Traveling, Antara Dahulu dan Masa Kini

Membicarakan soal traveling tidak ada habisnya, ya. Soalnya kegiatan ini memang mengasyikkan dan membuat ketagihan. Sebagai orang yang lahir pada tahun 70-an, menurutku ada beberapa perbedaan yang dirasakan saat menjalani liburan di masa lalu dibandingkan sekarang. Setidaknya menurut pengalamanku pribadi.

Traveling Dulu dan Kini

#1. Keberadaan Teknologi

Adanya kemajuan teknologi yang dirasakan masa kini otomatis membuat rencana perjalanan jadi lebih mudah. Mau menyusun itinerary tinggal terhubung ke internet dan langsung bisa melihat referensi tempat-tempat menarik dimana pun. Mau cari informasi perjalanan juga mudah. Tinggal buka Lonely Planet atau situs traveling.

Teknologi internet memudahkan perjalanan

Pada zaman dulu, mau bepergian relatif lebih sulit. Apalagi kalau mau ke luar negeri. Ngga ada panduan sama sekali untuk cari tahu ada apa di belahan dunia lain. Ngga bisa melakukan riset sebelum bepergian, layaknya yang dilakukan orang pada zaman sekarang.

 

Menyusun itinerary juga harus lebih realistis yakni berdasarkan pengalaman teman yang kebetulan sudah pernah berkunjung ke sana. Sesampainya di tempat tujuan hanya bisa membeli buku panduan wisata atau bertanya pada warga setempat. Belum lagi setibanya di sana tidak bisa langsung berkabar karena menelepon ke luar kota/ luar negeri cukup mahal. Untuk berjalan-jalan pun cuma bisa mengandalkan kompas dan lembaran peta. Boro-boro GPS atau Google Map!

 

#2. Banyak Barang Bawaan

Jangan mimpi bisa liburan dengan barang bawaan super ringan dan melenggang dengan santai. Zaman dulu, kamera aja udah berat karena masih menggunakan kamera film. Ngga bisa sembarang jepret karena bakal buang-buang file yang pilihannya cuma strip film dengan kapasitas 12, 24 atau 36 foto. Dan harus bawa lampu flash terpisah supaya masih bisa memotret di dalam ruang.

Kamera analog untuk traveling

Belum lagi kalau butuh hiburan selama perjalanan. Aku sempat merasakan bawa walkman atau CD player kemana-mana. Belum lagi harus menyertakan kaset atau beberapa keping CD sekaligus.

 

Sekarang sih enak banget. Kamera canggih makin lama makin ringan dan mungil bentuknya. Sangat praktis dan mudah dibawa. Bisa bebas dipakai memotret sebanyak apapun. Hasilnya pun dapat langsung dilihat dan bisa ditransfer ke gawai tanpa susah payah. Edit sedikit lalu siap untuk diunggah ke media sosial.

 

#3. Travel Agent Sangat Berperan

Setiap kali ingin berangkat ke luar kota/ luar negeri, dahulu orang mengandalkan travel agent. Mulai dari memesan tiket pesawat, hotel, hingga mengambil paket perjalanan yang tersedia. Artinya, kita wajib datang ke kantor travel agent untuk mewujudkan rencana tadi. Pembayaran pun dilakukan langsung di sana.

Kantor travel agent

Adanya internet di zaman modern seperti sekarang telah memudahkan kita untuk merencanakan perjalanan secara mandiri. Kini orang lebih sering memanfaatkan OTA (Online Travel Agent) atau bahkan membeli langsung dari situs maskapai. Paket-paket yang ditawarkan pun tak kalah menarik. Kita juga leluasa membelinya hanya dengan memanfaatkan gawai atau komputer pribadi. Mudah sekali!

 

#4. Ketersediaan Maskapai

Aku ingat sekali pada era 80-an jumlah maskapai tidak sebanyak sekarang. Lebih-lebih lagi, maskapai bertipe low cost juga tidak ada. Karena memerlukan biaya yang tidak sedikit, akibatnya hanya segelintir orang yang bersedia memilih transportasi melalui udara. Tidak seramai seperti saat ini.

Banyak pilihan maskapai penerbangan

Bepergian ke luar negeri pun tidak sederhana. Ongkosnya jauh lebih mahal ketimbang harga-harga rute penerbangan yang ditawarkan sekarang. Wajarlah, mengingat pilihan maskapai sangatlah terbatas. Lagi-lagi harus mengeluarkan kocek yang tak sedikit karena ketiadaan penerbangan murah.

 

Oh ya, uniknya penerbangan zaman dahulu menyediakan beberapa kursi bagi perokok. Selama penerbangan, mereka bebas merokok selama lampu tanda dilarang merokok tetap menyala. Aku ingat sekali sebab Papa adalah perokok. Beliau tetap memilih kursi khusus tersebut bila bepergian sendiri atau tanpa membawa keluarga. Saat ini setiap penerbangan tak lagi menyediakan kursi khusus tadi dan menjadikan penerbangan bebas dari asap rokok.

 

#5. Pemberlakuan Fiskal Luar Negeri

Fiskal adalah pajak keberangkatan luar negeri. Dahulu pemerintah menerapkan kebijakan pemungutan pajak bagi setiap orang yang akan berangkat ke luar negeri. Artinya selain membayar tiket pesawat, calon penumpang juga wajib membayar fiskal di bandara asal sebelum bertolak.

Penerbangan internasional

Saat pertama kali aku bepergian ke luar negeri sekitar tahun 1980-an, seingatku Papa harus membayar biaya fiskal sebesar Rp 25.000 per orang. Sampai akhirnya pada suatu ketika biaya fiskal melonjak tajam menjadi Rp 1.000.000 per orang! Nilai yang fantastis, kan?

 

Aku tak ingat persis sampai kapan tarif mahal fiskal tersebut membuat orang enggan bepergian ke luar negeri pada masa itu. Kalau tak salah, sistem tersebut akhirnya benar-benar berakhir pada tahun 2011 lalu. Akhirnya calon pelancong pun bisa bernapas lega.

 

Begitu pula dengan pengurusan VISA yang tidak mudah. Sekarang harusnya kita bersyukur sebab sudah mulai banyak negara yang membebaskan VISA untuk menerima calon pendatang. Bahkan saat ini ada yang hanya memberlakukan Visa on Arrival (VOA). Sebagian lagi hanya mensyaratkan pengajuan VISA melalui internet yang dikenal dengan e-VISA.

 

#6. Tidak Tersedia ATM

Zaman dulu kalau hendak bepergian harus menyediakan uang tunai dalam jumlah cukup. Tak tersedia ATM maupun Internet Banking/Mobile Banking yang memudahkan hidup seperti sekarang. Artinya, harus benar-benar cermat menghitung anggaran yang diperlukan saat bepergian agar tak kehabisan uang tunai.

ATM penting saat traveling

Kemudahan zaman sekarang adalah semua serba cashless. Ke mana-mana cukup membawa kartu debet atau kartu kredit. Bahkan saat ini sudah bisa membayar dengan aplikasi khusus lewat gawai. Bahagia, dong!

 

#7. Minim Testimoni

Bila berniat mengunjungi sebuah kota atau negara tertentu, dulu orang hanya mengandalkan cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Bagaimana situasi dan kondisi dari sebuah tempat tak dapat dibayangkan secara detil. Kalaupun ada, hanya lewat rangkaian foto-foto perjalanan yang dicetak.

Testimoni perjalanan

Kini bepergian ke tempat wisata sangatlah mudah. Lewat internet, kita dapat mencari informasi dan membaca kisah perjalanan orang lain sebagai panduan. Adanya blogger atau vlogger saat ini sangat membantu seseorang mengenali tempat-tempat menarik yang akan dijadikan pilihan untuk berwisata. Mereka akan berbagi informasi penting yang sangat dibutuhkan.

 

#8. Tak Bisa Pamer

Jauh sebelum adanya internet dan media sosial, tidak ada orang yang tahu apa saja kegiatan dan perjalanan yang kita lakukan. Satu-satunya bukti hanya foto-foto yang dicetak. Itupun belum dijepret ala-ala Instagram. Belum sibuk cari-cari tempat kece untuk background maupun foreground.

Pentingnya Instagram untuk traveling

Kalau sekarang orang dengan mudah langsung mengunggah foto-foto perjalanan ke media sosial. Ya, salah satu fungsinya memang sebagai tempat memamerkan foto indah yang terkadang menimbulkan rasa iri. Artinya, semua orang dengan cepat akan mengetahui bahwa kita sedang berlibur. Apa yang dilakukan, pergi ke mana, dan informasi lainnya lekas menyebar ke seluruh jagad maya.

 

Manfaatnya, kita turut mempromosikan tempat-tempat indah yang tengah disambangi pada khalayak luas. Terutama tempat-tempat baru yang unik. Hal itu berpotensi membuat seseorang mengalami Fear of Missing Out alias FOMO. Dorongan agar terlihat eksis dan tak ingin ketinggalan membuat sebagian orang lebih sibuk mengunggah banyak foto daripada menikmati perjalanan itu sendiri. Tidak semua ya, tapi ada yang begitu.

 

#9. Tidak Ada Forum Pecinta Jalan-Jalan

Siapapun yang akan bepergian tentu melakukan persiapan terlebih dulu. Salah satunya adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Di masa lalu, tidak ada wadah yang bisa dijadikan tempat untuk bertanya maupun berbagi informasi perihal traveling. Masing-masing orang harus berupaya untuk mengumpulkan info yang diperlukan.

Forum untuk penikmat traveling

Maraknya tren traveling di zaman digital belakangan ini membuat munculnya forum atau komunitas jalan-jalan. Keberadaan forum tersebut sangat membantu siapa saja yang ingin bertanya perihal rencana perjalanan mereka. Di sana para anggota dapat  saling bertukar pengalaman dan membantu anggota lain yang membutuhkan informasi tertentu. Bahkan tak jarang mereka saling mengajak untuk melakukan perjalanan bersama.

 

#10. Tujuan Perjalanan

Waktu teknologi belum secanggih sekarang, orang memandang traveling sebagai suatu kebutuhan. Para pelakunya ingin lepas sejenak dari rutinitas sehari-hari sembari menikmati pengalaman baru. Mereka berlibur dengan suka cita tanpa harus memikirkan bagaimana agar feed Instagram jadi keren. Bepergian sendiri, bersama teman, ataupun keluarga dilakoni tanpa hasrat ingin bersaing. Kalaupun ada, porsinya amat kecil.

Foto The Great Wall Beijing China

Pada masa kini, selain tujuan tadi banyak pula yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari eksistensi. Kalau belum melakukan jenis trip tertentu rasanya kok kurang keren. Kalau belum mengunjungi suatu tempat rasanya seperti tidak lengkap. Bahkan perjalanan tanpa membagikan foto di media sosial ibarat belum kekinian.

 

Tak ada yang salah dengan itu semua, selama dilakukan dalam batas kewajaran. Berbagi kebahagiaan versi dulu dengan sekarang memang nyata perbedaannya. Kalau dulu orang cukup puas dengan menceritakan kisahnya pada orang lain atau menulisnya di buku diary. Namun kini, orang membagikan rentetan kisah perjalanannya lewat media sosial maupun blog.

***

Akhirnya, bepergian dahulu maupun sekarang sebetulnya sama-sama menyenangkan. Pengalaman yang didapat juga berbeda. Walau zaman dulu rasanya lebih ruwet, namun aku sangat menikmatinya. Banyak pengetahuan dan pengalaman berbeda yang didapat bila dibandingkan dengan melakukan perjalanan di era digital.

 

Tiket pesawat juga semakin murah. Banyak yang hanya berkisar ratusan ribu rupiah saja untuk penerbangan pulang-pergi. Belum lagi kalau promo dan hanya perlu membayar pajak bandara. Jadi bila dihitung dengan kenaikan inflasi setiap tahun, sebenarnya harga tiket pesawat pada tahun 70-an lebih tinggi daripada sekarang, loh.

 

Kalau perjalanan di waktu dulu saja sudah berhasil aku lewati, tentu model perjalanan dengan bantuan teknologi modern seperti sekarang akan jauh lebih mudah. Mau pesan tiket apapun tak lagi sulit, selama ada uang dan akses internet.

 

Dengan biaya minim tak mustahil lagi untuk bisa menjejakkan kaki ke luar negeri. Padahal dulu mau berangkat ke Jakarta dari Medan saja masih mikir sebab harga tiket pesawat lumayan mahal!

 

Tapi aku terbilang cukup beruntung sebab saat menjadi mahasiswi perantauan di Bandung, Papa bersedia membelikan tiket pesawat pulang-pergi ke Medan sebanyak 2 kali dalam setahun bila libur kuliah tiba. Walau untuk membeli tiketnya aku harus mengurus surat keterangan dari kampus agar mendapatkan potongan (reduksi) harga tiket sebesar 25%. Lumayan banget, kan? Lucu kalau ingat masa-masa itu.

Peta perjalanan

Perjalanan adalah sesuatu yang sangat personal. Terkadang aku suka senyum-senyum sendiri bila menyaksikan ada segelintir orang yang lekas berbangga hati. Padahal mereka baru mencicipi jalan-jalan menggunakan transportasi pesawat mungkin sejak munculnya teknologi internet.

 

Barangkali tak terbayangkan olehnya kerepotan bila akan bepergian ke luar kota bahkan luar negeri pada zaman dulu. Toh mereka melakukan perjalanan di saat kemajuan teknologi sudah sedemikian memudahkannya.

 

Yuk kita kembalikan saja ke niat awal traveling. Yakni bagaimana memaknai perjalanan masing-masing tanpa ada persaingan terselubung. Karena sejatinya perjalanan adalah sesuatu yang harus diresapi dan mendapat pengalaman tak tergantikan, bukan semata-mata demi sebutan kekinian dan dianggap hebat.

 

 

 

 

 

 

47 thoughts on “Traveling, Antara Dahulu dan Masa Kini

  1. Semua poinnya bener banget 😀 beruntung banget pelesiran di zaman sekarang ya mbak Molly. Sebesar-besarnya tantangan jalan zaman now, tentu gak bisa ngalahi betapa serunya traveling zaman dulu.

    Liked by 1 person

  2. Ngutip kata Ipho Santosa, ke luar negeri ga harus bisa bahasa Inggris. Krena saat ini bukan itu hal utamanya. 😊
    Traveling jaman dulu emang banyak mengandung kesan yg sulit dilupakan, klo sekarang mungkin lbih dimudahkan saja..👌

    Like

    • Bahasa Inggris hanya mempermudah komunikasi aja, tapi cukup banyak membantu selama perjalanan. Yang penting keberanian dan perhitungan yang tepat supaya jalan-jalannya menyenangkan😀. Ngetrip zaman dulu lebih challenging daripada sekarang, menurutku. Karena dulu kita ngga punya ekspektasi apa-apa😊

      Like

      • Yups betul banget, Alhamdulillah saya bersyukur dulu kuliah ngambil Bahasa Inggris bukan ngambil komputer lalu dihukum, hikz..😄😄✌

        Perhitungan yg paling utama adlah keuangan kan? 🤗

        Tergantung, jaman dulunya itu kapan? 😁✌

        Klo sekarang paling enak itu ngetrip smbil bisnis..😎 ngetrip dapet, uang juga dapet. Ga cuma ngabisin uang..🤔🤔

        Like

  3. hmmm… berarti kalo dulu emang orang2 kaya aja ya yang bisa ke luar negeri dengan biaya sendiri.. hehehe…
    alhamdulillah sekarang saya juga bisa ngerasain ke luar negeri… banyak LCC, ga ada fiskal…

    Like

    • Hehehe ngga harus orang kaya sebetulnya, tapi memang yang berangkat terseleksi dengan sendirinya. Yang penting ada niat, semua bisa😀. Tapi sekarang juga enak, Mas. Banyak kemudahan untuk traveling terutama ke luar negeri. Dari sisi waktu dan biaya banyak keuntungan😊

      Liked by 1 person

  4. Yeeeyyyy aku yang suka trip di tahun 90an juga merasakan beberapa kemajuan pesat soal trip masa kini. Spot Instagramable jadi sasaran banget serta biaya trip yang juga gak murah lagi hehehehe kudu niat nabung supaya trip aman dan bertabur faedah ….. keceeee mbaaa Molly menguraikan soal trip kala dulu dan kini.

    Liked by 1 person

    • Bener, Mas Indra. Suka duka ngetrip di zaman sebelum ada internet rasanya wow banget, ya😀. Tapi zaman now malah lebih mudah segala-galanya. Pengalamannya beda dan beruntunglah kita yang pernah ngerasain ngetrip dulu dan sekarang😊. Kalau sekarang harus trip bertabur faedah biar kece😎

      Like

  5. Aku pernah rasain susahnya zaman dulu traveling :p. Pas aku kukiah, walopun udh ada internet, tp OTA blm ada mba. Ttp aja kalo beli tiket hrs ke travel, lumayan mahal pula. Ngerasain fiskal jg pernah, tp untungnya pas aku kuliah udah diapus :p. Seru sih memang kalo diinget. Penuh perjuangan bgt yaaa :p.

    Like

    • Seru ya kalau diinget-inget gimana ribetnya zaman dulu. Belum ada internet, semua serba manual. Tapi asiknya jadi beda ya, Mba Fan. Rasanya lebih wow pas sampai di tempat tujuan. Duh kalau inget kudu bayar fiskal, sempet bikin koyak tabungan. Hahahaha😂

      Like

  6. Semua yang Mbak Molly bilang itu mirip dengan pengalaman pas kami harus pindah lagi ke kota lain. Lebih mudah sekarang . Tinggal cari informasi di genggaman

    Dulu mah mau check in pertama kali di bandara aja, bingung. Mau nanya sapa coba. Tiket pun masih bentuk kertas berlembar – lembar itu. Yang harus dikirim via pos kalau orang yang dibelikan tiket jauh …. Hahaha

    Peta , hal wajib yang selalu aku beli juga Mbak. Kalo yang ini biarpun jaman udah canggih. Masih sangat membantu loh buat aku. Terutama untuk mengingat letak suatu tempat dan lebih mudah buat dibayangin. Sensasinya beda banget sama GPS ^^

    Like

    • Tiket berlembar-lembar itu aku juga ngerasain banget hahahaha😂. Ngga praktis ya, Dila. Tapi untuk urusan peta kertas aku sampai sekarang masih suka pakai. Rasanya lebih enak aja😊

      Like

  7. Ya ampun mbaaaak
    Aku ngakak liat kamera dengan roll film itu
    Inget banget masa2 itu. Gak bisa asal jeprat jepret. Bener2 harus diniatin fotonya, satu lokasi satu foto biar hemat hahaha
    Dan gak bisa ngulang klo jelek
    Lha wong ketahuannya pas dicetak

    Like

    • Kamera film kesayangan kita semua di masanya, Kak😂. Abis liburan buru-buru pingin cuci cetak foto buat dimasukin ke album, ya. Rindu juga kalau ingat itu hahahaha😀

      Like

  8. paling setuju soal bawaan banyak. kalo sekarang apalagi kayak aku, bawa HP sama powerbank udah cukup. bisa nyusun itinerary, booking tiket, searching mau ke mana abis ini, foto-foto, dengerin musik, “pamer-pamer”, wakakaka pokoknya all-in-one laaah.. terus juga ngerasain bangettttt ngettt perbandingan harganya. ampun deh dulu kayaknya tiket sekali ke JKT aja sebanding dengan 2-4 kali lipat tiket MDN-JKT yang sekarang. terus tiketnya mana bisa pake booking code doang kayak sekarang. kalopun bisa, nge-print berlembar-lembar di airport wakakaka. Mesinnya mesin print laser jet yang bunyinya khas betuul >,<

    Like

    • Minta ampun memang harga tiket pesawat zaman dulu, Fun. Bikin ngga bisa sering-sering ngetrip jauh karena kudu nabung dulu. Hahahaha😂. Dan aku masih inget banget tiket yang berlembar-lembar. Ngga praktis sama sekali, ih😣

      Like

  9. Sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana, pergi keluar negeri bukan semata karena eksistensi. Tapi lebih karena aku selalu penasaran sama negara lain yang selama inu kulihat di tv atau majalah.

    Perjalanan pertamaku ke luar negeri itu ke Kuala Lumpur berkat pekerjaan alias dinas. Pas landing tuh mau nangis inget kalo bisa bawa diri sendiri ke luar negeri. Sampai sekarang niat ke luar negeri juga karena selalu seneng abis traveling, banyak pelajaran dari negara lain yang bisa kita contoh 🙂

    Like

    • Pasti rasanya happy banget akhirnya keinginan jalan-jalan ke luar negeri itu kesampaian ya, Mba Lia. Soalnya pulang bisa bawa pengalaman baru. Nambah wawasan juga. Aku juga sama, biarpun pergi ke negara yang udah pernah dikunjungi tapi tetep excited😀

      Like

  10. Kalau buat aku traveling itu enakkan dlu mbak. Entahlah dengan traveling sekarang agak kurang sreg klo buat aku. Selain tempatnya yang udah banyak polusi, kotor, pengunjungnya pun kurang kooperatif..

    Like

    • Setiap masa ada plus minusnya barangkali ya, Mba. Kalau yang kurasakan sendiri zaman dulu ngetrip nya challenging banget. Kalau sekarang semua terasa jauh lebih sederhana dan mudah. Cuma memang sayang aja beberapa lokasi wisata jadi terlalu ramai dan ngga terjaga kebersihannya😣

      Like

    • Wah sama kita, toss! Hahaha😂. Kemana-mana bawa walkman buat hiburan soalnya belum ada henpon😜. Zaman now semua jadi lebih nyaman karena teknologinya udah lebih maju. Tapi kadang aku rindu masa-masa dulu yang rada ribet itu, Mba😀

      Like

    • Hahaha iya banget itu, Koh. Pamernya bisa paripurna😂. Aku juga nunggu-nunggu kapan nih bisa ngetrip bareng dirimu. Semoga tahun ini berjodohlah (((BERJODOH)))😀🤗

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s