Turki yang Menakjubkan (Bagian 1)

Hari pertama berada di Istanbul,  kami langsung mengunjungi 3 tempat wisata yang sangat terkenal yaitu Hippodrome, Sultanahmet Camii (Blue Mosque) dan Hagia Sophia (Aya Sofia). Ketiga tempat tadi berada di satu area yang sama dan berdekatan. Untuk mencapai Hippodrome dari tempat perhentian bus kami harus berjalan sekian ratus meter melewati jalan kecil yang diapit oleh toko-toko dan beberapa tempat makan. Hippodrome adalah satu area terbuka dan bebas untuk umum dimana dulunya merupakan area balapan kereta kuda. Kini area terbuka itu disebut At Meydani (alun-alun) yang tepat berada di samping Sultanahmet Camii (Blue Mosque). Saat ini, sisa kejayaan Hippodrome yang tersisa adalah 3 buah monumen yang masih kokoh.  Dulunya lokasi ini menjadi area olahraga bagi kalangan atas Bizantium (Sumber : Best of Turki).

Monumen 1 : Obelisk of Thutmose III

Pada masa itu Hippodrome dipenuhi oleh berbagai patung dewa, patung kaisar, dan hiasan lain seperti patung 4 ekor kuda. Kini yang tersisa hanyalah 2 buah Obelisk (Obelisk Thutmose III dan Obelisk Constantine). Obelisk Constantine hanya tersisa blok-blok batu penyusunnya saja.

Monumen 2 : The Serpent Column (yang berwarna kehijauan) dan Monumen 3 : The Walled Obelisk (monumen tinggi dibelakangnya)
Masih di area Hippodrome
Masih bisa senyum padahal dinginnya minta ampun ! Nampak sisa guguran salju di jaket dan kacamataku

Setelah mengabadikan beberapa foto dengan kondisi tangan beku kedinginan, kamipun berjalan menuju Sultanahmet Camii yang lebih dikenal dengan Blue Mosque. Kenapa disebut demikian? Sebagai satu-satunya mesjid di Istanbul yang memiliki 6 menara dan  dibangun pada masa Sultan Ahmet I (kini beliau dimakamkan di halaman masjid) ini memiliki interior yang dihiasi oleh keramik biru buatan Iznik.  Kita dapat masuk ke kompleks masjid tanpa dikenakan biaya.

Area tengah masjid

Untuk masuk ke dalam masjid, kita akan melewati koridor yang berada disisi kanan dari gerbang masuk utama. Pilar-pilar besar yang tersusun mendominasi koridor. Sesaat sebelum memasuki masjid, kita harus mengantri lumayan panjang dan bila sampai di pintu masjid kita bisa mengambil plastik-plastik yang disediakan khusus, lalu membuka sepatu untuk dimasukkan ke dalam plastik tersebut dan membawanya ke dalam masjid. Tiba di dalam masjid terdapat rak kayu untuk meletakkan sepatu-sepatu tadi. Bila berkunjung ke Blue Mosque ini harus berpakaian sopan, dan untuk wanitanya sebaiknya mengenakan tutup kepala seperti selendang/pashmina. Aku sendiri menutup kepalaku dengan syal yang aku pakai. Seperti inilah adab untuk masuk masjid.

Koridor masjid
Antrian untuk masuk ke dalam masjid
Interior masjid yang sangat indah
Interior di langit-langit masjid

Sultanahmet Camii dibangun pada tahun 1609 dan selesai di tahun 1616 untuk menandingi keindahan Hagia Sophia yang letaknya persis di depan kompleks masjid (Sumber : Best of Turki). Pada hari itu suasana didalamnya cukup padat oleh wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan masjid. Area khusus untuk sholat telah diberikan pembatas hingga tak akan terganggu oleh kehadiran para wisatawan. Bila azan terdengar dan dilakukan sholat berjamaah, maka dilarang mengambil foto. Waktu kami datang kesana kebetulan belum masuk waktu untuk sholat Zuhur, padahal ingin sekali rasanya sholat di tempat itu.

Di tengah kerumunan para wisatawan dari berbagai negara

Aku dan suami sebenarnya masih ingin berlama-lama di area masjid namun jadwal tur yang sangat padat mengharuskan kami meninggalkan tempat ini. Belum puas memotret keindahan interiornya, ditambah lagi padatnya wisatawan yang berada di dalam masjid sedikit banyak menyulitkan untuk mengambil foto tanpa terlihat kerumunan manusia. Kamipun keluar meninggalkan masjid sambil memakai sepatu kembali dan membuang plastik tadi pada tempatnya. Tujuan berikutnya adalah Hagia Sophia.

Berjalan kaki keluar dari area masjid, kita akan menemui lapangan terbuka dengan bangku-bangku panjang tersusun rapi. Karena saat itu sedang badai salju dan udaranya dingiiiin sekali disebabkan angin yang bertiup kencang, nyaris tak ada seorangpun yang duduk-duduk disana. Disekitar area tersebut tampak beberapa penjual makanan dengan gerobak kecil. Rata-rata mereka menjual roti khas Turki yang berbentuk bulat berwarna kecoklatan yang tak selembut roti di Indonesia. Tapi karena dingin menusuk tulang, rasanya kok lapar juga ya… hahaha. Aku dan suami tak lupa membeli roti yang dijual seharga TL 2 (1 TL = IDR 5.700). Lumayan buat ganjal perut sebelum makan siang !

Tepat di depan Blue Mosque tampak Hagia Sophia dengan megahnya. Bangunan berwarna terakota itu memang berada persis di depan kompleks Sultanahmet Camii yang merupakan saksi bisu aneka peristiwa bersejarah di Konstantinopel, dan dibangun di masa Constantine I saat Konstantinopel menjadi pusat budaya dan agama Kristen Ortodoks. Hagia Sophia menjadi katedral terbesar di dunia hampir 1000 tahun lamanya, sampai kebesarannya dikalahkan oleh Katedral Seville di Andalusia Spanyol yang dibangun tahun 1520. Untuk masuk kedalamnya kita harus mengantri cukup panjang dan membayar tiket masuk sebesar TL 25. Hagia Sophia buka setiap hari kecuali hari Senin (Sumber : Best of Turki).

Latar belakang Blue Mosque
Latar belakang Hagia Sophia

Hagia Sophia adalah sebuah basilika ortodoks lalu berubah fungsi menjadi katedral katolik. Ketika Sultan Mehmet II menaklukkan Istanbul pada tahun 1453, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi sebuah masjid hingga kesultanan Ottoman berakhir dan diproklamirkannya Republik Turki tahun 1923. Tempat ini lalu ditutup untuk umum dan dibuka kembali sebagai museum hingga kini (Sumber : Best of Turki).

Lampu yang tergantung indah

Saat memasuki Hagia Sophia, tampak sejumlah renovasi sedang dilakukan di area tengah museum. Hal ini sedikit mengurangi kenyamanan pengunjung sebab sulit melihat keindahan langi-langitnya secara utuh. Aku dan suami juga mengalami sedikit kesulitan saat mengambil foto. Walaupun demikian tak sampai mengurangi kekagumanku akan keindahan interiornya. Kesan mewah dan megah langsung terasa, sejumlah pilar-pilar raksasa tampak didalamnya.

Ornamen ke-Islaman masih terlihat saat Hagia Sophia difungsikan sebagai masjid. Karya kaligrafi berukuran besar tampak tergantung dari puncak pilar tinggi yang berlafadzkan Allah, Muhammad SAW serta 4 nama para sahabat Rasulullah. Sejumlah lukisan religius Kristen, sewaktu Hagia Sophia difungsikan sebagai masjid, ditutup dengan semacam cat, dan kini saat menjadi sebuah museum dimunculkan kembali (Sumber : Best of Turki).

Pintu masuk menuju Hagia Sophia
Interior di langit-langit
Kaligrafi berlafadz Allah dan Abubakar (sahabat Rasulullah)
Kaligrafi berlafadzh Allah dan Muhammad SAW mengapit lukisan Bunda Maria

Setelah mengunjungi ketiga tempat tadi, kamipun makan siang di salah satu restoran khas Turki di dekat lokasi tadi. Lalu kamipun langsung menuju luar kota yaitu Canakkale, dimana sebelumnya harus menyebrangi Laut Marmara menggunakan ferry selama kurang lebih 20-30 menit. Canakkale berada disisi Asia daripada Turki, sementara kota Istanbul berada di sisi Eropa. Malam hari kamipun tiba di Canakkale dan bermalam di Iris Hotel Canakkale. Usai sudah perjalanan untuk hari ini, kamipun harus beristirahat untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya. Badanku rasanya udah pegel gak karuan, capek, kedinginan, dan pelan-pelan barulah mulai menyesuaikan diri dengan keadaan disana.

Keesokan harinya setelah sarapan pukul 7 pagi waktu setempat, kami berdua menyempatkan untuk berfoto didepan hotel. Begitu pintu hotel terbuka, wuuussshhh…. angin kencang yang sangat dingin langsung menyambut kami. Guguran salju juga tak henti menerpa wajah, namun aku dan suami tetap memaksakan diri untuk berfoto di tengah badai salju. Saat itu langit masih belum terlalu terang, hanya kabut putih yang tampak. Mau berfoto aja buru-buru saking dinginnya… bbrrr ! Beberapa foto jadi agak blur karena jari membeku.. hahaha. Kalau gak salah temperatur saat itu mencapai 1 derajat Celcius dan berangin kencang.

Pose di depan hotel sambil kedinginan
Semuanya putih tertutup salju !

Tujuan kami pagi itu adalah menuju Gallipoli yang merupakan kawasan bersejarah pada zaman Perang Dunia I untuk mengunjungi kotaTroia untuk melihat puing-puing kota Troia dan Patung Kuda Trojan di Canakkale. Tiket masuk kesana sekitar TL 15/orang. Tempat ini menceritakan perang yang telah dipersiapkan selama 10 tahun oleh raja Sparta dan memberi hadiah kuda kayu pada kota Troy, hingga akhirnya kota Troy berhasil dihancurkan. Kalau pernah menonton film Troy (tahun 2004) yang dibintangi oleh Brad Pitt, pasti ingat akan kuda kayu ini (Sumber : Best of Turki).

Setelah melewati gerbang masuk lokasi
Patung kuda Trojan setinggi 2.5 meter dan terdiri dari 2 tingkat

Di lokasi seluas 13.000 hektar lebih ini terdapat banyak sekali puing-puing kota Troia yang tersebar. Karena saat itu salju cukup tebal, semua permukaan menjadi putih tertutup oleh salju. Beberapa diantaranya sempat aku abadikan lewat kamera.

Di tahun 1996 pemerintah Turki menjadikan kota tua Troia sebagai Taman Nasional Bersejarah, dan 2 tahun sesudahnya UNESCO menjadikannya sebagai salah satu warisan dunia (Sumber : Best of Turki).

Kami melanjutkan lagi perjalanan dengan bus menuju tempat lainnya. Untuk itu, ikuti aja perjalanan kami menuju Pergamon dan Kusadasi yaa… (bersambung)

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s