The Great Wall of China : Sebuah Maha Karya

The Great Wall of China: Sebuah Maha Karya — Tak terasa aku dan suami telah memasuki hari ketiga berada di Beijing. Tatkala pagi menjelang, aku melihat cuaca pagi yang sangat cerah dari balik jendela kamar hotel. Aku sangat bersemangat sebab pagi ini kami akan berjalan sedikit menuju ke luar kota Beijing untuk melihat sebuah maha karya yang sangat luar biasa dan terkenal. Tempat yang merupakan ikon penting di Beijing ini menjadi tempat yang wajib didatangi oleh setiap pengunjung.

20151015_071444
Terminal bus

Siapa yang tak kenal dengan Tembok Besar (Changcheng) di China? Bangunan ini menandai puncak kekuasaan dan tirani dinasti-dinasti China kuno, sekaligus kehebatan kemampuan teknis mereka. Ia juga menandai sikap tertutup China yang pada akhirnya gagal.

 

Banyak cara termudah untuk bisa mencapai The Great Wall, yakni mengikuti paket tur lokal. Hotel tempat kami menginap pun menyediakan jasa ini. Namun aku sudah bertekad sejak masih berada di Medan untuk mencapai tempat itu dengan usaha sendiri ! Dan kami harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin untuk memperkecil kemungkinan bakal tersasar (lagi).

 

The Great Wall memiliki 4 section yang dapat dipilih bila berkunjung kesana, yakni Badaling, Mutianyu, Jinshaling, dan Simatai. Badaling adalah bagian tembok besar  yang paling dekat dari kota Beijing dan paling banyak didatangi oleh pengunjung. Saking populernya tempat ini cenderung touristy alias terlalu banyak turis terutama pada musim panas. Jinshaling sebenarnya cukup menarik namun memiliki tanjakan-tanjakan yang lebih sulit dan sesuai bagi orang yang terbiasa hiking. Sementara Simatai adalah bagian yang terjauh dari kota Beijing, dan memiliki kontur tanjakan yang lebih sulit lagi sehingga disarankan hanya sesuai bagi yang terbiasa hiking.

 

Aku memilih Mutianyu sebagai bagian dari tembok besar yang akan kami kunjungi. Mengapa? Karena kami mengunjungi Beijing pada pertengahan musim gugur (fall), dan di musim ini konon kabarnya kita bisa melihat daun-daun pohon sycamore berubah warna. Mutianyu memiliki lebih banyak pepohonan dibandingkan Badaling. Selain itu, Mutianyu memiliki arsitektur yang lebih baik daripada Badaling, dengan lebih banyak menara pengawasnya.

 

Menuju The Great Wall Mutianyu Section

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 7.30 pagi dan berjalan kaki menuju stasiun subway Wangfujing. Dari sana kami bergerak menuju stasiun Dongzhimen dan keluar melalui Exit B. Lalu kami harus mencari keberadaan terminal bus yang akan membawa kami menuju ke Mutianyu. Setelah sempat sedikit bingung, akhirnya kami menemukan letak pintu masuk terminal bus yang hanya berjarak lurus sekitar 100 meter dari pintu keluar subway.

 

Walau hari masih pagi namun antrian untuk menaiki bus umum bernomor 916Express (ditandai dengan aksara China dibelakang nomor) sudah mulai ramai. Tak perlu terlalu lama mengantri sebab bus yang tersedia cukup banyak, sehingga bila bus telah penuh akan tersedia bus lainnya di belakang. Kami berdua mengantri sekitar 30 menit sampai akhirnya bisa duduk manis di dalam bus. Sebelum menaiki bus, kartu Yikatong di-tap-kan pada sebuah mesin yang terletak di dekat pintu bus. Biayanya sekitar CNY 12/orang

 

20151015_071657
Perhatikan nomor busnya yaitu nomor 916 yang diikuti aksara China tepat dibelakang nomor
20151015_072551
Perjalanan dimulai !

 

Hampir Nyasar Lagi !

Mutianyu Great Wall berada 73 km di sebelah timur laut Beijing, di wilayah Huairou. Perjalanan menuju Mutianyu ditempuh kurang lebih 2,5 jam dari terminal bus Dongzhimen. Bus yang kami naiki berhenti di beberapa halte selama dalam perjalanan. Sewaktu menaiki bus, sekilas pandang hanya terlihat warga lokal di dalamnya. Dan… eh.. ada 2 orang bule ikut naik bus bersama kami. Jujur aku merasa sedikit lega, sebab bule tadi bisa menjadi panduan untuk kami berdua supaya tak salah turun dari bus… hihihi.

 

Di dalam bus nyaris tak ada petunjuk bertulisan latin. Aku melirik ke arah kanan tempat dudukku, namun sepertinya penumpang yang duduk di sisi kanan kami asyik sendiri ngobrol di handphone-nya sehingga tak mungkin bisa ditanya. Ternyata di sisi atas sebelah kanan terlihat semacam jalur perhentian bus di halte. Sayangnya tulisan latinnya juga terlalu kecil hingga nyaris tak terbaca samasekali. Lagipula kami gak tau untuk tiba ke perhentian yang semestinya, harus melewati berapa banyak halte.

“Jangan tertidur ya bang, nanti kita bisa salah turun”, aku mengingatkan suamiku.

 

Bus melaju cukup kencang di jalan yang mulus. Aku pun sempat memejamkan mata sejenak karena mengantuk. Setelah hampir 2 jam perjalanan tiba-tiba bus berhenti di sebuah halte, dan aku melihat 2 orang bule tadi turun dari dalam bus diikuti oleh beberapa orang lokal lainnya ! Loh… kok ? Mereka kenapa turun disini ya ? *mulai was-was*. Aku yakin mereka adalah turis yang akan menuju ke lokasi yang sama dengan kami berdua. Seingatku untuk menuju ke Mutianyu kita bisa berhenti di halte Huairou Bei Dajie. *akupun gak ngerti mana halte yang dimaksud*.

 

Kamipun merasa bingung, sebab tak bisa bertanya dengan sang supir bus. Lalu suamiku bertanya pada seseorang yang baru saja naik dari sebuah halte saat bus tersebut berhenti. Dengan komunikasi ala kadarnya akhirnya ia menunjukkan halte tempat kami seharusnya turun. Namun kenapa hanya ada 2 orang saja yang ikut turun bersama kami? Sisa penumpang yang ada di dalam bus ini sebetulnya akan menuju kemana?  *mulai panik*.

 

Saat turun dari bus, di depan kami ada seorang bapak warga lokal yang mencoba menawarkan untuk mengantarkan kami menuju ke Mutianyu. Ternyata ia seorang supir taxi. Untuk menuju ke The Great Wall Mutianyu Section memang kita harus menggunakan jasa mobil carter dari Huairou. Awalnya kami enggan, namun karena di sekitar lokasi halte tak terlihat ada mobil yang lain maka kamipun mulai bertanya masalah tarif. Walau ada hambatan komunikasi dan hanya menggunakan smartphone-ku untuk mengetikkan jumlah angkanya, negosiasi tarif berlangsung cukup alot. Berdasarkan informasi dari internet yang aku peroleh, tarifnya memang tak semahal itu.

 

Malangnya, aku tak tau pasti posisi kami berdua sekarang berada dimana. Apakah sudah dekat dengan terminal bus Huairou atau bahkan masih cukup jauh. Oh Tuhan… kenapa kami harus nyasar lagi?  *mewek*. Hal ini juga yang membuat kami berdua tak bisa mengukur jauhnya jarak dengan tarif yang coba ditawarkan olehnya  *mulai pasrah bin nyerah*. Akhirnya kamipun menyepakati harga untuk mengantarkan kami hingga ke Mutianyu adalah sebesar CNY 80 untuk sekali perjalanan. Whoaaaa… padahal harusnya bisa lebih murah kalau satu mobil bisa diisi beberapa orang lagi supaya bisa patungan bayarnya ! Tapi sudahlah… kalau gak nyasar kan rasanya juga gak ada tantangan… hahaha  *menghibur diri sendiri padahal sebel*. Aku dan suami hanya berharap mudah-mudahan kami memang betul-betul dibawa ke lokasi tujuan dan bukan malah dibawa ke tempat yang tak semestinya. Bismillaahirrahmaanirrahim

 

Sepertinya perjalanan menuju ke Mutianyu memang tak dekat. Sepanjang perjalanan aku berusaha mengingat-ingat beberapa titik agar saat kembali nanti tak makin bingung. Mobil melaju mengikuti arah jalan yang berkelok-kelok. Aku melihat ada signboard di tepi jalan yang menunjukkan jarak menuju ke Mutianyu. Alhamdulillah, sepertinya kami memang tak dibawa sang supir berkeliling entah kemana  *sedikit lega*. 

 

Setelah perjalanan sekitar 40 menit, kami pun turun di sebuah tempat lalu harus berjalan kaki lagi sekitar 200 meter hingga tiba di gerbang masuk Mutianyu. Menurut sang supir, mobil tak bisa parkir di pelataran yang tersedia sebab hanya bus-bus pariwisata yang boleh parkir disana. Aku cukup mengerti mengingat kami berdua menaiki mobil carter biasa. Namun sang supir cukup berbaik hati dan mengantarkan kami tepat di depan loket pembelian tiketnya.

 

Aku dan suami memasuki toilet yang ada di Mutianyu sebelum membeli tiket. Walaupun toilet umum di China terkenal sangat jorok, namun toilet di tempat ini cukup bersih dan terawat.

2015-12-10 12.08.00
Mutianyu Section

Usai membeli 3 lembar tiket (tiket shuttle bus, tiket masuk lokasi dan tiket cable way untuk pulang pergi), sang supir menawarkan untuk menunggu kami dan akan membawa kembali ke Huairou agar kami bisa menaiki bus menuju Dongzhimen di Beijing. Karena malas repot dan sudah terlanjur sampai disini, kamipun sepakat akan membayar tambahan CNY 80 lagi nanti sesudah selesai dan tiba di Huairou. Anggap saja kami berdua carter mobil pribadi untuk pulang pergi. Memang sih jadinya rada mahal, tapi daripada pusing lagi mikirin mau baliknya gimana kan? Dengan bahasa Inggris yang sangat terbatas, sang supir malah mengatakan agar kami tak usah membayar apapun sekarang, tapi nanti saja sekalian saat ia mengantarkan kembali ke Huairou.

 

Kami berdua berjalan kaki di antara banyak sekali toko yang menjual souvenir. Terlihat juga ada beberapa cafe untuk bersantai. Tujuan selanjutnya adalah naik shuttle bus menuju lokasi. Adapun tiketnya sudah kami beli sekaligus di loket penjualan tiket sebelumnya. Tiket untuk shuttle bus adalah sebesar CNY 15/orang untuk pulang pergi.

20151015_130413
Kedai penjual souvenir
DSC_0477
Menuju halte shuttle bus ke lokasi

Shuttle bus membawa kami bergerak naik hingga ke lokasi utama. Ternyata jauh juga ya untuk bisa sampai di lokasi. Saat tiba, kami berdua masih sempat berfoto sejenak sebelum memasuki area untuk naik cable way. Untuk menuju ke lokasi tembok, kita juga bisa berjalan kaki melintasi jalur khusus. Aku dan suami memilih untuk naik cable way karena ingin merasakan sensasinya… hihihi. Tiket cable way sendiri cukup mahal yakni CNY 100/orang untuk pulang pergi.

2015-12-10 12.02.05 (1)
Peta lokasi
2015-12-10 11.47.03
Tiket untuk naik cableway ataupun toboggan CNY 100 (two ways)
2015-12-10 11.50.09
Tiket masuk lokasi CNY 45
2015-12-10 11.51.20
Tiket shuttle bus menuju lokasi CNY 15

Jam buka : 07.00 – 18.00 (April-Oktober) atau 07.00 – 17.30 (November-Maret).

Harga tiket : shuttle bus CNY 15, masuk lokasi CNY 45, cable way CNY 100 (two ways).

 

Cable way adalah semacam kereta gantung terbuka untuk sampai dan turun kembali dari lokasi tembok besar Mutianyu. Sebelum naik, petugas memberi arahan agar kami memakai backpack di sisi depan. Berbagai petunjuk pengamanan juga bisa kita saksikan di sebuah layar tv sesaat sebelum naik ke cable way.

 

Giliran yang dinanti-nanti pun tiba. Dengan sigap petugas disana membantu setiap pengunjung yang akan menaiki cable way. Akhirnyaaaa… senang sekali rasanya bisa melalui ini semua ! Naik cable way ini seru banget, kita bisa menikmati pemandangan dari ketinggian. Mungkin kalau phobia ketinggian tidak disarankan menaiki cable way. Soalnya pengamannya cuma besi yang berada di depan tempat duduk kami saja. Di bawah tampak jalur untuk Toboggan yang berkelok-kelok. Tadinya pingin juga mencoba Toboggan, tapi entah kenapa suamiku merasa bahwa aku gak bakalan berani meluncur sendiri di jalur yang lumayan panjang itu… hahaha. Ya udah, kamipun memilih cable way saja.

 

Aku menikmati perjalanan naik menuju tembok Mutianyu ini. Beruntung saat itu cuaca sangat cerah, sehingga pemandangan indah jelas terlihat. Luar biasa indahnya ciptaan Tuhan ini dan aku sangat bersyukur bisa melihatnya langsung.

DCIM100GOPROG0142329.
Tinggi dan seru ! Yeaaay…
20151015_100223
Senang banget bisa naik cable way
20151015_100158
Meluncur dengan Toboggan… berani mencoba?

 

Menikmati Keindahan Mutianyu Great Wall

Mutianyu terletak lebih jauh daripada Badaling, hingga suasana disini tampak lebih sepi. Hal ini justru menguntungkan bila ingin mengabadikan pemandangan indahnya, sebab tak terlalu terganggu dengan banyaknya pengunjung.

 

Tembok Besar lebih dari sekedar monumen bersejarah. Ia merupakan simbol tirani kerajaan yang berkuasa, praktek kerja paksa, kegeniusan sang arsitek, serta hasrat manusia untuk membangun sesuatu yang bersifat abadi. Sebagian besar temboknya dibangun pada pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644) untuk melindungi kekaisaran China dari serangan berbagai pihak yang hendak menyerbu dataran China pada masa itu. Sayangnya, meski penampilannya mengagumkan tetapi tembok ini jarang berhasil melindungi China dari penginvasi yang cukup gigih. Meski demikian Tembok Besar adalah simbol patriotisme China yang sangat terkenal dan menghiasi mata uang serta lencana polisi.

 

Tembok Besar di Mutianyu ini telah direstorasi sepanjang 2 km lebih. Benteng pertahanan di era Ming ini memiliki beberapa menara penjaga dan puncak tembok yang bergerigi. Temboknya sendiri memiliki tinggi antara 7-8 meter dan lebar tembok antara 4-5 meter.

DSCF7951
The Great Wall Mutianyu Section
2015-12-10 11.58.40
Latar belakang salah satu tower
20151015_101907
Wefie dulu ah…
DSCF7978
Iron Cannon

DSCF7967

Sebenarnya berapa panjang keseluruhan Tembok China ini? Salah satu sumber menyebutkan panjangnya mencapai 21.196 km ! Sebagai perbandingan saja, bila lapangan sepak bola sepanjang 120 meter, berarti Tembok Besar memiliki panjang sebesar 175.000 kali dari panjang lapangan sepak bola. Dan bila dibandingkan dengan panjang negara Amerika Serikat yang “hanya” 4500 km, maka Tembok Besar ini memiliki panjang 6 kali dari panjang negara tersebut. Wow… luar biasa ya !

20151015_105312-01

ARM09823
Di dalam salah satu menara

DSCF7970

DSCF7969
Pemandangan indah dibalik jendela menara

Kami terus berjalan menaiki anak tangga yang sangat banyak itu. Napas mulai terengah-engah dan kakipun mulai terasa pegal. Setelah melewati Zhengguantai Pass terlihat rombongan orang-orang tengah membuat sketsa pemandangan yang tampak di depannya. Mereka didominasi oleh para pelajar. Iseng-iseng suamiku juga duduk bersama mereka dan turut membuat sketsa.

DSCF7983
Terlihat rombongan sedang membuat sketsa di salah satu area
DSCF7993
Suamiku ikut membuat sketsa… hehehe
DSCF7987
Zhengguantai Pass (Tower 4)

DSCF7981

20151015_120523
Di Zhengguantai Pass
DSCF7977
Pegunungan
DSCF7997
Tembok yang membentang
ARM09897
Ngos-ngosan untuk bisa sampai disini !
DCIM100GOPROG0202394.
Menuruni anak tangga
_20151015_143651
Cable way untuk turun, tampak di bawah jalur untuk Toboggan

Rasanya belum puas menikmati keindahan di atas Tembok Besar, namun tak terasa kami sudah hampir 3 jam berada disini. Hari mulai siang dan perut terasa lapar. Sebuah cafe mungil nan sejuk menjadi tempat kami beristirahat sambil melepas lelah dan mengisi perut seadanya. Aku pun sempat menumpang mengisi daya smartphone-ku disana.

20151015_091613
Daun mulai berubah kekuningan di musim gugur
20151015_135642
Tampak jalur kereta api di atas jembatan

Ketika waktu setempat menunjukkan pukul 2.30 siang, kami meninggalkan Mutianyu. Sang supir masih menanti kami dan membawa kembali ke Huairou. Rasanya perjalanan pulang dari Mutianyu menuju Huairou tak sejauh saat pergi tadi pagi. Ternyata oh ternyata… seharusnya kami tak perlu turun di halte melainkan turun saja di terminal bus akhir yakni Huairou Bus Station. Huuh… gara-gara bule menyesatkan tadi pagi, jadi galau deh !

 

Kami pun diturunkan sang supir tepat di dekat bus 916Express yang akan berangkat. Tak lupa suamiku membayar ongkosnya sebesar total CNY 160. Karena kesalahan kecil, kami jadi harus membayar lebih. Karena di stasiun bus itu terdapat beberapa mobil minivan yang bisa membawa ke Mutianyu. Malah bisa sharing cost dengan penumpang lain kan? Ya.. ya… anggap saja pengalaman traveling, yang penting kami tidak ditipu mentah-mentah oleh supir taxi atau bahkan dibawa entah kemana. Tuhan masih melindungi kami pada perjalanan kali ini.

 

Kami tiba kembali di Dongzhimen sekitar pukul 4 sore. Rasanya hari ini senang sekali karena aku dan suami berhasil mencapai Mutianyu dengan usaha sendiri. Kami juga berhasil melawan semua rasa cemas yang muncul di awal sebab kesulitan berkomunikasi untuk bisa tiba di lokasi. Akhirnya, satu lagi tempat indah telah kami kunjungi. Memang tak salah jika The Great Wall disebut sebagai sebuah maha karya. Siapapun yang datang ke Beijing wajib berkunjung ke tempat ini.

 

Dari Wangfujing -> Mutianyu Great Wall

Metro Line 1 menuju stasiun Jianguomen, pindah ke Line 2 dan turun di stasiun Dongzhimen, keluar di Exit B. Berjalan lurus ke depan dari Exit B tadi sejauh 100 meter lalu belok ke kiri dan masuk ke dalam terminal bus Dongzhimen melalui pintu samping. Naik bus no 916*Express menuju Huairou Bus Station dan turun di ujung penghabisan stasiun atau bisa turun di Huairou North Street (bisa dipilih).

Saat turun di stasiun bus akan ada orang yang menawarkan jasa carter mobil menuju Mutianyu (biaya bisa ditawar). Bisa sharing cost dengan penumpang lain agar lebih murah.

 

Baca sebelumnya : Menjelajahi Forbidden City dan Tiananmen Square

 

*Foto-foto ini diambil menggunakan smartphone Samsung Galaxy S6, kamera mirrorless Fujifilm X-M1, dan GoPro Hero 4 (di-resize).

39 thoughts on “The Great Wall of China : Sebuah Maha Karya

  1. Kalo liat perjalanan kak molly, selalu jadi teringin bisa jalan jalan sama istri kelak, trus ditulis seperti ini. Pengalaman nyasar, pengalaman naik bus takut salah turun, sampe pengalaman ngetawain satu sama lain karena kebingungan di kota orang

    Like

    • Aamiin… Insya Allah bisa nanti janjalan kek gini 😀. Yang paling mengasyikkan dari setiap perjalanan justru momen bodohnya kita, nyasar, atau kebingungan. Biasanya itu gak pernah bakal lupa 😊. Nanti itu semua bakal jadi sejarah buat orang-orang terdekat kita…. eheeemm 😉. *ngomong apa sih guweh

      Like

    • Iya mba… amazing banget memang tu tembok China. Rasanya gak sia-sia udah menempuh perjalanan panjang buat bisa nyampe kesana 😊. Moga-moga satu saat bisa kesana juga ya mba…

      Like

  2. aihhh, asikkkk kali jalan-jalannya kak 😀
    Nyasar-nyasar, trs naik Cable way nya ngeri-ngeri tapi saru ya kak

    Semoga kelak bisa segera jalan-jalan sama pasangan juga, kek kak molly 🙂

    Like

  3. Ternyata bersih juga ya mba kota nya.. Tempat wisata nya juga bersih, dan indah untuk di foto foto.. Sepertinya polusinya tidak sebanyak polusi jakarta ya? Am I right? Hehehe.. Aku jadi semakin tau china sejak nonton film Assalammualaikum Beijing

    Like

  4. Aku juga ke section mutianyu ini pas ke great wall :).. Tapi kita ikutan tur hostel :D.. serunya, karena pas kesana akukan lg hamil 1 bulan, jd untungnya perut blm gede… so, bisa naik cable car terbukanya, dan turun pake toboggan ^o^.. seruuuuu… walo suami udh takut hamilku knapa2..

    Like

    • Seru ya mba… hihihi. Kalo aku udah tekad mau jalan mandiri gitu nyampe ke Mutianyu-nya. Pingin nyoba toboggan tapi suami bilang ga usah.. dia gak yakin sama dirikyuh 😀. Tapi naik cablelift itu nyampenya ke tower 4 yah… padahal awalnya kukira yang ke tower 14 (ternyata yang itu kudu pake cable car yang ketutup semua), soalnya the best view-nya ada di tower 14 sampe 20😊.

      Like

    • Makasih mba.. hihihi. Ke Mutianyu Great Wall seru bangeeet… tempatnya bagus dan bisa bikin foto-foto keren😀. Moga-moga one day bisa kesampaian kesana ya mba😉.

      Like

    • Waah… mudah-mudahan visanya cepet keluar ya, tempo hari aku nunggu visa 5 hari kerja mba😊. Monggo di bookmark ya… masih ada postingan tempat wisata lain di Beijing plus kota lain di China😉.

      Like

  5. Mba Molly,ak mau tanya kalau beli tiket cableway nya one way aja bisa kan?dan harganya brp?..trus kalau mau turunnya lewat toboggan slide bisa kan?apa dikenakan biaya lagi untuk naik itu?makasih 🙂

    Like

    • Hai mas Syarief… maaf telat balas ya. Untuk tiket cableway bisa dibeli hanya untuk one way aja. Kalau turunnya mau pilih pakai toboggan slide juga bisa. Tinggal dipilih aja. Nanti bisa beli tiket masing-masingnya di ticket counter. Kalau untuk one way aku agak lupa, sekitar CNY 60 atau CNY 80 gitu.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s