Program Langit Biru, Hadapi Ancaman Krisis Iklim lewat BBM Ramah Lingkungan

Hari ini langit di kota Medan tampak cerah sekali. Warna birunya terlihat bersih disertai iringan gumpalan awan. Cuaca yang bersahabat seperti ini membuat aku dan suami segera bergerak meninggalkan rumah untuk jalan-jalan. Mumpung belum hujan, begitu pikirku.

Kita singgah ke SPBU dulu ya, Mol“, usul suamiku. Aku tidak keberatan sama sekali karena sempat melihat angka indikator bahan bakar yang menunjukkan sisa 50 persen lagi.

Mobil melaju perlahan saat masuk ke area pom bensin tak jauh dari rumah kami. “Isi Pertamax 200 ribu, Bang“, ujar suami ke petugas.

Program Langit Bitu

Sejak pandemi Covid-19 melanda tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang, aktivitas luar rumah kami sangatlah berkurang. Meski mobilitas tak sebanyak dulu, nyatanya kondisi pandemi tak menghilangkan kebutuhan untuk menggunakan kendaraan bermotor sama sekali. Selain keperluan suami berangkat ke kantor, akhir pekan sesekali kami isi dengan sekadar naik mobil untuk berkeliling dalam kota saja.

Selama sepuluh tahun terakhir, suami selalu menggunakan BBM jenis Pertamax untuk kedua kendaraan pribadi kami, yakni mobil dan motor. Bahkan mobil bertransmisi manual milik kami dulu juga tetap diisi dengan Pertamax. Sejak lima tahun terakhir ini kebetulan kami menggunakan mobil bertransmisi automatic dengan spesifikasi pabrik yang menganjurkan penggunaan jenis bahan bakar yang bagus. Kalau sudah berani pakai mobil matic, secara otomatis pengguna wajib memerhatikan BBM yang digunakan supaya ngga menyesal di kemudian hari.

Selain itu, penggunaan BBM yang baik tentu meningkatkan performa mesin yang handal. Dari sisi perawatan rutin seperti penggantian oli dan lain-lain juga pasti jadi lebih irit karena meminimalisir kerusakan pada mesin itu sendiri. Zaman sekarang kita harus cermat dalam hal apapun, termasuk pemilihan bahan bakar. Kalau gegabah dan sekadar cari yang murah, biasanya akan berdampak untuk jangka panjang. Duh malas banget kan, kalau harus bolak-balik masuk bengkel?

Nah sebagai pemilik kendaraan yang bertanggungjawab, aku penasaran dengan keiistimewaan dari bahan bakar jenis Pertamax ini.

Mengapa sebaiknya kita menggunakan BBM jenis Pertamax?

Pertama, mayoritas masyarakat sudah menggunakan kendaraan modern keluaran terbaru yang mensyaratkan penggunaan bahan bakar dengan RON (Research Octane Number) minimal 92. Dan Pertamax adalah bahan bakar murni yang berasal dari fluel terbaik yang diproduksi oleh Pertamina, dan diciptakan sesuai dengan kondisi jalanan di Indonesia khususnya di kota besar yang cenderung macet.

Kedua, Penggunaan Pertamax mampu meningkatkan akselerasi kendaraan, membuat mesin lebih responsif, melindungi agar mesin lebih awet karena pembakaran lebih efisien dan bebas karat. Kondisi lalu lintas yang sering macet membuat mesin kendaraan bekerja lebih aktif dan berat. Penambahan zat additive di dalam Pertamax bantu hadapi masalah yang kerap dialami mesin kendaraan di kondisi tersebut, sehingga mesin kendaraan tetap awet.

Ketiga, Pertamax memiliki kadar oktan 92 serta kandungan zat additive Pertatec yang membantu pembakaran lebih sempurna, membuat mesin lebih bersih dan konsumsi bahan bakar lebih irit. Nah, ini yang penting!

Keempat, Pertamax adalah produk yang ramah lingkungan karena kandungan sulfur yang rendah sehingga buangan gas emisi dengan karbon lebih sedikit. Dengan menggunakan Pertamax artinya kita juga turut serta menjaga lingkungan tetap ideal dan bermanfaat bagi kehidupan.

Sosialisasi Program Langit Biru kepada Masyarakat

Tanggal 3 Maret 2021 lalu aku mengikuti dialog publik secara daring yang diselenggarakan oleh KBR dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Acara ini mengusung tema Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru. Turut hadir pada acara ini beberapa narasumber dari berbagai elemen, antara lain Tulus Abadi (YLKI), Faby Tumiwa (Institute for Essential Service Reform-IESR), Banadhi Kurnia Dewi (Puteri Pariwisata Indonesia 2017), Dasrul Chaniago (Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK), Citra Dyah Prastuti (Jurnalis), DR Muhammad Ikhsan (Tokoh Masyarakat), dan Olga Lidya (Influencer).

Pen

Dialog publik tersebut merupakan bentuk perhatian YLKI mewujudkan pola konsumsi berkelanjutan, sebab BBM ramah lingkungan sejalan dengan pola konsumsi berkelanjutan. Tujuannya adalah mengajak masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan agar Program Langit Biru dapat terwujud.

Aku setuju sekali saat Bapak Tulus Abadi menjelaskan betapa BBM punya peranan menciptakan polusi karena emisi gas karbon yang berasal dari kendaraan. Ini sungguh tak terbantahkan! Kita sendiri menyaksikan betapa langit berubah warna menjadi kelabu efek dari polusi kendaraan yang semakin hebat. Setiap hari kita beraktivitas di luar ruang namun secara tak sadar juga menghirup partikel-partikel berbahaya dari oksigen yang tercemar.

Sedari dulu masyarakat lebih memilih menggunakan BBM murah dengan berbagai alasan. Padahal sebetulnya kita mengalami kerugian dua kali lipat saat menggunakannya, sebab perbandingan jumlah rupiah per kilometer yang rendah. Energi yang dihasilkan oleh bahan bakar yang tidak sesuai standar lingkungan jauh lebih rendah. Alhasil kita justru mengalami kerugian dari sisi jarak tempuh. Belum lagi urusan pemeliharaan, karena dalam jangka waktu tertentu beban biaya jauh lebih tinggi.

Keberadaan BBM jenis Premium dengan nilai oktan 88 yang lazim dipergunakan masyarakat saat ini menyebabkan kontroversi dari sisi lingkungan sebab dinilai mengandung sulfur tinggi serta tidak ramah lingkungan. Sementara masyarakat masih saja berkutat dengan “harga” murah tanpa pernah tahu dampak buruk terhadap kelestarian lingkungan dalam jangka waktu tertentu. Miris sekali, ya.

Faktanya pengunaan energi fosil di Indonesia masihlah dominan yakni sebesar 85 persen dan BBM adalah energi fosil itu sendiri. Energi fosil dapat menyebabkan dampak eksternalitas yang begitu serius bagi lingkungan dan kesehatan. Penggunaan BBM tersebut menimbulkan polusi udara yang mencapai 75 persen dari total polusi dari sumber bergerak. Sungguh angka yang luar biasa!

Tentang Program Langit Biru

Program Langit Biru digaungkan sejak 25 tahun silam oleh Kementrian Lingkungan Hidup lewat Peraturan Menteri No.15 tahun 1996 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.141/2003, yang mengatur emisi gas buang pada kendaraan bermotor (BBM standar Euro 2). Kemudian dikuatkan oleh Keputusan Menteri No.20/2017 yang mewajibkan kendaraan bermotor menggunakan BBM standar Euro 4.

Program Langit Biru merupakan program yang bertujuan unuk mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan baik dari sumber tidak bergerak (industri) maupun sumber bergerak yaktu kendaraan bermotor.

Disebutkan bahwa BBM kotor seperti bensin, solar, dan Premium adalah pemicu krisis udara bersih dan gagalnya program langit biru , di Jakarta, Bodetabek, bahkan di Indonesia. Indeks kualitas udara di Jakarta (AQI) terus menurun hingga skor 175, dimana itu adalah kondisi unhealthy dan membahayakan bagi kesehatan manusia.

Lantas apa peran dari Pemerintah terhadap isu lingkungan ini?

Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Paris Protocol on Climate Change, di Perancis pada tahun 2015 lalu. Dalam pertemuan itu presiden sebagai pemerintah RI berkomitmen untuk mengurangi emisi gas karbon antara 20-40 persen, hingga tahun 2050. Malangnya, komitmen tersebut sulit terwujud jika kualitas BBM belum memenuhi standar Euro, termasuk jika keberadaan PLTU masih marak.

Di tahun 2015 Presiden Joko Widodo membentuk Tim Reformasi Mafia Migas dan salah satu rekomendasi dari tim adalah supaya pemerintah menghapus BBM Premium. Pengendalian Premium secara ketat di tahun 2017 tidak berumur panjang sebab tahun 2018 terjadi pembatalan.

Digitalisasi SPBU kini diberlakukan oleh Pertamina yang bersinergi dengan Telkom untuk seluruh Indonesia yang berjumlah sekitar 5500 SPBU. Hal ini dilakukan untuk menjamin kemanan pasokan BBM dan keandalan pelayanan bagi konsumen, baik dari sisi aksesibilitas dan realibilitas.

Krisis Iklim (Climate Change) Dipicu Ulah Manusia

Sebetulnya mengapa kita harus sadar dan peduli akan dampak buruk kerusakan lingkungan akibat penggunaan BBM yang salah? Coba kita cermati lagi. Betapa masyarakat pada umumnya menilai BBM hanya dari aspek ketersediaan dan harga saja. Mereka tidak melihat dampak buruk kesehatan yang ditimbulkan, padahal itu justru sangat berbahaya bagi alam dan kelangsungan hidup.

Bicara soal alam, kita sering mendengar istilah perubahan iklim (climate change) atau pemanasan global (global warming). Citra Dyah Prastuti selaku jurnalis mengetuk kesadaranku akan istilah yang sangat disukai oleh kelompok “fossil fuel interest” itu.

Apa yang dirasa kurang tepat?

Ternyata selama ini kita terpaku pada kondisi alam saja, padahal ada skenario dari manusia yang menyebabkan perubahan lingkungan tadi! Kita harus sama-sama sadar bahwa ini adalah krisis, yang memberi dampak pada manusia. Maka dari itu kita wajib peduli karena manusia berhak atas udara bersih.

Menurut WWF, emisi yang berasal dari gas buang adalah ulah manusia. Kualitas udara jadi menurun hingga berdampak pada kesehatan manusia, terutama anak-anak. Belum lagi polusi yang menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan akut, penyakit paru-paru, hingga ke jantung. Dan yang lebih menakutkan adalah Indonesia menempati posisi nomor 4 (empat) penghasil emisi gas rumah kaca (2015), sebab kita adalah eksportir terbesar batu bara sampai tahun 2050.

Sungguh miris mengetahui kondisi dimana persoalan energi justru tarik-menarik dengan kepentingan-kepentingan lain. Mereka lupa bahwa jika lingkungan tidak sehat maka orang tidak bisa produktif.

Pandemi Covid-19 dan Krisis Iklim

“Betapapun buruknya pandemi ini, perubahan iklim bisa menjadi lebih buruk. Pandemi dan perubahan iklim adalah krisis global” (Bill Gates – One Green Planet).

Seperti yang dilansir dari One Green Planet, Bill Gates mengatakan bahwa krisis global ini sudah mengejutkan dunia, dan menyebabkan jumlah kematian yang tragis, membuat orang takut meninggalkan rumah, dan membuat kesulitan ekonomi yang tak terlihat di banyak generasi.

Beliau menyoroti betapa pemanasan global akan menyebabkan kematian dan kerusakan. Bahkan pandemi yang membuat banyak perjalanan yang berkurang serta lockdown di sebagian besar wilayah dunia, tak mampu menekan emisi gas rumah kaca. Menurut beliau, virus corona dapat diatasi dengan vaksin, namun krisis iklim membutuhkan banyak perbaikan, fungsi, tindakan, serta perhatian dunia.

Maka dari itu, tak seorang pun yang kebal dari dampak kesehatan akibat krisis iklim. Terbukti berdasarkan laporan Lancet yaitu kematian akibat polusi udara naik menjadi 3 juta pada tahun 2018, dari angka 2,9 juta di tahun 2015.

Polusi udara seringkali diabaikan sebagai faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular dan dianggap masalah yang terpisah dari krisis iklim.

Sulit sekali menumbuhkan kesadaran akan bahaya yang mengancam ini. Sebagai bentuk kepedulian sebaiknya kita beralih ke sumber energi lebih bersih, mulai dari penggunaan zero-carbon energy yang akan menyelamatkan kehidupan dan membuat kita lebih sehat. Dengan begitu kita menghirup udara yang lebih bersih sekaligus mengurangi dampak buruk dari krisis iklim tersebut.

Krisis iklim

Pandemi yang masih berlangsung mengancam kesehatan jiwa secara global, yang diikuti terdampaknya ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Upaya pemulihan Covid-19 adalah bagian dari aksi melawan krisis iklim itu sendiri. Kita bergerak sangat terbatas sehingga mengurangi jumlah kemacetan kendaraan yang berpengaruh pada pengurangan emisi.

Dan dengan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari masalah, maka perlulah kita turut ambil bagian dalam mencari solusi terbaik. Toh kita ingin mengembalikan langit biru lewat gerakan melawan polusi udara dengan menggunakan energi bersih, kan?

Oya, selama webinar berlangsung Olga Lidya dan Banadhi Kurnia Dewi juga memaparkan pengalaman mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ternyata semua bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya seperti tidak membuang-buang makanan, sebab sisa makanan yang busuk menghasilkan gas buruk dan berkontribusi pada lingkungan.

Bapak Dasrul Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK menyebutkan kalau kita bisa mengecek kualitas udara di tiap kota lewat aplikasi ISPU Net di Play Store.

Tadi sore aku coba mengecek kondisi udara di kota Medan pada pukul 4 sore. Hasilnya, kualitas udara tidak sehat, bahkan sampai malam hari. Duh, jadi sedih karena polusi udara belum mendapat perhatian penuh dari kita semua.

***

Polusi udara mungkin belum teratasi. Yang bisa kita lakukan adalah berpartisipasi mendukung gerakan Program Langit Biru dengan menggunakan BBM ramah lingkungan. Yuk kita bersama-sama memperjuangkan masa depan agar dapat menghirup udara bersih yang menjamin keberlangsungan hidup anak cucu kita.

Yuk, silakan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s