Turki yang Menakjubkan (Bagian 2)

Setelah mengunjungi Troia, bus melaju membawa kami menuju ke Pergamon. Sepanjang perjalanan tampak guguran salju menyelimuti apapun yang terlihat di kanan dan kiri jalan. Pohon-pohon dan perbukitan tertutup salju, begitu juga atap-atap rumah. Nyaris gak terlihat aktifitas warga diluar, mungkin mereka memilih untuk berdiam di rumah aja selama gak ada keperluan yang mendesak. Kabut juga membuat pandangan mata sedikit terhalang. Menurut tour guide kami, memang ini adalah musim dingin terekstrim di Turki selama kurun waktu 35 tahun terakhir (bisa dibayangkan dinginnya kayak apa kan?). Angin yang berhembus sangat dingin itu konon berasal dari Siberia. Dan kami berdua berkesempatan “menikmati” rasa dingin itu pada kunjungan ke Turki kali ini. Aku gak tau ini menjadi suatu keuntungan atau malah malapetaka… hahaha. Canakkale memiliki suhu udara yang lebih dingin daripada kota Istanbul, sebab saat kami berada di Istanbul kemarin salju tidak begitu tebal, sementara di Canakkale terlihat tumpukan salju tebal dimana-mana.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam kami beristirahat di salah satu tempat perhentian semacam rest area. Disana terdapat toilet-toilet yang bersih, dan tempat untuk membeli keperluan seperti mini market berikut tempat untuk sekedar ngopi. Bus berhenti selama kurang dari 30 menit di kawasan kota kecil yang aku sendiri lupa namanya apa… hehehe. Disana aku dan suami mencicipi (lagi) roti bakar khas Turki dengan isi keju putih yang nyaris meleleh.

Warga Turki terbiasa memakan roti dengan teh hitam (black tea) atau teh apel (apple tea) yang disajikan dalam gelas mini berbentuk seperti bunga tulip yang terbuat dari kaca tipis yang transparan dan diberi alas dari bahan yang sama. Alas piring kecil kadangkala terbuat dari kaca, porselen ataupun berbahan metal. Tersedia sugar block dalam wadah khusus atau kadangkala terbungkus rapi mirip permen agar kita bisa menambahkan gula sesuai keinginan. Black tea dalam bahasa Turki disebut Cay. Desain gelas kaca yang mini ini terasa spesial karena bentuknya melebar di bagian atas, lalu ramping di bagian tengah dan melebar lagi di bagian bawahnya. Bagian bawah pinggang untuk menjaga supaya teh tetap hangat, bagian atas pinggang berguna untuk menjadikan teh lembut serta melindungi dari rasa panas. Warga Turki sendiri menjadikan minum teh ini sebagai salah satu tradisi mereka dimana meminumnya dilakukan saat sarapan di pagi hari, bersantai di sore hari dan sesudah makan malam (Sumber : Best of Turki). Diluar waktu-waktu tadi tak lazim bagi mereka menikmati teh. Sementara di Indonesia minum teh bisa kapan aja tak kenal waktu ya… Teh ini juga kerap disajikan saat menjamu tamu atau bahkan bila berkunjung ke beberapa toko di Turki. Ini menunjukkan keramahan warga Turki.

Bread toast with cheese dan Black tea (Cay)
Kota kecil saat perjalanan

Di sepanjang jalan menuju ke Pergamon tampak pohon-pohon zaitun penghasil olive oil. Pohon zaitun berwarna hijau keabu-abuan. Turki termasuk salah satu negara produsen olive oil. Mereka kerap menggunakannya untuk keperluan memasak hingga hampir semua makanan disana menggunakan olive oil. Selain itu olive oil juga digunakan untuk kecantikan dan pengobatan luar. Khasiat dari olive oil sendiri dipercaya sangat baik untuk kesehatan maupun kecantikan.

Deretan pohon-pohon zaitun di sepanjang jalan

Turki memang sangat unik dari segi cuaca. Dua kota sebelumnya memiliki cuaca dingin yang cukup ekstrim, namun di perjalanan kami merasakan perbedaan cuaca yang sangat mencolok. Ada beberapa daerah yang bahkan tak ada salju samasekali, namun angin tetap terasa dingin. Ada kalanya tiba-tiba hujan turun di tengah-tengah perjalanan dan tak lama kemudian muncul sinar matahari.

Untuk melepaskan lelah, bus pun berhenti di tempat tertentu untuk memberikan kesempatan meluruskan kaki, ke toilet (warga Turki menyebutkan WC seperti Indonesia, WC untuk pria = Bay, WC untuk wanita = Bayan, dalam bahasa Turki) dan sekedar minum serta membeli makanan ringan. Selain teh, kopi juga merupakan minuman khas Turki. Kopi Turki (Turkish coffee = Kahve, dalam bahasa Turki) juga disajikan dalam cangkir kopi (disebut Fincan) yang berukuran mini berikut alasnya, namun tidak bening seperti wadah untuk menyajikan teh. Alat pembuat kopinya juga berbeda, karena kopi dan gula dimasukkan ke dalam pot khusus yang disebut cezve (terbuat dari tembaga, memiliki pegangan yang panjang terbuat dari kayu), lalu dimasukkan air dan dimasak hingga mendidih. Aroma kopinya sangat khas karena sedikit bercampur dengan rempah.

Bila kita masih ingin menikmati minum kopi, jangan sekali-sekali meletakkannya gelas kopi dengan posisi terbuka, sebab bila demikian maka pramusaji tak segan-segan langsung mengambilnya dari meja kita tanpa bertanya dulu karena dianggap udah selesai minum. Sebaiknya tutup gelas kopi kita dengan piring alasnya supaya kita gak “kehilangan” kopi saat masih ingin menikmatinya. Warga Turki kayaknya gak bisa liat gelas atau piring nganggur (apalagi udah kosong), langsung diangkat tanpa basa basi… hehehe. 

Turkish coffee

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya tibalah kami di Asklepieion yang merupakan pusat penyembuhan kuno di kota yang dulunya disebut Pergamon dan sekarang menjadi The Turkish City of Bergama. Diberikan nama setelah penyembuhan dewa Asclepius dan ada pada awal abad ke 4 sebelum Masehi, Asklepieion adalah percampuran antara pusat medis dan spa, dengan fasilitas dimana pasien bisa bersantai dan menikmati waktu mereka sendiri dengan kegiatan rekreasi yang berlangsung di 3500 buah kursi yang terdapat di theater.

Para pasien akan menikmati mandi lumpur, pertunjukan musik dan bahkan diberikan air dengan dosis tertentu dari mata air suci yang memiliki sifat radioaktif. Salah satu keunikan dari Asklepieion ini, pada masanya dulu tempat ini tidak serta merta menerima pasien secara sembarangan. Mereka menolak pasien yang dalam keadaan sekarat, sebab tempat ini memiliki reputasi untuk memberikan layanan terapi kesehatan, bukan untuk menyembuhkan pasien sakit parah. Wah… unik juga ternyata ya?

Lokasi Asklepieion yang dikelilingi oleh pegunungan
Sisa bangunan yang masih ada

Setelah mengunjungi Asklepieion, kami meneruskan perjalanan hingga akhirnya mampir sejenak di sebuah kota kecil tak begitu jauh dari lokasi tadi.  Di perjalanan. bus sempat berhenti sejenak selama kurang lebih 15-20 menit.

Di salah satu rest area

Saat melewati Selcuk, bus pun berhenti di salah satu toko yang menjual aneka kacang-kacangan, manisan, olive oil dan tentunya teh serta kopi, Mozaik Lokum. Lokum atau biasa disebut Turkish Delight, adalah gula-gula kenyal terbuat dari gula dan tepung kanji. Lokum telah ada sejak abad ke-15, namun saat ini rasa Lokum semakin beragam. Ada yang berbahan dari buah-buahan, kenari, coklat, teh hijau dan lain-lain. Sebelum membeli, biasanya disediakan sample untuk dicicip dahulu. Pemilik toko yang ramah dan kocak memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang produk-produk yang tersedia, agar gak membingungkan saat memilih. Ia juga bisa menyebutkan beberapa istilah kata dalam bahasa Indonesia seperti “campur-campur”, “murah”, “beli 3 gratis 1” dan lainnya.

Sekilas suasana kota Selcuk
Aneka cemilan yang enak rasanya

Akupun membeli beberapa jenis seperti teh (apple tea, black tea, pomegranate tea), kopi, olive oil untuk perawatan kulit (kalau untuk keperluan masak beda lagi jenisnya lho) dan sedikit coklat khas Turki. Ada yang sedikit mengejutkan, disini juga ternyata menjual viagra ala Turki… hahaha. Minyak dengan tutup botol bergambar yang khas membuat aku tertawa-tawa ! Aduh, siapa juga yang mau beli model beginian ya? Hehehe…

Olive oil untuk perawatan kulit yang aku beli dari Mozaik Lokum
Turkish Viagra
Di depan toko Mozaik Lokum sambil menenteng belanjaan.. hahaha
Sebelum pergi, foto dulu ah dengan pemilik tokonya yang lucu

Kelar membeli-beli sedikit buah tangan, perjalanan dilanjutkan dengan makan siang dan langsung menuju ke Kusadasi untuk bermalam di Coast Light Hotel. Kamipun beristirahat dan mengumpulkan tenaga kembali supaya besok pagi fresh dan siap meneruskan perjalanan menuju Leather Factory Outlet, Ephesus, dan House of Virgin Mary (bersambung).

Advertisements

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s