Menabunglah, Agar Kehidupanmu Menjadi Lebih Baik

Menabunglah, Agar Kehidupanmu Menjadi Lebih Baik— Akhir-akhir ini ungkapan “Ayo Menabung” makin sering terdengar. Padahal aktifitas menabung sudah bukan merupakan hal baru. Para orang tua kerap mengajarkan agar anak-anaknya rajin menabung sejak dini.

Uang logam pecahan Rupiah

Sedari kecil aku akrab dengan aktifitas menabung, walau masih menggunakan metode tradisional. Mulai dari celengan ayam yang terbuat dari tanah liat hingga celengan modern dengan bentuk yang lucu-lucu. Sampai akhirnya pada suatu hari papa membuatkan sebuah rekening tabungan di bank untukku dan adik-adik.

“Ini papa buatkan rekening tabungan untuk kalian masing-masing, Bukunya dijaga jangan sampai hilang” pesan papa pada kami waktu itu.

 

Aku masih ingat sekali bagaimana kami bertiga dengan susah payah mengisi saldonya setiap bulan. Maklum saja, di usia sekolah seperti waktu itu tentu papa memberikan uang saku secukupnya saja kepada kami. Alasannya supaya jangan kebanyakan jajan di luar.

 

Begitu aku menginjak SMA, aktifitas menabung itu pelan-pelan meredup dan akhirnya hilang. Karena nyaris tak pernah diisi lagi, jumlah uang yang tak seberapa di dalam rekening tergerus dan habis dengan sendirinya. Akupun mengucapkan selamat tinggal pada buku tabunganku.

 

Saat kuliah, lagi-lagi aku kembali berurusan dengan bank. Mengingat aku memilih untuk kuliah di kota Bandung, mengharuskan papa mengirimkan uang bulanan melalui bank. Rekening tabungan itu sukses menyelamatkan hidupku selama menempuh pendidikan di sana.

 

Lulus kuliah ternyata tak membuatku “terbebas” dari bank dan segala pernak-perniknya. Bagaimana tidak, sebagai seorang mahasiswa ekonomi yang baru lulus tentu aku punya impian tentang pekerjaan ideal. Surat lamaran kerja yang aku layangkan ke beberapa bank pada waktu itu membuahkan hasil. Aku dipanggil untuk keperluan wawancara hingga tes oleh sebuah bank swasta di Medan.

 

Masih lekat diingatanku raut wajah papa yang tersenyum saat kukabari bahwa aku diterima kerja. Aku tau bagaimana bangganya papa mengetahui anak sulungnya akan bekerja di kantor. Ia samasekali tak protes saat aku memintanya untuk membayari ongkos jahit 3 potong pakaian kerja di penjahit jas langganannya. Ya, aku memang belum punya penghasilan saat itu.

 

Bekerja di bank membuatku leluasa menabung dan mengelola keuanganku sendiri. Tak perlu repot antri untuk bertransaksi. Rupiah demi Rupiah aku kumpulkan setiap kali gajian. Aku merasa puas dan bahagia karena berhasil menambah saldo dari jerih payahku sendiri. Bukan subsidi dari papa lagi seperti dulu.

 

Tak lama waktu berselang, aku bertemu jodoh di tempatku bekerja. Lelaki yang menjadi pendampingku saat ini dahulu adalah rekan kerjaku. Bersuamikan seseorang yang memiliki latar belakang pekerjaan sama membuatku tak sulit membahas soal keuangan dengannya di rumah.

 

Aku masih ingat betul bagaimana kami pernah gagal memiliki sebuah rumah karena total uang di rekening tabungan jumlahnya tak cukup. Kami hanya bisa membatin, seandainya saja uangnya tak kurang pasti rumah itu sudah berhasil kami miliki. Miris.

“Sabar ya, Mol. Mungkin memang belum rezeki kita” hibur suamiku.

 

Setelahnya, aku dan suami semakin giat menabung. Aku tau seperti apa rasanya ingin memiliki sesuatu namun tak punya daya upaya. Kegagalan itu tak boleh menyurutkan niat, apalagi sampai membuat putus asa. Terbukti, walau waktu itu belum berhasil mewujudkan impian memiliki rumah sendiri, toh kami sanggup membeli sebuah mobil untuk mendukung seluruh aktifitas. Alhamdulilah, rezeki masih ada.

 

Sampai pada suatu kesempatan kami berdua berhasil membeli sebuah rumah baru di kawasan Medan Johor. Sebuah rumah mungil yang sederhana. Aku sulit melukiskan bagaimana bahagianya kami kala itu. Cita-cita untuk memiliki rumah hasil jerih payah sendiri akhirnya terwujud. Itu semua berkat kegigihan menabung.

 

Beberapa tahun berjalan dan pada suatu ketika suamiku harus pindah tugas ke Batam. Di sana ia diberikan fasilitas tempat tinggal.

 

Ada kejadian unik yang tidak bisa aku lupakan. Di satu kesempatan penerbanganku dari Batam menuju Medan mengalami delay panjang. Suami lantas mengajak aku keluar dari bandara untuk jalan-jalan di sekitar daerah Batam Center. Entah kenapa kami iseng-iseng memasuki sebuah komplek perumahan baru, lalu menyambangi kantor pemasarannya.

 

Usai kunjungan ke kantor pemasaran tadi, terbersit pikiran untuk membeli salah satu unit rumah yang ditawarkan. Tapi kami harus mengecek saldo di tabungan terlebih dahulu. Membeli rumah tentu mensyaratkan booking fee serta down payment dengan jumlah tertentu. Apalagi harga unit rumah di Batam relatif lebih tinggi daripada Medan.

 

Sepertinya lagi-lagi Tuhan memberikan kami rezeki untuk memiliki hunian di Batam. Kami membeli rumah melalui program KPR. Untuk down payment dan biaya-biaya lain diambil dari saldo tabungan yang ada. Ternyata memang tak sia-sia kami menyisihkan uang untuk ditabung. Dan keputusan untuk membelinya telah diperhitungkan dengan matang.

 

Hingga pada suatu hari suamiku bertugas kembali di Medan. Untuk sementara waktu kami berdua memilih untuk tinggal di rumah orangtuaku. Sambil mencari-cari rumah untuk ditempati. Kami berniat untuk menjual dua unit rumah milik kami sebelumnya. Rumah di Medan dan Batam. Kami ingin memiliki rumah yang letaknya lebih dekat dengan rumah orangtuaku.

 

Memiliki rumah sendiri justru menyelamatkan nyawaku

Usai melalui proses cukup panjang mencari hunian yang sesuai dengan hati dan kocek, akhirnya aku dan suami menempati rumah baru sekitar beberapa tahun lalu. Lokasinya tak jauh dari rumah orangtua maupun adik bungsuku. Akhirnya kami tinggal dalam jarak radius tak lebih dari lima kilometer. Tujuannya agar kami bisa lebih sering saling berkunjung.

Hingga pada suatu ketika sebuah peristiwa terjadi …

 

Tepat di hari Jum`at menjelang akhir bulan Oktober 2015 lalu, di rumah orangtuaku terjadi perampokan berdarah. Rumah mereka di jalan Sei Padang disantroni oleh beberapa orang pemuda. Papa, mama, dan seorang keponakanku turut menjadi korban kebiadaban para perampok. Mereka bertiga memang tengah berada di dalam rumah saat peristiwa terjadi. Kamar tidurpun diobrak-abrik, isi laci di kamar berserakan dan sebagian barang berharga di kamar orangtua dan adikku hilang tak berbekas!

 

Walaupun peristiwa itu terjadi hampir dua tahun lalu, namun kenangan pahitnya tak serta merta menguap. Kami merasa sangat terpukul. Kehilangan yang sungguh tak tergantikan oleh apapun di dunia.

“Mol, kalau aja waktu itu kita masih menumpang di rumah papa, bukan ngga mungkin Molly bisa ikut menjadi korban” ungkap suamiku.

“Iya Bang, karena siang hari kemungkinan besar Molly pun ada di dalam rumah. Sambil mengetik atau apalah, seperti biasa” jawabku padanya.

 

Miris sekali bila mengingat peristiwa yang telah menggoreskan luka dalam di hati kami. Apalagi keponakanku turut menjadi korban yang mana secara kebetulan ia tengah libur sekolah.

 

Manusia tak pernah tau ketetapan dan takdir dari Sang Maha Kuasa, hingga saat itu tiba. Begitu pula kami sekeluarga.

 

Jika mengingat lagi ke belakang, bisa saja aku tidak bernasib baik seandainya kami berdua tidak memikirkan masa depan dan lupa menyisihkan uang untuk ditabung. Bila itu terjadi, barangkali sekarang kami belum memiliki kendaraan pribadi. Atau parahnya, mungkin kami tak punya cukup uang untuk membeli rumah. Sehingga harus menumpang di rumah orangtua.

 

Terlepas dari takdir, hidupku juga ikut terselamatkan karena kami berdua telah tinggal terpisah dari orangtuaku. Sementara salah seorang adikku yang masih tinggal bersama mereka waktu itu, harus kehilangan anak satu-satunya yang ikut menjadi korban. Dan pada saat kejadian, adikku dan suaminya tengah bekerja di kantor.

 

Jalan hidup manusia memang masih misteri. Namun siapapun tentu menginginkan masa depan yang lebih baik. Aku merasa beruntung sebab sejak kecil orangtua telah mengenalkanku pada institusi-institusi yang membantu pengelolaan keuangan, khususnya bank. Walau tak sempurna mengatur keuangannya sendiri, mereka tetap berupaya mendidik anak-anaknya untuk mengelola sejumlah uang sejak dini.

Menabung di Bank Sumut

Semasa hidupnya, papa selalu berpesan agar aku dan adik-adik tidak melakukan pemborosan uang. Tetapi bukan berarti jadi terlalu irit hingga tak bisa menikmati hidup. Dari beliau pula aku belajar banyak hal. Aku pernah menyaksikan sendiri jatuh-bangun beliau dalam bisnisnya hingga aku tak ingin di masa tua nanti tak memiliki uang. Dan solusinya hanya berupaya mendisiplinkan diri untuk menabung, berapapun kesanggupan.

***

“Nomor antrian 37, silahkan menuju ke kaunter 2”.

Suara panggilan antrian di bank membuatku tersadar bahwa giliranku telah tiba. Aku melangkahkan kaki menuju kaunter yang dimaksud untuk menyetorkan sejumlah uang. Tak seberapa jumlahnya, memang. Tapi aku yakin tabungan inilah yang kelak akan menyelamatkanku dari hal-hal yang tak terduga. Sebab hidup sulit untuk diprediksi dan penuh kejutan.

 

“Cerita ini didukung oleh Bank Sumut”

#ayokebanksumut   #banknyaorangsumut

 

18 thoughts on “Menabunglah, Agar Kehidupanmu Menjadi Lebih Baik

  1. astaga! turut berduka ya mbak untuk kejadian mengenaskan itu 😦
    soal nabung, saya juga Alhamdulillah rajin nabung. ada toples kecil yang tiap hari saya usahakan isi dengan minimal uang 10rb. tabungan buat liburan hahaha
    tapi masalahnya, sekali memecahkan tabungan saya bisa kalap dan akhirnya malah ngutang #loh
    jadi yaa sama aja x))

    Like

    • Makasih untuk simpatinya, ya☺. Nabung walau pakai cara konvensional tetep ada manfaatnya. Karena aku juga punya celengan di rumah😀. Waduh, mecahin celengan ternyata bisa bikin kalap juga toh? Hahaha😂.

      Like

  2. K bagaimana caranya konsisten dgn yang namanya tabungan tanpa harus diganggu sebelum waktunya?? Saya bergaji pas2an di sebuah pabrik namun dalam sebulan selalu backpakeran solo maupun grup dengan dana minim..

    Like

    • Konsisten nabung khusus buat dana jalan-jalan sebetulnya mudah. Tergantung seberapa kuat niatnya. Kalo aku biasanya punya semacam celengan. Tiap bulan rutin diisi sesuai kemampuan. Tabungan di rek bank juga ada.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s