Nostalgia Rasa di Malioboro dan Candi Prambanan, Yogyakarta

Bagi para penikmat sejarah dan wisata budaya, kota Yogyakarta menjadi salah satu tujuan yang tepat. Berkelana di kota itu ibarat menemukan sudut-sudut klasik yang punya daya tarik tersendiri. Bagiku, Yogyakarta adalah kota yang tak hanya menawarkan pilihan destinasi melancong cantik, melainkan setumpuk ingatan yang ingin aku munculkan lagi.

Jalan Malioboro Yogyakarta

Usai beristirahat sejenak dan makan di The House of Raminten yang berdekatan dengan hotel tempatku menginap, aku mencoba untuk berjalan kaki ke daerah Malioboro. Aku terus meyakinkan diri tidak menempuh arah yang salah. Maklum, aku nyaris seperti bermusuhan dengan kota ini saking lamanya tak mampir ke sana.

Langit mulai gelap saat kakiku menyusuri jalan sekitar Pasar Kembang. Gila, aku benar-benar hampir lupa dengan lokasi ini! Padahal sekian tahun yang lalu rasa-rasanya cukup sering aku melintas di jalan itu. Perlahan perasaanku mulai campur aduk, walau penasarannya masih dominan.

Kepadatan lalu lintas di tengah kota memang tak kenal ampun. Padahal ini bukan akhir pekan. Dan setelah berjalan hampir satu kilometer, aku tiba di ujung jalan Malioboro.

Malam di Malioboro kerap menawarkan kemeriahan khas. Hiruk-pikuk yang hanya bisa ditemui di sini. Orang-orang memenuhi setiap jengkal jalan tanpa kecuali. Ah, Malioboro memang tak pernah berubah, ya. Bahkan kini terlihat semakin ramai dan semarak.

di jalan Malioboro Yogyakarta

Pemerintah kota Yogyakarta menawarkan kenyamanan bagi para pejalan kaki dengan melebarkan jalur pedestrian sepanjang jalan Malioboro. Bahkan terdapat jalur khusus bagi penyandang disabilitas.

Jalur pedestrian dan khusus bagi penyandang disabilitas di Malioboro

Bangku-bangku yang terbuat dari kayu maupun berbentuk batu tersedia dalam jumlah banyak. Aku tak tau persis sejak kapan perubahan tersebut terjadi. Selain wajah baru tadi, semua tampak sama seperti sekian tahun yang lalu.

Malam di Malioboro

Mungkin ratusan pasang mata asik menikmati hiburan yang tersaji di sana. Ada beragam atraksi musik yang disajikan musisi jalanan dan menyedot perhatian banyak pengunjung.

Walau riuh bukan kepalang, namun aku masih bisa meresapinya dengan baik. Dan sesekali mendengar celoteh warga yang berbahasa Jawa membuatku sadar penuh bahwa saat ini aku berada di pusat keramaian kota Yogyakarta!

Delman di sepanjang Malioboro

Perutku masih kenyang hingga nyaris tidak ada keinginan untuk jajan sama sekali. Aku hanya terus berjalan sambil sesekali mengamati aneka tingkah polah manusia.

Kebanyakan mereka datang bersama teman-teman dan pasangan. Mulai dari yang sekadar melihat-lihat, berbelanja, hingga asik berswafoto. Sungguhlah Malioboro menjadi satu-satunya pilihan tempat untuk menghabiskan malam panjang.

Para penjual kuliner yang tumpah ruah di sepanjang area menjanjikan perut bebas lapar. Mulai dari makanan tradisional hingga jajanan kekinian ikut meramaikan.

Kopi Keliling di Malioboro Yogyakarta

Di hampir setiap ruas jalan rasanya ada kenangan yang mampir di ingatan. Betapa dulu aku pernah sangat sering mengunjungi tempat ini sewaktu kuliah, padahal aku mengecap pendidikan di kota Bandung. Duduk lesehan sambil menikmati hidangan maupun keluar-masuk pusat perbelanjaan Malioboro Mall dan toko-toko di sana. Juga menyusuri jalan di sekitarnya seperti Sosrowijayan dan Dagen.

Malioboro masih menggeliat hingga akhirnya satu-persatu pulang untuk beristirahat. Kreativitas orang-orang di sana terhenti sejenak untuk dilanjutkan kembali esok hari.

Mengunjungi Malioboro ibarat membaca sebuah novel romansa. Dibaca berulang-ulang tetap tak membosankan. Bahkan debarnya membuat hasrat ingin selalu mengalaminya lagi. Seperti malam itu, aku membiarkan diri larut dalam keramaian yang membuat rindu.

Menengok Candi Prambanan

Keesokannya aku terbangun sedikit telat. Kasur hotel sudah membuatku tidur dengan nyenyak. Sebetulnya hari ini ada beberapa tempat yang ingin kusambangi. Sambil menghabiskan sarapan di Lime Restaurant favehotel Malioboro, aku menyusun rencana dadakan.

Baca juga : [Review] favehotel Malioboro Yogyakarta : Budget Hotel dengan Lokasi yang Strategis

Untuk menghemat waktu, aku menumpang taksi online dan membayar sebesar Rp 43.000 menuju lokasi Candi Prambanan. Tidak menumpang Trans Jogja seperti dulu waktu aku berdua bersama suami ke sana beberapa tahun lalu. Seperti halnya Malioboro kemarin, ini juga bukan kunjungan perdanaku ke tempat tersebut. Tapi lagi-lagi aku cuma mau bernostalgia.

“Mas, nanti kalau saya mau kembali ke kota bisa pesan taksi online dari lokasi, kan?” aku bertanya pada driver untuk memastikan.

“Oh bisa, Bu. Di sana ada pos GRAB di dekat pintu keluarnya. Nanti Ibu tinggal pesan aja”, terangnya dengan ramah.

Tak sampai satu jam, mobil pun tiba di lokasi. Sebagai salah satu destinasi yang menjadi magnet kunjungan wisata, tempat seperti ini nyaris tak pernah sepi. Aku mengunjungi tempat itu terakhir kali pada bulan Oktober 2010 lalu, tepat satu hari sebelum gunung Merapi erupsi. Ternyata sudah lama sekali, ya.

Loket pembelian tiket masuk kini terlihat lebih rapi. Pengunjung bisa memilih apakah ingin membeli tiket terusan menuju lokasi Candi Ratu Boko atau tidak.

Selain karena sudah pernah menyambangi lokasi candi Ratu Boko dan berencana akan ke tempat lain, aku hanya membeli tiket masuk lokasi Candi Prambanan seharga Rp 40.000.

Berada di kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi membuatku kembali membongkar memori. Satu hal yang masih tetap sama adalah terik matahari yang sungguh menyengat. Hahaha. Untuk itulah aku tak ragu menyewa payung seharga Rp 10.000 supaya sedikit terlindungi.

Menuju candi Prambanan

Tangga langit di kompleks candi Prambanan

Sebagai kawasan yang memiliki pemandangan sunrise terindah, tentu aku kehilangan momen menyaksikan matahari terbit yang sangat cantik di sana. Semburat warna jingga yang menyinari ratusan bangunan yang ada di sekitar candi pasti menjadi pemandangan sangat memukau.

Walau tersedia kereta taman berbiaya Rp 10.000 yang membawa pengunjung berkeliling kompleks sekaligus menyaksikan Candi Sewu, Candi Lumbung, dan Candi Bubrah, aku memilih untuk berjalan kaki saja. Selain itu ada juga sepeda yang dapat disewa oleh pengunjung yang ingin keliling lebih bebas.

Candi Prambanan yang melegenda

Antusiasme pengunjung lokal maupun mancanegara begitu terlihat. Mereka seolah tak menghiraukan panasnya sengatan sinar matahari. Padahal waktu itu tengah terik sekali. Aku saja merasa kegerahan dan sangat haus.

Urung menaiki anak tangga candi satu persatu, aku memutuskan hanya mengabadikan keindahannya dari jauh. Bisa menyaksikan lagi kemegahan candi yang menjulang setinggi 47 meter dan berhasil memikat mata dunia itu sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Bangga rasanya memiliki peninggalan bersejarah yang termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO.

Relief candi Prambanan

Kompleks candi Prambanan

Menikmati wisata di candi Prambanan Yogyakarta

Pohon rindang di kompleks candi Prambanan

Keindahan Candi Prambanan di Yogyakarta

Megahnya candi Prambanan di Yogyakarta

Relief-relief yang terdapat di kompleks Candi Prambanan saling bersambungan membentuk sebuah kisah dan menyingkap kehidupan yang ada di masa lalu. Membuat masyarakat mengenali suatu bangsa lewat maha karya yang masih terawat sampai kini. Sebuah bangunan bersejarah dapat menjadi sumber ide untuk menggali identitas serta sejarah peradaban dari suatu bangsa.

Aku senang sudah mampir untuk yang ke sekian kali. Setidaknya kenangan pergi ke sana bersama orang tua, teman, pasangan, dan kini sendiri, akan selalu tersimpan di dalam ingatan.

***

Berwisata tak ubahnya seperti menghidupkan kembali imajinasi yang terpendam. Aku tak pernah bosan datang ke tempat yang sama seperti kawasan Malioboro dan kompleks Candi Prambanan ini.

Keinginan untuk merasakan momen berbeda itulah yang acapkali membuat hati rindu akan tempat-tempat yang pernah aku singgahi. Meski sudah berulang kali tapi ternyata sulit untuk mengabaikan rasa yang muncul. Jika memang tersedia waktu dan kesempatan, mengapa tidak menyambanginya, kan?

Teman-teman pasti punya tempat/kota yang kerap disinggahi karena rindu. Sharing, yuk.

39 thoughts on “Nostalgia Rasa di Malioboro dan Candi Prambanan, Yogyakarta

  1. Jogja itu memang kota yg sukar dilupa..

    Aku baru aja mulai menulis ttg jalan2 di Jogja, Prambanan, Solo dan Borobudur. Masih tersimpan di laptop..

    View dan spot di prambanan itu sama persis yg aku photo lho..

    Semoga tahun ini bisa balik lagi ke Jogja..amin

    Like

  2. Aku juga gak pernah bosan ke Jogja mba, terutama ke Prambanan.. Dari kecil sampai udah gede gini udah berkali-kali ke sana.. 😀 Walaupun panasnya ampuuun banget ya mba Molly, tapi gak masalah.. Hihi.. Prambanan cantik banget menurutku di tiap detailnya.. Ke Boko aku malah belum pernah, nih.. Pingiiin ke Jogja lagi.. 😀

    Like

    • Iya kenapa yah, Yogya itu kayak ada magnetnya😂. Sayangnya jauh dari Medan. Coba deket, pasti bisa lebih sering ke sana. Panas di Prambanan selalu bikin lemes, Mba😥. Bawaan haus mulu. Wah next harus mampir ke Ratu Boko. Sunsetnya cantik parah😍

      Like

  3. Kak aku jadi kangen berat ni ama Jogja setelah baca postinganmu. 2tahun kuliah disana jd banyak kenangan disana.
    Duduk santai di Malioboro sore2 sambil lihat orang lalu lalang, sepele tp ngangenin hehe

    Like

    • Nah apalagi kalau pernah kuliah di sana, pasti kangen minta ampun sama Yogya, Muna😀. Yang receh itu biasanya memang bikin pingin balik dan bernostalgia ya, kan. Hahaha. Ayo dolan ke Yogya, deket kan dari Semarang. Aku nih yang kejauhan huhuhu😣

      Like

  4. Danau Toba, sudah pasti dalam urutan pertama, menyusul kota kelahiran Siantar dengan roti Ganda dan kopi Kok Tung fenomenal, rasanya aku tak akan pernah jenuh berkunjung ke sana.
    Iya, meski sudah berulang, petualangan yang aku dapatkan, selalu saja baru, tak pernah ada yang percis sama.

    Sepertinya kita harus bertemu nih di Medan… biar semakin pecah… ^^

    Like

  5. Jogja emang ngangenin apalagi Malioboro
    apalagi sekarang pedestriannya ditata banget ya mabk
    bergeser dikit dari prambanan ada banyak candi kecil mbak yg gak kalah asyik
    klo malam, kadang aku suka ke selatan, Pelngkung gading sama panggung krapyak
    asyik sih

    Liked by 1 person

    • Betul, liat pedestrian di Malioboro yang lebar dan rapi rasanya betah. Aku masih pingin ke Jogja lagi, entah kapan. Semoga bisa eksplor lebih jauh dan mampir ke destinasi yang disebutin di atas, ya😀

      Like

  6. Ini candi padahal ga jauh2 amat dari solo, tp sampe skr aku cm ngelewatin doang :D. Blm sempet2 mau singgah beneran. Kalo menurutku sih yaaa, bbrp negara lain juga punya candi,tapi ttp sih, yg megah dan bangunanya bagus itu candi2 di indonesia. Makanya pas ke siam rep aku ga tertarik ke angkor wat. Sampe resepsionisnya heran. Dalam hati aku bilang, udh pernah liat candi prambanan dan borobudur di indonesia ga sih :p. Bagusan itu kemana2 kali hahahaha..

    Like

    • Iya Mba letaknya juga di tepi jalan utama dan mudah aksesnya. Kapan-kapan kudu disinggahi deh, biar afdol😀. Kalau soal candi memang Indonesia udah yang terbaik menurutku juga. Borobudur itu luar biasa indahnya. Kita ke negara lain buat lihat candi mereka mungkin lebih ke nambah wawasan aja, ya😊.

      Like

  7. Ini memang tempat nostalgia ya kan kak, mengingat kenangan pun merasa damai gitu. Dulu ke Jogja jaman kuliahan terus pas uda tamat jadi terkenang duduk-duduk di Maliboro. Foto-foto nya kakak juga keren sekaleee.

    Like

    • Thanks, Rin. Memang paling pas bernostalgia di Yogya karena banyak pengalaman dan kenangannya😀. Sampai kapanpun kota ini memang kayak manggil-manggil buat didatangin😊

      Like

  8. sebelum menikah, yogyakarta hanya sebuah nama yang sesekali terlintas di telinga. setelah menikah, yogyakarta menjadi istimewa, sebab istri saya orang sana. “kapan ke jogja lagi?” begitu sapaan yang tertulis di dinding, kaus, gapura, dan kaca belakang mobil-mobil, membuat kita tercenung, “iya, kapan ya?” padahal, meninggalkan kota itu aja belum 🙂

    Like

    • Yogyakarta itu seperti magnet, ya. Siapa aja yang pernah ke sana kayak terpanggil lagi untuk datang. Bagi penduduk yang tinggal di sana mungkin merasa homey. Sampai rasanya betah dan enggan berpindah tempat, ya😊.

      Liked by 1 person

      • betul. temen-temen kantor yang harus balik ke jakarta setelah libur lebaran kemarin sampai mosting tulisan yang menurutku ‘dalem’ maknanya, yang nggak pernah ditulis teman lain yang berasal dari kota yang berbeda, “aku tak ngulon sek yo! (aku ke barat dulu ya!)”

        Like

          • ow medan ya 🙂 ya sih, jauh hehehe … btw, jogja isnt only those touristy destinations ya. coba deh blusukan ke kampung-kampung atau desa-desa. di kulonprogo tuh banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan rasakan. nginep di rumah salah satu warganya, beuh …

            Like

            • Bener Mas, jauh banget😊. Tapi aku senang tiap kunjungan ke Yogya. Dan betul, blusukan ke pinggiran atau desa-desanya bakal membawa pulang cerita lain. Next kalau ke Yogya lagi semoga bisa terwujud. Aamiin.

              Liked by 1 person

Yuk, silahkan berkomentar disini. DILARANG meninggalkan link hidup di kolom komentar.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s