Bagaimana Aku Melewati Kesedihan dan Rasa Kehilangan

Waktu masih muda, aku pikir kehilangan seorang kekasih adalah momen paling buruk yang pernah kualami. Ada perasaan sedih, kecewa, sekaligus marah. Begitu banyak perasaan negatif yang aku rasakan.

Memaknai rasa kehilangan orang tercinta

Saat usia bertambah, ternyata dalam hidup kita justru lebih sering mengalami kehilangan. Masalah datang bertubi-tubi membuat apa yang digenggam jadi terlepas. Menjadikan sesuatu yang semula membahagiakan jadi lenyap.

Selama masih bernafas, manusia tak bisa lepas dari perkara kehilangan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Mulai dari kehilangan jabatan, pekerjaan, harta, termasuk orang-orang yang dicintai.

Kita mengecap rasa sakit saat kehilangan. Tak jarang rasa itu begitu membekas sampai sulit untuk dilupakan. Menerobos masuk hingga ke pusat memori yang terdalam dan menetap di sana.

Perlahan kita mulai menghujat hidup yang terasa tak adil. Kenapa aku diberi pengalaman yang tak mengenakkan begini? Mengapa rasa sakit yang timbul membuat semangat hidup nyaris menguap?

Kehilangan yang terjadi

Aku pernah mengalami sebuah kehilangan besar. Pernah sedemikian kecewanya hingga mengutuk hidup. Kehilangan terbesar itu adalah peristiwa perampokan berdarah yang menghilangkan nyawa kedua orang tua dan seorang keponakanku di tahun 2015 lalu.

Baca : Hai Orang-orang Tercinta, Apa Kabar Kalian di Sana?

Aku mengalami shock, sedih, terguncang, dan marah sekali. Namun aku tidak tau harus melampiaskan kekecewaan itu pada siapa. Kegetiran yang aku rasakan pelan-pelan menyurutkan keinginan untuk melanjutkan hidup! Ya, aku sangat terpuruk.

Kehilangan orang tercinta membuat hidup terpuruk

Sepanjang hidup belum pernah aku merasa sakit hati begitu parah. Persoalan putus cinta zaman dulu maupun ditinggal mati seekor kucing kesayangan yang sudah kupelihara selama 14 tahun sungguh tak ada apa-apanya dibanding kesedihan kali ini.

Hatiku terasa dicabik-cabik. Aku sulit berpikir jernih untuk waktu yang cukup lama. Hari-hariku hanya diisi oleh bulir-bulir air mata yang mengalir deras tak kenal waktu. Barangkali sudah ratusan kali aku menangis dan menghabiskan berlembar-lembar tissue untuk menyekanya. Depresi? Mungkin, aku pun tidak tau mendefinisikan seperti apa.

Di tengah kepedihan yang kurasakan serta banyaknya pertanyaan dari orang-orang, aku tersadar bahwa aku tak bisa terus begini. Emosi negatif tak boleh dipelihara. Dan aku butuh penyaluran positif untuk mengeluarkannya.

Kata-kata simpati dari teman dan saudara yang ditujukan langsung padaku menjadi sumber semangat baru. Aku bersyukur masih banyak orang yang peduli dan mau mendoakan. Itu semua ibarat air hujan yang membasahi kekeringan hati kami sekeluarga.

Mencoba berhadapan dengan rasa sakit

Perbuatan keji para pembunuh itu tentu menimbulkan sakit hati. Namun aku lelah memelihara dendam terlalu lama. Pemahamanku tentang mengelola rasa sakit mulai bergeser. Aku tak lagi menghindari rasa sakit itu, tetapi berusaha menguatkan diri.

Aku hanya perlu menghadapi setiap kesakitan tadi. Merasakan dengan sepenuh hati lalu berdamai dengannya. Memaafkan apa yang telah terjadi. Sebab semakin kuat kita menghindar, sakit itu bukannya hilang. Malah semakin dalam masuk ke pikiran bawah sadarku.

Hal ini aku lakukan bukan untuk melupakan sebab, bukan pula untuk mengindahkan rasa. Namun untuk mengikis trauma dan menarik keluar memori negatif yang terlanjur masuk. Ini yang aku butuhkan.

Berdamai dengan keadaan pasca musibah

Kita memang tak bisa memilih kesedihan yang akan diterima. Jangan pula merasa tak pantas menerima musibah yang sedang dialami. Lupakan bertanya pada Tuhan mengapa kita diuji sebegitu berat. Sebab hanya Allah SWT yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hidup kita.

Aku memberi ruang pada diri untuk menerima keadaan pahit itu. Semua adalah takdir dan jalan hidup yang sudah digariskan. Peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini adalah netral. Memang harus berlangsung seperti itu. Kita manusia yang memberikan reaksi dan rasa dari setiap kejadian yang menimpa.

Menulis sebagai terapi jiwa

Tidak seorang pun menyangka bahwa aku mendapatkan musibah tepat sesaat setelah pulang berlibur. Waktu itu aku sendiri merasa dilema. Bingung antara harus sedih atau bahagia. Sungguh perasaan yang campur-aduk dan sulit diceritakan.

Selain mencoba berdamai dengan sedih, perlahan aku memaksa diri untuk menulis. Awalnya sulit karena aku musti memutar kembali ingatan tentang perjalanan ke China waktu itu.

Tak lama waktu berselang usai kejadian, aku mulai ngeblog lagi. Pasca musibah aku menulis hal-hal yang kurasakan sebelum dan sesudah kejadian. Lalu mencicil tulisan perjalananku bersama suami. Aku memutuskan tetap menulis sebab tidak ingin kenangan indah liburan berakhir begitu saja.

Aku percaya bahwa menulis adalah salah satu terapi jiwa. Lewat tulisan-tulisan itu aku berhasil mengeluarkan keping-keping kesedihan dengan cara positif. Seluruh cerita tadi mampu menambal kepedihan luar biasa yang kualami. Tak hilang, memang… tetapi aku paksakan saja untuk terus menulis dalam kondisi perasaan yang tidak menentu.

Baca : Surat untuk Mama Tersayang

Sering berjalannya waktu, sedikit demi sedikit aku semakin bisa berdamai dengan keadaan. Bahkan musibah itu justru semakin menguatkan.

‘Salut melihat Molly bisa bangkit dan terus melanjutkan hidup. Dirimu kuat dan tegar sekali’, begitu teman-teman berujar melihat aku tetap beraktifitas seperti biasa.

Percayalah, aku tidak sekuat itu.

Aku melalui fase sulit tadi dengan rapuhnya. Namun aku tidak punya pilihan selain harus kuat. Menyibukkan diri dengan menulis dan bertemu orang adalah salah satu usahaku agar tak terlalu sering melamun dan berduka. Walau jika kalian peka, kesedihan itu masih kerap terlihat di sela senyum dan kata-kata yang meluncur tanpa beban.

Ya, aku masih manusia biasa yang bisa lemah. Aku juga enggan berpura-pura kuat dan tegar padahal kecamuk rasa masih sangat mengganggu.

Ujian hidup yang penuh pelajaran

Aku berterima kasih telah diberi ujian hebat olehNya. Itu pertanda aku masih disayang hingga perlu diingatkan. Lewat ujian, aku belajar kuat dan berhenti menyesali nasib. Belajar bersyukur dengan warna-warni kehidupan yang mendewasakan ini. Semuanya merupakan pelajaran yang amat berharga. Aku benar-benar ditempa melalui peristiwa yang tidak diharapkan.

Orang-orang yang kini ada di sekeliling satu saat akan pergi satu persatu. Menghilang dari hidup kita dengan cara yang berbeda-beda. Berkaca dari pengalaman kehilangan sebelumnya, aku terus berlatih untuk menerima kejutan-kejutan dalam hidup yang mungkin tak selalu sesuai pesanan.

Yang aku pahami, Allah mengujiku tentu dengan maksud. Sabar dan kuatku lagi dicoba sampai ambang batas. Aku berupaya tetap berjalan ke depan dengan membawa kumpulan kenangan indah. Serta membuang amarah pada siapa pun yang aku anggap menjadi penyebab kehilangan itu.

Lewat tulisan ini aku ingin berbagi kepada siapa saja yang tengah berduka atas kehilangan. Menangislah untuk mengeluarkan emosi agar lega. Bersedihlah hingga air mata kering. Hadapi dan terima saja rasa sakitnya. Kemudian berdamailah dengan keadaan dan senantiasa berprasangka baik.

Mengenang yang tersayang seyogianya memberikan suntikan semangat baru bagi kita yang ditinggalkan. Ibarat menelan pil pahit, rasanya memang tak enak namun bisa menyembuhkan. Aku yakin bila bersabar, kita kelak akan memperoleh kebaikan yang tidak disangka-sangka. Aamiin.

Bangkit dari luka akibat musibah

26 thoughts on “Bagaimana Aku Melewati Kesedihan dan Rasa Kehilangan

  1. Aku ngilu setiap membaca tulisan bak mulih tentang kehilangan orang tua ini. Entah bagaimana rasanya bila tiba-tiba orang tua tercinta kita tiba-tiba direnggut begitu saja oleh penjahat, entah bagaimana rasanya sungguh tak terbayang. Untunglah Mbak Molly sudah melewati pasca trauma dan sampai kepada pemulihan rasa sakit. Ikut mendoakan selalu dirimu ditegarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga mama dan papa serta keponakan yang pergi ditempatkan semulia-mulia nya di sisi Allah. Amin

    Liked by 1 person

    • Aamiin. Kadang-kadang aku masih teringat juga sama peristiwa itu, Mba. Kalau udah gitu dada rasanya sesak. Seperti ada rindu yang pingin tumpah. Akhirnya aku ya nulis ini aja. Mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa ditarik oleh siapapun yang baca. Makasih banyak untuk doa dan support-nya ya, Mba Evi sayang😘 *peluk

      Like

  2. semoga ya kak, kakak diberikan kekuatan untuk terus berkarya, dan jadikan kehilangan sebagai semangat ya kan kak.
    memang sih aku belum pernah mengalami kehilangan berat, jadi sepertinya gak pantas untuk ngasih saran, tapi kakak pasti punya cara sendiri untuk bersahabat dengan kehilangan itu.

    Like

    • Aamiin. Makasih ya, Yog. Sampai sekarang aku masih terus belajar mengatasi kehilangan tadi. Alhamdulillah berkat support keluarga dan temen-temen semua, aku bisa kembali beraktifitas normal dan coba untuk produktif nulis lagi☺.

      Like

  3. Dari pertama kakak kasih tulisan ini ke aku, baru ini aku cerna satu per satu setiap kata yang mengalir dari tulisan ini. Dan aku kembali meneteskan air mata ini kak. Kenapa begitu sulit untuk kembali seperti semula. Ya, benar yg kakak katakan bibir ini bisa tersenyum di depan banyak orang tapi hati tak bisa berbohong kalau ada kehampaan disana. Maaf ya kak, aku jadi curhat. Dan makasih juga udah menuliskan kisah ini. Semoga waktu segera memulihkan hati kita ya kak…

    Liked by 1 person

    • Sama-sama, Sri. Mari saling menguatkan. Karena ditinggal orang tercinta itu bebannya berat. Tapi percayalah, pelan-pelan waktu akan menyembuhkan dukanya. Semangat terus, ya☺

      Like

  4. Tetap semangat menjalani hidup,kak.
    Anggap saja, seseorang yang pernah singgah fi hato dan pergi dari sisi kita itu bukan kekasih yang tepat buat hidup kita.

    Dulu pertamakali aku putus cinta juga ngerasain seakan dunia jadi gelap dan ngga ada arti.
    Tapi seiiring usia, hubungan cinta gagal lagi … kubuat santai pikiran.
    Lebih baik menyayangi diri sendiri.

    Like

    • Iya selalu semangat kok ini☺. Tapi kehilangan berat yang kuceritakan di postingan ini bukan soal kekasih hati, melainkan kehilangan kedua orang tua dan seorang ponakan lewat sebuah peristiwa perampokan berdarah😢.

      Like

  5. Mba Molly gak terbayang gimana perasaanmu mba, tapi aku coba untuk memahami.. Dan di akhir tulisan ini aku jadi nangis.. Perasaan sedih aku kayak keluar semua.. Terima kasiiiih Mba Molly sudah berbagi.. Semoga aku pun bisa mengeluarkan energi positif dari kesedihan yg pernah aku alami.. Semangat nulis selalu ya mba.. :* PelukjauhdariDepok..

    Liked by 1 person

    • Semoga tulisan curhat ini bermanfaat ya, Mba Dita. Karena tiap orang pasti punya cara untuk menumpahkan perasaannya. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita. Peluk untukmu😘😘

      Like

  6. Aku mungkin belum pernah ngerasain kehilangan yg mendadak dan sadis seperti itu. Ga bisa dibayangin sedihnya seperti apa.. 😦 . Tapi aku percaya, segala sesuatu udah tertulis di Lauhul Mahfudz. Dan Allah ga mungkin kasih cobaan yg ga bisa kita tanggung. Sebagai anak kita cm bisa kirim doa ya mba. Biarlah yg salah mendapat hukuman di dunia, dan nanti di akhirat. Aku masih percaya hukum Allah ga akan luput kok. Salut jg buat mbak yg bisa tegar dan bangkit lg

    Like

    • Betul Mba Fan, karena aku pun percaya semua takdir yang digariskan untuk hidup kita pasti ada hikmahnya. Allah ngga akan pernah ngasih cobaan di luar batas kemampuan. Semoga kita tetap berbaik sangka ya, Mba☺

      Like

    • Terima kasih, Mba Chela. Kadang-kadang kita ngga punya pilihan selain harus kuat menghadapai peristiwa yang tidak enak. Tapi aku percaya ujian apapun pasti bisa dilewati☺.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s