Tentang Mengingat Hari Lahir

Dulu setiap kali aku berulang tahun, rasanya kurang afdol kalau tak ada kue khusus yang diberi lilin sesuai angka usia. Seolah harus ada perayaan kecil menyambut umur baru. Padahal hari itu tak ada ubahnya seperti hari-hari biasa lainnya.

Memaknai Peringatan Ulang Tahun

Tahun 2018 ini usiaku berubah lagi. Angka yang bertambah menyiratkan berkurangnya jatah untuk menikmati dunia. Aku bangun pagi dan memulai hari seperti biasa. Lalu sesekali membuka gawai dan mendapati banyak ucapan selamat. Membuat hati senang karena masih ada yang mengingat.

 

Beberapa hari sebelumnya entah mengapa rasa rinduku pada almarhum Papa dan almarhumah Mama yang terkumpul lama tiba-tiba pecah. Terutama Papa yang tidak pernah absen mengingat hari istimewaku itu.

 

“Molly ulang tahun hari ini. Makan-makan dimana nanti kita?” tanya Papa sambil senyum-senyum.

 

Beberapa kali aku sengaja memesan makanan untuk kami santap bersama. Pernah juga mengajak mereka menikmati makan malam sederhana di luar. Sesekali lah menyenangkan keluarga tanpa harus bermewah-mewah. Yang penting hati bahagia bisa berkumpul bersama.

 

Sayangnya aku lupa, bahwa kebersamaan itu mungkin saja hilang. Dan pada saat kedua orang tua berpulang pada Sang Pencipta, aku benar-benar belum siap. Tepatnya memang tak pernah siap menerima kenyataan bahwa kehilangan bisa terjadi pada siapa saja. Peristiwa yang meninggalkan luka menganga dalam diriku.

 

Hey Mol, kejadian itu kan sudah hampir tiga tahun berlalu? Betul, tapi aku benci merindukan sesuatu yang tak bisa digenggam lagi. Semua kenangan indahnya seakan ikut menguap bersama rasa kehilangan. Membuatku terkadang masih meneteskan air mata saat sedang sendiri.

 

Tentang melanjutkan hidup

Setelah kejadian itu berlalu, aku belajar bagaimana merelakan diri menerima keadaan yang tidak ideal. Aku juga belajar memahami bagaimana kehilangan memberi sebuah perspektif baru tentang hidup.

 

Pertambahan usia seharusnya membuat manusia lebih dewasa menyikapi segala sesuatu. Beberapa tahun terakhir aku terus berupaya mengendalikan emosi yang kerap naik turun. Caranya dengan mengelilingi diri bersama teman-teman yang memberikan dukungan dan suntikan semangat. Hingga aku tidak sempat lagi memikirkan kesedihan.

 

Perlahan aku tersadar bahwa usia terus bergerak maju. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Life goes on. Sebelum semua terlambat, aku harus menata ulang prioritas hidup, tekadku.

 

Mengingat hari lahir dengan rasa syukur

Hal-hal positif yang berhasil dicapai barangkali menjadi salah satu momen kebangkitanku dari nyaris tenggelam bersama duka. Aku tidak mengira usai kesedihan panjang yang lalu, aku masih bisa melangkah sejauh ini. Ya, kehilangan adalah tentang seberapa kuat seseorang mampu melaluinya. Lagi-lagi aku harus berdamai dengan keadaan dan diri sendiri.

 

Terkadang aku tak sabar menanti hal-hal menyenangkan apa yang akan datang di kehidupanku kelak. Sembari tetap berharap semoga semesta menyerahkan kebaikan tanpa syarat berat.

 

Hari lahir akan selalu datang hingga jatah untuk menghirup udara dunia kelak diambil Tuhan. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana aku memaknai pergantian usia tahun ini?

 

Suatu saat aku mungkin tak lagi banyak menerima ucapan selamat. Bahkan tidak ada lagi kemeriahan perayaan. Meski begitu, hari lahir tetap layak diperingati dengan penuh rasa syukur.

Momen memperingati hari lahir

Manusia tidak bisa menolak tua. Semua akan menua tanpa kecuali, termasuk diriku. Kita hanya bisa menerima kodrat dengan lapang dada. Tapi tentunya ada upaya untuk mengisi hidup agar penuh arti. Tidak sekedar merelakan usia digerogoti oleh waktu.

 

Mengingat hari lahir memberiku kesempatan mengkaji kembali hal-hal yang sudah terlewati. Baik maupun buruknya adalah sebuah proses belajar yang akan terus mendewasakan.

 

Aku banyak memangkas keinginan yang berputar-putar di kepala, layaknya menyederhanakan mimpi. Juga tidak lagi berusaha menciptakan diri dengan versi terbaik. Aku memilih damai bersama rasa cukup. Dan ternyata bersikap realistis itu sulit, ya. Karena ego manusia mencoba muncul saat dikendalikan.

 

Tak lupa aku mengucap syukur karena Allah SWT masih memberikan hidup sampai detik ini, tepat di hari ulang tahunku. Harapan kecilku hanya bagaimana terus memperbaiki diri dan membuat hidup menjadi lebih bermanfaat bagi orang banyak.

***

“Jadi kalau nanti ulang tahun, Molly mau traktir makan dimana?”

 

Kali ini bukan Papa lagi yang bertanya, melainkan suamiku. Suara itu mungkin berbeda, tapi maknanya tetap sama. Agaknya aku harus berpikir akan mengajaknya makan berdua ke mana nanti.

Ulang tahun tanpa perayaan

 

13 thoughts on “Tentang Mengingat Hari Lahir

  1. Selamat ulang tahun mbak Molly 🙂 Semoga senantiasa sehat dan bahagia, amin.

    Di keluarga kami, malah terasa aneh kalau ulang tahun ada kuenya. Karena gak biasa hahaha. Baru terbiasa lagi pas (dulu) saat masih punya pacar dan udah punya ponakan hehe.

    Like

    • Aamiin. Makasih doanya, Kak Yan. Kalau di keluarga kami dari dulu memang selalu ada kue ulang tahunnya. Tapi ya sejak Papa Mama udah ngga ada lagi, perayaan kecil-kecilan itu jadi ikut hilang juga.

      Like

  2. kak, meskipun usia bertambah, kaka masih kelihatan tetap awet muda lho. Tebakanku sih udah kepala tiga (pasti lah ya), tapi ga tau pastinya berapa.
    Keseringan gaul sama anak muda, makanya kelihatan muda terus 😀
    tetap semangat ya kak.
    Selamat hari lahir kaka cantik 😀

    Like

  3. Aku udh lama ngelupain yg namanya ultah… Ntah kenapa kayak ga pengen mengingat itu :). Buatku sih yaaaa, ultah berarti usia makin berkurang utk hidup di dunua :D. Tapi itu cm utk ultahku. Kalo suami dan anak2, ttp msh pengin dirayain ato diucapin ultahnya . Jd aku ngikut aja. Supaya mereka seneng 🙂

    Like

    • Hehehe bener siy setiap kali ulang tahun berarti jatah hidup di dunia jadi ikut berkurang, ya. Aku memaknainya sebagai pengingat supaya lebih banyak berbuat kebaikan untuk orang lain, sekaligus perbaikan diriku sendiri, Mba Fan😊

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s