “Yuk, kenapa ngga?” balasku bersemangat.

 

Tiba Pertama Kali di China

Butuh keyakinan kuat untuk menjatuhkan pilihan liburan pada Beijing dan Xi`an. Banyak membaca pengalaman orang lain saat berkunjung ke Negara Tirai Bambu ini membuat niat awal yang tadinya menggebu sedikit surut. Beberapa kejadian tak enak yang pernah mereka alami memunculkan imajinasi lain di benakku.

 

Walau demikian, kami tak ingin mengendorkan semangat. Singkat cerita, kami melakukan persiapan dalam waktu tak lebih dari 3 bulan. Mulai dari memesan tiket pesawat, hotel, mengurus Visa, dan lain-lain.

 

Belum pernah aku merasa excited sekaligus deg-degan seperti ini. Bukan semata-mata karena destinasinya, tetapi karena membayangkan tantangan yang bakal dihadapi di sana.

 

Berangkat ke China secara mandiri tanpa pemandu perjalanan memaksa aku untuk benar-benar detil mengatur segala sesuatunya. Berdasarkan cerita yang kubaca melalui internet, faktor bahasa adalah salah satu tantangan yang harus dilewati kelak sesampainya di China. “Ah, semoga semua baik-baik aja” aku menghibur diri.

 

Perjalanan ke Beijing berjalan lancar hingga pesawat mendarat mulus dini hari di kota itu. Namun persoalan belum selesai. Hal pertama yang harus dihadapi adalah kondisi toilet yang jauh dari bersih sebagaimana layaknya fasilitas bandara. “Ya Tuhan, aku akan berada di negara ini sampai 10 hari ke depan” batinku.

 

Lupakan masalah toilet beraroma semerbak ‘harum’ mewangi yang mengalahkan parfum kelas dunia. Masalah sesungguhnya adalah kendala saat berkomunikasi dengan warga lokal. Aku sedikit gusar ketika petugas polisi yang berjaga di wilayah pusat perbelanjaan modern padat turis tak mengerti sepatah kata pun dalam bahasa Inggris. Omaigat!

 

Itu masih terbilang lumayan. Parahnya lagi, lembaran dengan aksara China yang sengaja aku cetak sebelum berangkat, tak bisa dipahami oleh beberapa orang saat kami tanyai. Seketika perutku terasa mulas. Aku merasa inilah yang harus dihadapi setiap hari.

 

Mungkin kejadian yang aku alami bukan merupakan awal yang baik. Tetapi aku yakin bahwa esensi suatu tempat baru bisa dirasakan sesudah kita menyelami denyut kehidupan sehari-hari dari warga di sana. Sepertinya kami harus lebih bersabar.

 

Awalnya aku bingung bagaimana menikmati Beijing. Barangkali butuh berhari-hari berkeliling kota agar bisa merasakan sesuatu. Namun pada akhirnya perlahan mataku mulai melihat keunikan di sekitar dan melupakan hambatan.

Wangfujing di Beijing
Beli manisan di Wangfujing, Beijing

 

Bertemu dengan Orang-orang Baik

Kami berjalan kaki melintasi jalan yang ramai. Tampak para turis melebur bersama lautan warga lokal yang memadati jalan. Aku berjalan bersisian dengan suamiku agar salah satu dari kami tidak tertinggal di belakang. Tampaknya kota tua ini nyaris tak pernah sepi dan menyimpan banyak hal menarik untuk diulik.

 

 

Ternyata dimana pun kita bisa bertemu orang-orang ramah dan berhati baik. Setidaknya ada dua peristiwa yang aku ingat. Salah satunya pengalaman sewaktu berada di stasiun subway.

 

Kami berniat untuk membeli tiket kereta cepat (bullet train) menuju Xi`an. Di tengah kebingungan akan petunjuk arah, aku menghampiri bagian informasi untuk menanyakan letak stasiun kereta yang konon bersebelahan dengan stasiun subway tadi.

 

Malangnya, petugas yang melayani tidak mengerti sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Padahal aku bertanya menggunakan bahasa Inggris yang sangat sederhana. Dari raut wajahnya aku menangkap ekspresi gugup bercampur bingung. Ia merespon pertanyaanku dengan menggelengkan kepala sambil mengucapkan sesuatu dalam bahasa lokal. Aih, celaka pikirku.

 

Entah sedang bernasib baik atau apalah namanya, tiba-tiba seorang pria yang berdiri di sebelah coba membantu menjelaskan ulang pertanyaanku kepada petugas tadi. Aku hanya bengong mendengar percakapan mereka karena tidak mengerti sama sekali. Mereka berdua berkomunikasi dalam bahasa lokal.

 

Pria tadi berniat membantu menerangkan pada sang petugas. Setelahnya ia berbicara padaku dalam bahasa Inggris. Syukurlah, akhirnya ada juga yang bisa diandalkan di sini. Aku lalu menganggukkan kepala tanda paham.

 

“Saya adalah pendatang di kota ini. Saya pun berniat mencari letak stasiun kereta cepat untuk membeli tiket perjalanan berikutnya” ujarnya padaku dalam bahasa Inggris yang cukup dimengerti. “Mari ikuti saya” ajaknya ramah kepada kami.

 

Aku dan suami lantas mengikuti saja kemana ia bergerak. Awalnya terbersit keraguan mengingat penipuan terhadap turis yang terjadi di beberapa lokasi di Beijing. Tapi hati kecilku mencoba untuk memercayainya. Beruntung, kekhawatiran tadi ternyata tidak terbukti. Pria tersebut memang betul-betul menunjukkan dan mengantarkan kami ke tempat yang dicari. “Xie Xie”, ucapku sambil berterima kasih.

National Stadium Beijing
Di depan National Stadium (Bird Nest), Beijing
Moslem Street di Xi`an
Salah satu pedagang di Moslem Street, Xi`an

Lain di Beijing, lain pula ketika kami berada di Xi`an. Sewaktu hendak memesan makanan di sebuah kedai di wilayah Moslem Street, sang pelayan menyerahkan buku menu bertuliskan aksara China tanpa petunjuk gambar sama sekali. Aku dan suami saling berpandangan. “Waduh, ngga ada foto makanannya nih. Gimana bisa tau itu menu apa?” komentar suamiku. “Iya, kita disuruh nebak-nebak aja” balasku sambil tertawa.

 

Untungnya di bagian luar kedai tadi terlihat beberapa pilihan jenis mie. Ya sudah, aku pun berinisiatif untuk menunjuk langsung apa yang ingin dipesan. Begitu juga dengan suami. Selanjutnya kami duduk kembali sambil menanti pesanan datang.

 

Semangkuk mie rebus dengan tampilan mirip mie instan kesayangan di Indonesia muncul di hadapan. Namun hingga aku nyaris selesai menyantapnya, pesanan suami tak kunjung datang. Mau bertanya lagi-lagi terkendala soal bahasa. Padahal kami berusaha mengetikkan pertanyaan menggunakan Google Translate. Apesnya sang pelayan wanita yang masih muda itu kesulitan menjawab dalam bahasa Inggris.

 

Tiba-tiba saja seorang bapak yang duduk di depan datang menghampiri meja kami. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbilang patah-patah, ia bertanya pada kami apa yang menjadi masalah. Lalu berusaha membantu menanyakan ulang pada pelayan wanita itu.

 

Persoalan tadi akhirnya selesai berkat bantuannya. Uniknya lagi, ketika bapak itu meninggalkan mejanya, ia memberiku sebungkus tissue. Perlu diketahui bahwa tak satu pun tempat makan di China menyediakan serbet kertas seperti di Indonesia. Tissue pemberiannya tersebut menjadi sangat bermanfaat.

 

Memang tak selamanya kami bernasib baik. Sesekali perlu juga mengetahui seperti apa rasanya tertipu. Sewaktu akan membeli jagung rebus di Forbidden City, aku ditipu mentah-mentah oleh si pedagang. Ia menjual sepotong jagung padaku seharga 5 Yuan.

 

Ketika duduk sambil menikmati jagung rebus, aku melihatnya kemudian menjual jagung yang sama pada penduduk lokal. Dua buah jagung rebus seharga 5 Yuan! Berarti aku membeli jagung tadi dengan harga dua kali lipat mahalnya. Ya, sudahlah.

 

Akhirnya aku percaya pada ungkapan bahwa bila kita sering berbuat baik pada orang lain maka selalu ada orang yang membantu kita di waktu yang tak disangka-sangka. Almarhumah mama selalu berpesan agar kemana pun kaki melangkah, jangan pernah lupa untuk menolong bila melihat orang yang kesusahan. Dan semua itu terbukti, di tempat ini.

 

Anggapan umum bahwa warga China sering berlaku kasar tak sepenuhnya benar. Nyatanya beberapa kali kami menemui warga lokal yang sepenuh hati membantu. Hal itulah yang membuat aku akhirnya tahu bagaimana cara menikmati perjalanan di China.

 

Belajar Banyak Hal Lewat Perjalanan

Perjalanan selama 10 hari di dua kota di China memberi pengalaman yang berbeda. Aku jadi lebih bisa beradaptasi dengan lingkungan yang tak selamanya sesuai keinginan. Belajar meningkatkan toleransi, berdamai dengan keterbatasan, serta lebih sering memupuk sabar.

 

Pelajaran penting yang dipetik dari perjalanan kali ini adalah agar aku selalu positive thinking, jauh dari buruk sangka pada orang lain. Karena kita takkan pernah tahu apa yang bakal dialami sampai hal itu benar-benar terjadi. Sungguh ini merupakan ‘Aha Moments’ tak terlupakan yang berhasil membuka mataku!

Qianmen Street Beijing
Suasana malam di Qianmen, Beijing

Di sepanjang perjalanan liburan ke China aku melalui banyak sekali hal indah dan pengalaman baru. Tuhan memberi paket lengkap selama kami menyambangi kota ini. Berbagai kesenangan, kenikmatan, serta kekuatan mengiringi langkah kami. Dan pada akhirnya Tuhan pula yang memberikan sebongkah rasa rindu untuk pulang.

 

Saat mengakhiri perjalanan tadi timbul keinginan kembali mencari-cari tiket pesawat murah. Toh kini tak sulit lagi menemukan harga tiket idaman sesuai budget melalui Skyscanner. Aku sendiri sering memanfaatkan mesin pencari tiket pesawat, hotel, dan rental mobil tersebut, karena Skyscanner merupakan situs travel terpercaya di seluruh dunia.

 

Melalui fitur canggihnya, aku tak perlu repot lagi membuka beberapa situs penyedia tiket karena Skyscanner langsung membandingkan semua harga tiket sekaligus. Aku tentu leluasa membeli harga tiket termurah tanpa tambahan biaya. Tak hanya itu, keistimewaan lain yakni adanya fitur pencarian tiket pesawat termurah di bulan tertentu. Praktis dan faedahnya nyata!

 

Aku punya rencana ingin jalan-jalan ke Penang, Malaysia. Lantas aku mulai ‘mengintip’ penawaran termurah yang bisa didapatkan. Kali ini aku mengaksesnya dari smartphone. Pertama, memasukkan kota asal dan tujuan. Lalu aku menambahkan bulan pencarian November untuk berangkat dan pulang.

Mencari tiket di Skyscanner

Mencari bulan termurah di Skyscanner

Dari sana kita dapat melihat harga di setiap tanggal dan memilih yang termurah. Selanjutnya tinggal menentukan tanggal berangkat dan pulang sesuai kehendak. Mudah dan sangat cepat, kan?

Harga termurah bulan November di Skyscanner

Mencari tiket murah bulan November di Skyscanner

Melalui Skyscanner pula, pengunjung yang sudah memilih tanggal akan diarahkan pembayarannya ke situs travel yang dipilih berdasarkan tanggal serta maskapai yang telah ditentukan sebelumnya. Sungguh sebuah proses yang dapat mempersingkat waktu.

 

 

Akhirnya, perjalanan bukan lagi berbicara perihal destinasi semata. Yang paling penting dari setiap perjalanan adalah menemukan #ahamoments yang dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Sekarang dan nanti.

 

#ahaskyscanner  #skyscannerindonesia

 

36 thoughts on “Akhirnya Aku Tahu Bagaimana Cara Menikmati Perjalanan di China!

    • Sebelum nentuin tujuan ada baiknya browsing cari tiket yang paling murah Jar. Untung sekarang ada Skyscanner, anti ribet. Kalau bahasa ya, paling ngga bisa Inggris lah biar nyaman kemana-mana☺

      Like

  1. Wah, begitu baca judulnya yang terbayang langsung toiletnya eh muncul juga … Hihihi

    Mba Molly, emang keren berani ke negara orang yang bahasa sama aksaranya beda banget tanpa pemandu. Top banget

    Like

    • Persoalan toilet di China udah jadi rahasia umum banget ya, Dila😀. Tapi itu ga seberapa dibanding keindahan alamnya. Aku aja pingin lagi, pingin eksplor kota lainnya. Prinsipnya kalau mau dapet pengalaman kudu berani keluar dari comfort zone. Jalan aja dulu hahahaha😂

      Like

  2. Yang terbayang olehku akan china ya toiletny kak. Hihi, soalnya banyak blogger yg nulis ttg kemirisan mereka ttg toilet umum di china plus kebiasaan buruk org china yang suka meludah sembarangan. Tapi terlepas dari semua itu, aku masih tetap kepinhin ke Cina apalagi setelah baca tulisan kk. Btw sukses utk kontesnya ya

    Like

    • China memang jorok Liza, tapi ya lama-lama beradaptasi juga. Toilet memang peer banget, makanya aku selalu sedia botol plasti bekas air mineral dan bawa tissue kering+basah dalam tas. Aku recommend ke China kalau suka alam dan heritage😉

      Like

  3. Kita ngerasain yg sama mba :p. Pas liburan k china, akupun ngalamin hambatan bahasa di sana. Dr sekian banyak negara yg prnh aku datangin, beijing luar biasa orang2ny, banyak ga ngerti bhs inggris hahahahaha.. Tapiiiiii, mereka ramah. Pdhl pertamakali kita udh diwanti2 orang sana ga ramah. Semua orang yg kita minta bantuan pas nanya arah, walopun ga bisa jelasin dlm bhs inggris, tp semuanya baik hati mau nunjukin lgs Tempat yg kita tanya., at least nganterin kita ke halte bis nya dan nungguin bus yg dimaksud. Saluut.

    Tapi ttp ya bok, toiletnya aku ga nahan.. Jd lbh srg nahan pipis slama di sana hahahaha..

    Like

    • Hahahaha parah banget kan, Mba😉. Komunikasi mampet mulu sampai kadang bikin stress😂. Tapi aku juga malah ketemu sama orang-orang ramah dan siap membantu, walau dengan keterbahasan bahasa☺. Kalau toiletnya… huft… sabar-sabar aja ya kan😂.

      Like

  4. Kak moly suka banget baca kisah perjalanan ke China ini, syukurlah kalau ternyata masih ada orang-orang baik yang benar-benar mau menolong turis yang sedang holiday disana ya.

    Like

  5. aduh kak Molly, sampe detik ini aku masih ragu untuk travelling ke China, padahal penasaran banget sama Xi’an dan pasukan terakotanya itu. Hehehhehe aku terlalu sibuk kemakan cerita-crita orang nih sepertinya jadi ga bernai berangkat untuk saat ini

    Like

    • Ayo Mei, cuua berangkat ke Xi’an! Kotanya nyaman kok, betahin banget. Modern sekaligus klasik. Kalau soal toilet dan scam keknya jangan jadi kekhawatiran lebih. Aku aja pingin ke China lagi. Tapi ke kota lainnya😀

      Like

    • Mula-mula aku juga deg-degan, Mba Shinta. Tapi ngga seseram yang suka dibicarakan orang ternyata. Ke China itu asik! Tanpa pemandu sama sekali itu seru dan tantangan banget. Hahaha😂

      Like

  6. Saya baru saja kembali dari Shanghai, dan banyak yang bikin saya takjub sama keindahan kota maupun penduduknya yang kelakuannya kadang ajaib hahahaha,yang saya amati banyak anak anak yang celananya bolong di bagian pantat , dan mereka bisa pee sembarangan dimana saja, ada pengalaman yang tak terlupakan ,saya sedang menunggu depan minisoo East Nanjing Road yang terintegrasi dengan subway, tiba tiba ada anak kecil cowok jongkok dan kencing di depan saya yang notabene itu di dalam mal , dan ibunya dengan santai menutupi kencing anaknya dengan selebaran brosur 😦 lalu jalan pergi begitu saja.

    Like

    • China memang cakep ya, Mba. Tempo hari aku ngga mampir Shanghai lagi. Cuma Beijing trus ke Xi’an. Dan bener, orang tua di sana suka cuek kalau anaknya mau pup gitu. Aku juga ada liat anak kecil pup gitu aja di deket trotoar! Gila banget ngga sih. Hahahahaha😂

      Like

  7. Woow chinaa, aku belom kepikiran sih main ke china hehe.
    Masih ngarep bisa ke Jepang ajaa 😀
    Btw, sekarang nyari tiket pesawat jadi jauh lebih mudah lagi yaa pakai Skyscanner.

    Like

    • Ayo dicoba perjalanan penuh tantangan ke China, Mba. Hehehe. Jepang juga cantik ya, aku belum pernah ke sana. Skyscanner itu memang nolong banget, anti ribet.

      Like

  8. Hehehe jd “Travelinglah sampai ke negeri Cina” ya judulnya? 😀
    Mungkin cuma di Indonesia yg rumah makannya loyal kasi tissue ya mbak 😀
    Btw itu Mbak Molly dan suami berarti bepergian sendiri ya tanpa travel agnecy?
    Keliatannya seru, bisa menentukan destinasi sendiri.
    Gud luck lombanya mbk 😀

    Like

    • Mirip dengan pepatah itu kan, Mba. Hahaha😀. Kebanyakan orang Indonesia itu kan tukang ngabisin tissue, nah pas ngga disediain tissue rasanya pingin ngelap ke taplak mejanya aja😂. Aku dan suami berangkat secara mandiri kebetulan, ngga pakai jasa tour guide sama sekali. Seru ternyata, Mba. Campur stress dikit karena sering nyasar😂

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s