Kembali Menengok Batam

Aku sama sekali tidak menyangka akan mendapat kesempatan berkunjung ke Batam lagi. Sebuah tawaran menarik justru datang sesaat sebelum aku berangkat menuju Penang dalam rangka liburan sekaligus menemani suami mengikuti Penang Bridge International Marathon.

Menengok Batam

Setelah berdiskusi singkat maka aku memutuskan ikut berangkat pada tanggal yang ditentukan nanti. Rasanya senang sekali karena sudah dua tahun aku tidak menengok kota yang pernah menjadi rumah kedua kami.

Hanya berselang satu minggu usai kembali dari liburan ke Malaysia, aku kembali akan berangkat ke Batam dalam rangka memenuhi undangan event Batam International Culture Carnival 2018.

Berangkat ke Batam

Pada hari Jum`at tanggal 7 Desember 2018, aku mengunci pintu rumah rapat-rapat dan membiarkan salah satu pintu besi di lantai dua tetap menjadi akses udara keluar-masuk. Penyebabnya adalah saat akan berangkat nanti, aku meninggalkan kucing-kucing kesayangan berkeliaran di dalam rumah.

Kebetulan suami yang masih berada di Jakarta baru akan kembali ke Medan nanti malam. Ya, aku harus berangkat ke Batam sebelum suamiku tiba di rumah.

Agak aneh rasanya meninggalkan rumah tanpa berpamitan langsung dan mencium tangan suami. Bahkan biasanya ia selalu bersedia mengantarkanku hingga ke bandara walau tidak diminta.

Dengan menumpang Go-Car aku bertolak menuju Stasiun Railink Medan. Dan setelah berhasil membeli tiket kereta api melalui vending machine, aku memutuskan untuk duduk dan memesan menu di Starbucks.

Tiket Railink Medan ke Kualanamu

Menu Starbucks di Stasiun Railink Medan

Menunggu sekitar 45 menit cukuplah untuk menghabiskan sepotong Tuna Puff (Rp 24.000) dan English Breakfast Tea (Rp 22.000) tanpa terburu-buru. Dan tak lama sesudahnya terdengar panggilan untuk masuk ke dalam kereta.

Di dalam kereta Railink menuju Kualanamu

Perjalanan begitu lancar bila menggunakan kereta api bandara seperti ini. Belakangan aku memang jarang sekali memanfaatkan moda transportasi tersebut. Bila bepergian berdua, aku dan suami lebih memilih untuk menggunakan taksi online yang langsung membawa kami ke bandara tanpa repot. Lebih praktis dan hemat tentunya.

Bandara Kualanamu Deli Serdang

Setibanya di bandara, aku memutuskan untuk check-in terlebih dulu sebelum makan siang. Sebetulnya perutku belum terasa lapar tapi aku paksakan saja supaya tidak masuk angin. Dan aku mampir ke A&W Restaurant yang ada di lantai dasar untuk memesan Paket Asian Prawn Mixbowl.

Boarding pass Citilink Kualanamu Batam

Paket Asian Prawn Mixbowl A&W

di Bandara Kualanamu
Kurang afdol kalau belum swafoto

Bepergian sendiri atau bersama suami sebetulnya sama menyenangkannya. Begitu pun mengunjungi destinasi serupa berulang kali atau tempat yang baru, bagiku semua hanya tentang bagaimana cara kita menikmati momen. Dan yang namanya momen tentu takkan pernah sama, meski berada di tempat yang itu-itu juga.

Aku merasa sedikit deg-degan setiap kali akan memulai perjalanan bersama teman baru. Semacam ada sensasi berdebar yang menyenangkan. Penasaran bakal seperti apa nantinya, ya?

Penerbangan dari Medan menuju Batam

Tiba di Batam

Burung besi mendarat dengan mulus di Bandara Hang Nadim, Batam pada pukul 16.15 Wib. Aku yang hanya membawa sebuah koper kecil di kabin langsung menuju pintu keluar untuk menjumpai rombongan. Sepertinya tinggal diriku dan seorang lagi yang berangkat dari Lampung yang sedang mereka tunggu.

Kesan pertama bertemu teman-teman baru di bandara yang notabene pria semua, tetap menyenangkan. Perlahan-lahan suasana mencair sewaktu mengobrol ringan sambil menikmati minuman di sebuah kedai kopi. Kebetulan aku baru kali ini bertemu mereka yang berasal dari Jakarta dan Lampung.

Selanjutnya agenda hari pertama hanya makan malam bersama di Cabuci (Cafe Bukit Cinta) usai check-in di Holiday Hotel, Lubuk Baja. Ah, kangen juga dengan tempat yang dulu pernah beberapa kali aku sambangi saat berada di Batam.

Cabuci yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Lubuk Baja tampak tak banyak berubah. Dari tempat itu kita masih bisa menikmati panorama Batam dari ketinggian. Di malam ini tampak kerlap-kerlip lampu kota yang menerangi. Beruntung langit terlihat cerah dan tak turun hujan.

Pemandangan malam dari Cabuci

Kota Batam di malam hari

Suasana makan malam di Cabuci Batam

Makan malam di Cabuci juga sekaligus ajang kumpul-kumpul dengan beberapa teman yang berasal dari Jogjakarta. Ternyata mereka sudah tiba di Batam sehari lebih awal. Dan di sini jugalah aku surprised karena bertemu lagi dengan Mas Khun, teman blogger Kompasiana Jogja. Di awal tahun 2017 lalu kami sempat memenangkan lomba blog dan bersama beberapa orang lainnya diberangkatkan menuju Bangkok serta Hua Hin. Wah, jadi reuni, nih.

Tim Batam International Culture Carnival 2018

Di sela-sela kegiatan meliput acara Batam International Culture Carnival 2018, kami juga mampir ke beberapa lokasi yang menjadi ikon kota ini. Bagiku itu bukan pertama kalinya, tapi aku tetap menikmati keseruan jalan-jalan bersama teman-teman pria yang kocak sekaligus jahil itu. Nanti bakal aku ceritakan dalam judul terpisah, ya.

Makan malam di Batam
Saat makan malam bersama di kesempatan berbeda

Makan di Resto Podomoro Batam

Untuk Batam International Culture Carnival 2018 sendiri berlangsung selama dua hari, diawali dengan event Kampung Bule Funtastic Colour Night sehari sebelumnya. Selama itu pula aku bersama teman-teman media, GenPI, serta perwakilan dari Kemenpar mengikuti rangkaian acara tersebut hingga selesai.

Baca : Kampung Bule Funtastic Colur Night, Kemeriahan Malam Panjang di Batam

Baca : Batam International Culture Carnival 2018, Bertabur Kostum Unik dengan Tema Suku Laut

Kembali ke Medan

Mengunjungi Batam selama 4 hari 3 malam belum sepenuhnya menghapus kerinduan akan kota ini. Aku belum sempat mampir ke beberapa tempat yang dulu sering kami datangi berdua dengan suami. Belum sempat pula sarapan di Morning Bakery favorit kami. Bahkan kangen ingin makan sup ikan Yong Kee aja belum terobati.

Aku tak lupa membawa serta pasporku di kedatangan kali ini. Ya buat jaga-jaga barangkali ada yang mengajak main ke Singapura. Hahaha. Sayangnya semua tidak terealisasi hingga waktunya kembali ke Medan pada hari Senin pagi tanggal 10 Desember 2018.

Sebelum pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 956 bertolak menuju Medan pukul 09.20 Wib, aku menyempatkan untuk membeli dua kotak Bolu Kemojo (rasa durian dan pandan) titipan suamiku. Bolu Kemojo adalah salah satu oleh-oleh khas Batam yang dapat dibeli di lantai 2 bandara Hang Nadim.

Hang Nadim di Batam
Bandara Hang Nadim di Batam
Backpack dan koper untuk perjalanan
Koper kecil dan backpack yang menemani perjalanan
Bolu Kemojo Batam
Beli oleh-oleh pesanan suami
Oleh-oleh Batam Bolu Kemojo
Bolu Kemojo seharga Rp 30.000

Mengakhiri perjalanan kali ini aku kembali mengucap syukur telah diberi kesempatan baik begini. Bersua dengan teman-teman baru dan mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya. Sungguh tak salah aku dipertemukan lagi dengan salah satu kota yang kerap membuat rindu, yakni Batam.

Usai traveling seperti ini aku langsung membayangkan bisa beristirahat dengan nyaman di rumah. Dan setelahnya juga aku tak lupa untuk melakukan beberapa perawatan termasuk rambut. Menjaga agar rambut tetap sehat usai traveling adalah suatu keharusan. Kebetulan aku juga menuliskan beberapa produk rekomendasi yakni 7 Produk Perawatan Rambut Usai Traveling Rekomendasi Travel Blogger Mollyta.

Terima kasih sudah mengizinkan aku bersenang-senang di Batam! Sampai bertemu lagi di lain kesempatan.

Ruang tunggu Hang Nadim Batam

 

 

 

 

16 thoughts on “Kembali Menengok Batam

  1. aku suka bolunya ituuuu, pas abang ipar ke batam dia bawain utk kita coba. ama ada bbrp kuliner khas batam tuh yg enak juga. rasanya gurih2.. kalo ga salah dari seafood.

    trakhir ke batam mah, aku masih smp. yg keinget cuma, batam masih gersang di mana2. skr mah udh cakep ya mba :).

    Like

    • Iya bolu Kemojo manis enak gitu kan, Mba. Suamiku suka banget😀. Wah udah lama berarti ngga mampir ke Batam lagi, ya. Sekarang Batam rame dan kadang macet juga😀.

      Like

  2. Asik banget suasananya ya mbak, perjalanannya juga lancar, apalagi ada Airport Raillink, jadi pengen ke Batam nih. Btw, Bolu Kemojonya menggiurkan 😁

    Like

  3. Wah kangen ke Batam. Aku dulu tinggal disana 4th. Sudah pernah ke Holliday tapi karaokean hehehee. Jaman dulu banget waktu aku masih disana, Bukit Cinta itu tempat orang pacaran malam2, kadang ada razia. Alhamdulillah sekarang sudah terbuka, ada cafe segala.

    Like

    • Hotel Holiday memang termasuk lama ya, Mba. Tapi so far masih bagus dan cukup bersih🙂. Wah ternyata dulunya Bukit Cinta gelap, sampai dijadiin tempat orang pacaran hahahaha. Sekarang masih remang-remang tapi udah berbentuk cafe😀.

      Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s