Melawat ke Masjid Besar Mataram dan Menyusuri Sudut-sudut Kuno Kotagede

Kunjungan singkatku di Kotagede beberapa tahun lalu tak meninggalkan kesan apa-apa. Yang aku ingat, berdua dengan suami kami hanya mampir ke sebagian toko yang menjual kerajinan perak. Hasilnya, sepasang kalung dengan liontin bergambar Rama dan Shinta, cincin, dan anting-anting mungil kami kantongi sebagai cinderamata khas. Berbeda dengan perjalanan kali ini, aku berniat untuk menikmati jalan-jalan sore di kawasan itu.

Mural di Kotagede Yogyakarta

Dari arah Plaza Ambarukmo aku menumpang taksi online menuju Kotagede. Lama tidak menyambangi Yogyakarta membuat ingatanku jadi memudar. Sepanjang perjalanan aku hanya melepaskan pandangan dari balik kaca mobil tanpa merasa ingat sedikitpun. Apalagi sang pengendara membawa laju kendaraan melalui jalan pintas untuk menghindari macet. Aku pasrah dan menurut saja. Yang penting sampai ke tujuan, pikirku.

Hari memang sudah menjelang sore. Barangkali tak banyak waktu yang bisa dihabiskan di sana. Namun sama sekali tidak menghalangi niatku untuk melangkahkan kaki menyusuri sudut-sudut kuno Kotagede.

“Mas, arah menuju masjidnya ke mana?” aku bertanya sesaat sebelum membayar ongkos taksi online. Aku bingung sebab tidak melihat tanda-tanda apapun.

“Mbak tinggal jalan lurus aja ke depan. Nanti ada jalan masuknya” jelas sang supir ramah.

Aku bergerak pelan ke arah yang dikatakannya tadi. Pancaran sinar matahari sedikit menyulitkan penglihatan untuk menengok ke depan. Cahayanya terasa menyilaukan mata.

Beberapa orang pria terlihat berjalan kaki dari arah berlawanan. Di ujung ada sebuah jalan masuk yang tak terlalu besar. Sepertinya aku sudah sampai di tujuan. Namun aku sedikit heran mengapa si pengendara tadi mengarahkan untuk masuk lewat sana. Padahal ada pintu gerbang berbentuk paduraksa di sisi lain yang menjadi gerbang akses menuju kompleks bangunan. Paduraksa ini seolah menegaskan akulturasi gaya arsitekstur pra Islam yang ada pada masa itu.

Paduraksa di Masjid Gede Mataram

Ada perasaan damai tatkala memasuki halaman Masjid Besar Mataram. Pepohonan yang rindang memberikan rasa teduh dari panasnya sengatan sinar matahari. Halamannya cukup luas dan telah dipasangi conblok dengan paving batu agar tampak lebih rapi.

Komplek Masjid Besar Mataram

Halaman Masjid Besar Mataram

Halaman Masjid Gede Mataram

Masjid Besar Mataram di Kotagede

Akses utama menuju bagian dalam masjid dibatasi tembok rendah dengan dua buah pilar berstruktur bata. Di bagian atasnya terdapat hiasan kaligrafi dan dua angka tahun, yakni 1856 dan 1926. Ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan batas suci dari tempat ibadah.

Sore di Masjid Besar Mataram Kotagede

Serambi Masjid Besar Mataram Kotagede

Serambi masjid ditopang oleh 8 tiang saka. Bentuknya pun tak menyerupai bangunan masjid pada umumnya. Lebih mirip pendopo dan memiliki atap berbentuk limasan.

Masjid Besar Mataram yang berada di Dusun Sayangan RT 04 Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul ini merupakan sebuah kompleks. Letaknya persis di tengah-tengah pemukiman warga serta dikelilingi pagar tembok setinggi 2,5 meter.

Sedikit menyinggung sejarah, pada zaman dahulu Panembahan Senopati memerintahkan untuk membangun masjid hingga selesai pada tahun 1589 Masehi. Lalu di tahun 1919 masjid ini terbakar, kemudian diperbaiki sampai selesai pada tahun 1923.

Sejak pertama kali dibangun, masjid tersebut telah mengalami beberapa kali perbaikan dan pengembangan. Kini bangunan induk, serambi, maupun halamannya tetap terjaga dengan baik.

Halaman depan menuju Komplek Masjid Besar Mataram Kotagede

Masjid Gede Mataram Kotagede

 

Mampir ke kompleks makam Kerajaan Mataram Islam

Aku lanjut berjalan melewati paduraksa di selatan halaman masjid. Di sisi belakang ternyata ada kompleks makam para peletak dasar Kerajaan Mataram Islam, yakni Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Panembahan Hanyakrawati. Sejumlah makam keluarga raja-raja Mataram lainnya juga terdapat di sana, termasuk pula makam Sultan Hamengkubuwono II dan Pangeran Adipati Pakualam I.

Paduraksa menuju Makam Kotagede

Makam Panembahan Senopati di Kotagede

Untuk menuju area makam aku harus melewati setidaknya 3 halaman yang dikelilingi oleh pagar dari batu padas dan bata. Saat melaluinya aku bisa merasakan nuansa khidmat dan sakral dari tempat tersebut.

Suasana halaman komplek makam Raja Mataram Kotagede

Sebuah bangsal di halaman pertama dijadikan tempat bagi para abdi dalem yang berjaga dan bertugas untuk mengurus administrasi peziarah. Kemudian para calon peziarah dapat berganti pakaian khusus di salah satu dari empat bangunan yang tersedia pada halaman kedua untuk selanjutnya menunggu giliran. Perlu diketahui bahwa untuk berziarah terdapat tata tertib dan peraturan yang wajib dipatuhi.

Bangsal para abdi dalem di komplek makam raja Mataram Kotagede

Halaman untuk tempat menunggu para peziarah makam raja Mataram Kotagede

Tata tertib bagi peziarah makam raja Mataram Kotagede

Bagian paling sakral dari tempat ini adalah halaman ketiga dimana terdapat makam raja-raja masa awal Kerajaan Mataram Islam, sebagian raja masa berikutnya beserta kerabat mereka.

Pada kesempatan itu aku memutuskan untuk tidak melakukan ziarah. Cukuplah kiranya hanya mengamati dari bagian luar makam sambil sesekali mengambil foto.

Dengan rasa penasaran aku meneruskan melihat-lihat keadaan sekitar. Di sebelah barat daya pemakaman terdapat Sendang Seliran, yakni Sendang Kakung dan Sendang Putri. Membacanya saja aku bisa menebak bahwa di area ini terdapat dua buah tempat terpisah antara laki-laki dan perempuan. Namun aku belum tau tempat apa yang dimaksud tadi.

Menuju sendang seliran di Kotagede

Paduraksa menuju sendang seliran

Konon dahulu Sendang ini merupakan tempat pemandian keluarga raja Mataram Islam. Sendang Seliran adalah sebuah mata air yang kini dibuat menyerupai sebuah kolam. Airnya tak pernah kering walau memasuki musim kemarau sekalipun.

Menuju sendang seliran Kotagede Yogyakarta

Sendang kakung di Kotagede

Sendang Kakung dan Sendang Putri memiliki kemiripan dari segi bentuk. Hanya saja Sendang Putri dilengkapi penutup, sedangkan Sendang Kakung dibiarkan terbuka. Warga sekitar kompleks memanfaatkan Sendang tersebut sebagai tempat mandi dan mencari keberkahan. Air tanah yang bersih itu dikeramatkan oleh sebagian orang Jawa hingga ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu.

Saat aku berkunjung ke sana, tak terlihat keramaian yang berarti. Hanya ada beberapa pengunjung yang tengah melihat-lihat dan mengambil gambar. Mereka yang mampir ke tempat itu tentu sama penasarannya denganku. Ingin menyaksikan langsung sisa kejayaan kerajaan Mataram kuno yang kini menjadi cagar budaya.

Aku memaknainya sebagai sebuah tempat yang patut dilestarikan bersama. Di sanalah terdapat kepingan sejarah panjang, kebudayaan, maupun ilmu pengetahuan yang menjadi ciri khas suatu bangsa.

 

Menikmati jalan kaki di Kotagede

Bagiku Kotagede yang berjarak 5 kilometer dari pusat kota Yogyakarta punya daya tarik tersendiri yang rugi bila dilewatkan. Selain pernah menjadi pusat kerajinan dan perdagangan, wilayah ini menyimpan keunikan lawas nan menarik hati.

Aku melangkahkan kaki menyusuri trotoar. Kawasan ini agaknya tak banyak berubah. Kondisinya nyaris sama seperti sekian tahun yang lalu. Sebagai kota tua peninggalan kerajaan Mataram Islam, nuansa kuno terasa begitu kental.

Mural di Kotagede

Jalan di Kotagede Yogyakarta

Sepanjang jalan utama banyak dijumpai toko-toko yang menjajakan kerajinan perak khas Kotagede. Begitu pula dengan rumah-rumah tradisional berarsitektur unik.

Rumah tradisional di Kotagede

Sudut-sudut menarik dari Kotagede ideal bila dinikmati sembari berjalan kaki. Aku hanya sempat melewati Pasar Legi tanpa masuk ke dalamnya. Saat merasa kehausan dan singgah di salah satu kedai untuk membeli minuman, aku tak sengaja ikut mendengar percakapan dalam bahasa Jawa.

Sebagai perempuan berdarah Aceh, aku tak paham apa yang mereka obrolkan. Tapi nada suara yang lembut dan raut wajah mereka memancarkan keramahan khas warga Yogyakarta. Senang rasanya.

Usai meninggalkan kedai tadi, perjalanan kembali dilanjutkan. Aku sempat memperlihatkan gambar lokasi sambil bertanya pada beberapa orang yang kutemui di jalan.

“Oh, Mbak jalan sekitar 200 meter lagi. Nanti kalau lihat Warung Kipo Bu Djito di sebelah kanan, Mbak masuk ke lorong kecil di seberang warung” terang si Ibu.

Baiklah, sepertinya aku harus menemukan warung tadi terlebih dahulu. Dan jujur, aku tak pernah menyantap kipo sebelumnya!

Aku percaya dalam setiap tujuan perjalanan kita kerapkali menemukan sesuatu yang menarik. Seperti lokasi Masjid Perak yang kudapati secara tidak sengaja.

Masjid Perak Kotagede Yogyakarta

Masjid ini didirikan pada tahun 1937 oleh Kyai Amir dan H.Masyhudi. Ia berada di dalam kompleks SMA Muhammadiyah sehingga posisinya sedikit tersembunyi. Pembangunan Masjid Perak diperuntukkan sebagai wadah pertumbuhan umat Islam yang berkembang cukup pesat di Kotagede sejak 1910 lewat hadirnya organisasi Muhammadiyah. Dan nama Perak menjadi sebuah representasi kekuatan kerajinan perak kala itu.

 

Omah Kalang di Kotagede

Ayunan langkah kakiku terhenti di dekat warung kipo, tepat di ujung lorong yang dimaksud. Aku melongokkan kepala sedikit untuk memastikan agar tak salah masuk. Dan benar sekali, bangunan antik bercat hijau muda berada tepat di mulut lorong.

Suasana di jalan Kotagede

Warung Kipo Bu Djito Kotagede

Omah Kalang milik Rudy Pesik

Omah Kalang, begitu warga Kotagede menyebutkannya, adalah jenis hunian yang dimiliki oleh orang-orang Kalang. Mereka termasuk golongan saudagar yang berasal dari Jawa Timur dan Bali. Orang Kalang konon memiliki keahlian dalam mengukir emas dan kayu, sehingga mereka berpindah ke Kotagede saat Mataram melakukan pembangunan waktu itu.

Sebuah rumah Kalang yang populer di Kotagede adalah milik Rudy Pesik. Bangunan kuno itu awalnya milik warga sana, lalu kemudian dibeli oleh pasangan Amerika-Indonesia. Selanjutnya kepemilikan berpindah pada Rudy Pesik.

Arsitektur Omah Kalang sangat kental dengan nuansa tradisional Jawa dengan sentuhan akhir modern ala Barat. Sebagai rumah kuno yang mempunyai banyak peninggalan berupa barang-barang antik, hingga kini kondisinya tetap terjaga dengan baik. Tak sembarang orang boleh masuk dan menginap di sana.

Pintu di Omah Kalang Kotagede

Di depan Omah Kalang miik Rudy Pesik

Aku surprised saat melihat sebuah prasasti di salah satu dinding luar rumahnya. Ternyata Presiden Polandia di masa pemerintahannya tahun 1990 hingga 1995 yakni HE.Lech Walesa pernah menginap di rumah tersebut pada bulan Mei tahun 2010 silam!

Prasasti di Omah Kalang Kotagede

Mampir dan menengok Kotagede di sore hari memberiku sebuah pengalaman baru. Aku mengakhiri perjalanan sembari bersyukur kepada semesta yang membawaku ke sini.

Seiring perubahan zaman, kawasan bernilai historis tinggi itu mungkin akan terus berbenah. Namun ia tak pernah menanggalkan keasliannya. Sesuatu yang melekat dan memberikan kesan damai di dalam hati. Semoga pada lain kesempatan aku masih bisa menyambanginya lagi.

Suasana lorong di Omah Kalang Kotagede

 

 

 

 

 

 

19 thoughts on “Melawat ke Masjid Besar Mataram dan Menyusuri Sudut-sudut Kuno Kotagede

  1. Sempat salat di sana dan takjub dengan bangunan masjidnya yang (secara garis besar) masih nampak alami dengan gaya yang khas. Dulu pas ke sana sempet liat ada yang foto prewedding di bagian sampingnya. Aaaa aku baper.

    Like

    • Betul Kak, masjidnya masih seperti aslinya walau sudah pernah diperbaiki dan penambahan di bagian belakang. Bentuknya juga unik. Dan sepertinya lokasi dekat paduraksa makam raja dijadikan tempat orang foto-foto ya. Eh siapa tau nanti Kak Yan bisa foto prewed juga di sana. Ehm😀

      Like

  2. Aku belum pernah sampai kesini kak, sejauh ini yang kuingat dari pelajaran sejarah masa SD tentang Mataram. Membaca tulisan dan melihat foto-foto perjalanan kakak mengingatkanku pelajaran yang diajarkan oleh guru pada masa kecil. Rasanya aku pun ingin mengunjungi KotaGede dan melihat langsung mesjid besar nya serta menikmati aura tradisionalnya.

    Like

    • Blusukan ke Kotagede memang asik, Rin. Pinginnya bisa lebih banyak eksplor lagi. Cuma waktu itu udah keburu hampir maghrib. Kalau suka wisata heritage, Kotagede bisa jadi pilihan. Apalagi ada Masjid Besar yang khas itu☺.

      Like

  3. Kipo nya ga jd coba mba? Penasaran seperti apa 🙂

    Mesjid yg mataram itu ingetin aku ama mesjid menara kudus yg bentukna juga terpengaruh banget ama budaya hindu. Sbnrnya aku seneng kalo wisata tempat ibadah gini, tp kalo yg di kudus sana agak ga nyaman krn rameee skali. Jd sakral momennya ga dapet 😦 . Yg di sini sepertinya lbh sepian ya.

    Like

    • Kedai kiponya udah mau tutup waktu itu dan aku udah kesorean, Mba. Jadi ngga sempet icip. Makam Imogiri di waktu tertentu kabarnya juga ramai dikunjungi wisatawan. Apalagi kalau ada perayaan khusus barangkali, ya.

      Like

  4. Aku malah belum pernah ke Masjid Mataram, kalo ke Jogja paling ke pantai atau seputaran kraton sama Malioboro, hihi.
    Kak Mollyta, kapan2 dolan ke Semarang ya *boleh colek aku, ntar kuajak keliling Semarang

    Like

    • Kalau gitu kapan dolan ke Yogya mampir ke Kotagede nya, deh. Asik! Oya, aku udah lama pingin banget ke Semarang, Mba Ika. Tapi belum jadi-jadi juga huhuhu🙁. Kalau satu saat ke sana, aku pasti kontak. Sekalian silaturrahim dan syukur-syukur diajak jalan hihi😀

      Like

  5. Baru tau loh mbak ada tempat ini di jogja padahal dulu pernah beberapa bulan tinggal di jogja duaduh aku kemana aja sih hehehe. Langsung di noted buat bucket list kalo pas berkesempatan ke jogja di lain waktu. Terimakasih ya mbak, fotonya bagus bagus banget, jadi makin pengen kesana hehee 😀

    Like

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s